Dokter Forensik: Luka Tembak Mantan Istri Polisi di Medan Berkarakter Tempel

- Dokter forensik menyatakan luka pada kepala W memiliki karakteristik luka tembak tempel.
- Pemeriksaan forensik menyebut lebam dan jahitan pada tubuh W tidak menunjukkan tanda kekerasan.
- Residu tembakan ditemukan pada tubuh serta pakaian W, sedangkan Brigadir I dinyatakan negatif.
Medan, IDN Times – Kematian W (30), mantan istri anggota polisi Brigadir I, di sebuah rumah di Kota Medan pada Minggu (2/8/2026) masih menjadi perhatian. W meninggal setelah peluru dari pistol milik Brigadir I diduga menembus kepalanya.
Pihak keluarga belum menerima jika kematian itu disebabkan bunuh diri. Lantaran, ada sejumlah luka di tubuh korban. Mereka menduga kematian ini cukup janggal.
Di tengah keraguan keluarga yang mempertanyakan sejumlah luka pada tubuh W, dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan membeberkan hasil pemeriksaan terhadap jenazah korban.
Dokter Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Mistar Ritonga, menyebut luka tembak yang ditemukan pada tubuh W memiliki karakteristik luka tembak tempel. Sementara itu, pemeriksaan laboratorium forensik menemukan jejak residu tembakan pada tubuh dan pakaian korban, sedangkan Brigadir I dinyatakan negatif.
1. Dokter sebut pistol ditempelkan ke kepala W

Mistar mengatakan, berdasarkan pemeriksaan langsung terhadap jenazah, terdapat empat kategori ciri luka tembak, yakni luka tembak tempel, sangat dekat, dekat, dan jauh. Dalam kasus W, ciri yang ditemukan masuk kategori luka tembak tempel.
"Berdasarkan keilmuan dan hasil pemeriksaan kami secara langsung kepada korban, itu kami jumpai ciri-ciri luka tembaknya adalah luka tembak tempel. Artinya, ujung pistol ditempelkan di kepala. Berarti senjatanya menempel ke kulit," kata Mistar kepada awak media, Kamis (6/8/2026).
Mistar juga menjelaskan mengapa proyektil tidak menembus kepala W. Menurutnya, peluru kehilangan tenaga setelah melewati bagian-bagian keras di dalam kepala korban.
"Dari luka tembak masuk yang di sebelah kanan, dia menelusuri dasar tengkorak kepalanya itu sampai retak," ujarnya.
"Baru dia menembus ke sebelah kiri. Jadi, tenaganya itu tidak kuat lagi untuk menembus sehingga terhenti di bawah kulit," tuturnya.
2. Forensik bantah ada tanda penganiayaan pada tubuh W

Sebelumnya, keluarga W mempertanyakan sejumlah kondisi pada tubuh korban. Ayah W, SG (56), bahkan menduga anaknya tidak meninggal karena bunuh diri. Lantaran ada sejumlah luka di tubuh W.
Namun, Mistar membantah adanya tanda kekerasan pada tubuh W berdasarkan pemeriksaan forensik. Ia mengatakan lebam pada leher bukan akibat cekikan, melainkan perubahan fisiologis yang berkaitan dengan luka tembak.
"Kalau mata lebam secara fisiologis bukan oleh karena kekerasan. Yang terjadi seperti kita ketahui bahwa luka tembaknya itu berjalan ataupun menelusuri juga di dasar tengkoraknya. Di sana, ada pembuluh darah yang disebut dengan sirkulus willisi, yang mempunyai tiga percabangan, salah satunya mendarahi ke kelopak mata. Jadi, kalau dia pecah terjadi hematom namanya. Itu istilahnya lebih khas dia hematom kacamata," sambungnya.
Mistar turut menjelaskan keberadaan jahitan di bagian bawah dagu W. Menurutnya, jahitan tersebut merupakan bagian dari proses autopsi yang dilakukan secara menyeluruh.
"Bukan hanya leher, kepala juga. Jadi, kami buka dari insisi sampai simfisis, atau perut bawahnya. Sesudah itu, kami keluarkan organ, diperiksa semua, baru kami jahit kembali," sebutnya.
Adapun lebam pada punggung kaki dan beberapa jari tangan W disebut sebagai lebam mayat.
"Lebam mayat itu ialah penumpukan cairan darah di posisi tubuh. Jadi, itu fisiologis, berbeda nanti dia lebamnya itu oleh karena kekerasan. Memang warnanya sama karena yang terlihat itu sama-sama warna darah atau hemoglobinnya," tandasnya.
3. Jejak tembakan ditemukan pada W, Brigadir I negatif

Kepala Bidang Laboratorium Forensik Polda Sumatera Utara, Kombes Rio Nababan, mengatakan pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap orang, pakaian, dan senjata api yang berkaitan dengan kasus tersebut. Pemeriksaan terhadap orang dilakukan terhadap W dan Brigadir I dengan metode swab untuk mencari Gunshot Residue (GSR) atau jejak tembakan.
"Tujuannya untuk mencari Gunshot Residue atau GSR. Istilah awamnya, jejak tembakan," kata Rio.
Hasilnya, Brigadir I dinyatakan tidak memiliki jejak tembakan pada tubuh maupun pakaiannya. Sebaliknya, jejak GSR ditemukan pada tangan kanan dan sekitar leher W, sementara pada pakaian korban jejak paling banyak ditemukan di bagian pundak kanan.
"Hasil swab untuk I, kami nyatakan negatif. Tidak ada jejak tembakan sama sekali di tubuhnya. Untuk korban ada jejak di tangan sebelah kanan dan sekitar leher," sambungnya.
Rio juga memastikan senjata api yang diperiksa merupakan revolver kaliber 38. Penyidik kemudian membandingkan proyektil yang ditemukan di tubuh W dengan senjata serta amunisi yang tersisa di dalam chamber.
"Hasilnya identik bahwa proyektil yang ada di dalam tubuh korban tersebut berasal dari senjata yang diperiksakan oleh penyidik," tandasnya.
Sebelumnya, W ditemukan tewas di kamar mandi rumah mantan suaminya, Brigadir I, di Kota Medan pada Minggu (2/8/2026). Kapolrestabes Medan Kombes Calvijn Simanjuntak menyebut hasil penyelidikan sementara mengarah pada dugaan bunuh diri.
Menurut Calvijn, W saat itu berada di satu kamar bersama Brigadir I dan anaknya, M (9). Brigadir I sempat keluar kamar dan ketika kembali mendapati tasnya terbuka. Di dalam tas tersebut terdapat senjata api.
"Setelah itu, saksi I melihat tasnya sudah terbuka. Di dalamnya ada senjata api," ucap Calvijn kepada awak media, Selasa (4/8/2026).
Brigadir I kemudian mengetahui senjata apinya sudah tidak berada di dalam tas. W diketahui berada di kamar mandi. Upaya untuk mencegah W dilakukan dengan berkomunikasi dari luar kamar mandi. Anak W juga beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tidak mendapat respons.
"Terakhir ada ucapan dari korban, maafkan saya. Setelah ucapan itu, dari dalam kamar mandi terdengar suara letusan satu kali," ucapnya.
Setelah kejadian, tim Inafis melakukan olah tempat kejadian perkara dan menemukan revolver di dalam kamar mandi. Pemeriksaan laboratorium forensik dan autopsi kemudian menemukan residu tembakan pada jari tangan, badan, dan pakaian W. Meski demikian, Calvijn mengatakan penyidik masih mendalami motif yang melatarbelakangi kematian W.



















