Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Fakta Hungry Ghost di Medan, Asal-Usul, Tujuan Hingga Pantangannya

Kota Medan
6 min read
6 Fakta Hungry Ghost di Medan, Asal-Usul, Tujuan Hingga Pantangannya
Vihara Gunung Timur gelar Hungry Ghost Festival (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Hungry Ghost Festival di Medan merupakan tradisi Tionghoa yang dipengaruhi kepercayaan rakyat, Buddhisme, dan Taoisme, untuk menghormati leluhur serta arwah tanpa keluarga.
  • Ritualnya meliputi doa, persembahan makanan, dupa, kertas sembahyang, dan pembakaran replika benda; di beberapa komunitas, sesaji kemudian diperebutkan masyarakat.
  • Festival berlangsung pada bulan ketujuh kalender lunar dengan puncak tanggal 15; pelaksanaan dan pantangan berbeda antarwilayah, keluarga, vihara, serta komunitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Suasana di sejumlah vihara di Medan bisa terlihat berbeda ketika memasuki bulan ketujuh kalender lunar Tionghoa. Ada persembahan makanan, kertas sembahyang, dupa, hingga prosesi pembakaran yang menjadi bagian dari Hungry Ghost Festival atau Festival Hantu Lapar. Di Medan, salah satu perayaan yang dikenal luas berlangsung di Vihara Gunung Timur dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa setempat.

Meski namanya terdengar menyeramkan, festival ini sebenarnya memiliki makna yang erat dengan penghormatan kepada leluhur dan kepedulian terhadap arwah yang dipercaya tidak memiliki keluarga untuk memberikan persembahan. Lantas, dari mana tradisi ini berasal dan apa saja rangkaian kegiatannya? Berikut 6 Fakta Festival Hungry Ghost yang orang awam gak tahu. Yuk simak.

  1. 1.Berawal dari tradisi tionghoa dan pengaruh buddha serta taoisme

    illustrasi vihara
    illustrasi vihara (pexels.com/Lin.)

    Hungry Ghost Festival dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai Zhongyuan Jie dan di Indonesia sering disebut Sembahyang Rebutan atau Sembahyang Cioko. Tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa pada bulan ketujuh kalender lunar, batas antara dunia manusia dan alam arwah menjadi lebih terbuka sehingga roh leluhur maupun roh yang tidak memiliki keturunan dipercaya dapat kembali ke dunia manusia.

    Asal-usulnya tidak hanya berasal dari satu tradisi keagamaan, tetapi merupakan perpaduan antara kepercayaan rakyat Tiongkok, Taoisme, dan Buddhisme. Dalam tradisi Buddhis, perayaan ini memiliki kaitan dengan kisah Mulian atau Maudgalyayana yang memberikan persembahan kepada para biksu untuk membantu ibunya yang dipercaya mengalami penderitaan setelah meninggal. Sementara dalam Taoisme, hari ke-15 bulan ketujuh dikaitkan dengan Di Guan atau Pejabat Bumi yang dipercaya memiliki peran dalam memberikan pengampunan.

    Tradisi tersebut kemudian berkembang dan memiliki bentuk yang beragam sesuai komunitas masing-masing. Di Indonesia, termasuk Medan, Hungry Ghost Festival berkembang menjadi ritual penghormatan kepada leluhur sekaligus persembahan bagi arwah yang dianggap tidak memiliki keluarga. Di Vihara Gunung Timur Medan, tradisi ini bahkan telah menjadi kegiatan tahunan yang menurut laporan lokal sudah dilakukan sejak sekitar 1970-an.

  2. 2.Bentuk tradisinya identik dengan persembahan dan kertas sembahyang

    Vihara Gunung Timur gelar Hungry Ghost Festival (IDN Times/Indah Permata Sari)
    Vihara Gunung Timur gelar Hungry Ghost Festival (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Salah satu hal unik dari festival ini adalah ritual pembakaran yang dilakukan setelah prosesi doa. Kertas sembahyang atau joss paper dapat dibakar sebagai bagian dari ritual. Dalam beberapa perayaan di Medan, pembakaran juga dilakukan terhadap replika benda seperti rumah, kapal, atau mobil yang telah disiapkan sebelumnya.

    Prosesi dilakukan dengan diiringi bunyi gong atau musik tradisional. Benda-benda tersebut merupakan simbol yang digunakan dalam ritual berdasarkan kepercayaan masyarakat. Prosesi tersebut dipercaya menjadi bekal spiritual bagi arwah yang kelaparan dan haus akan keserakahan.

  3. 3.Tujuannya untuk menghormati leluhur dan menenangkan arwah

    illustrasi ritual sembahyang menghormati leluhur
    illustrasi ritual sembahyang menghormati leluhur (pexels.com/Mehmet Turgut Kirkgoz)

    Tujuan utama Hungry Ghost Festival adalah memberikan penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, terutama leluhur, orang tua, dan anggota keluarga. Masyarakat yang menjalankannya percaya bahwa memberikan doa dan persembahan merupakan salah satu bentuk bakti kepada mereka yang telah berpulang. Karena itu, festival ini tidak hanya berkaitan dengan cerita tentang "hantu lapar", tetapi juga memiliki nilai kekeluargaan yang kuat.

    Persembahan juga ditujukan kepada roh-roh yang dipercaya tidak mempunyai keluarga atau keturunan yang memberikan penghormatan kepada mereka. Dengan memberikan makanan dan persembahan, masyarakat berharap arwah tersebut tidak mengalami kelaparan dan dapat memperoleh ketenangan. Dalam beberapa komunitas, ritual ini juga dipercaya sebagai bentuk usaha untuk menghindari gangguan atau musibah yang dikaitkan dengan arwah.

  4. 4. Kapan hungry ghost festival dilaksanakan?

    Vihara Gunung Timur gelar Hungry Ghost Festival (IDN Times/Indah Permata Sari)
    Vihara Gunung Timur gelar Hungry Ghost Festival (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Hungry Ghost Festival berlangsung pada bulan ketujuh kalender lunar Tionghoa, yang dalam tradisi populer sering disebut sebagai "Bulan Hantu". Puncak perayaannya umumnya berlangsung pada tanggal 15 bulan ketujuh kalender lunar, yang dikenal sebagai Zhongyuan Jie. Karena menggunakan kalender lunar, tanggalnya dalam kalender Masehi berubah setiap tahun.

    Di Medan, perayaan ini menjadi agenda tahunan yang dapat disaksikan di Vihara Gunung Timur, Jalan Hang Tuah, Medan Polonia. Pada 2026, perayaan Hungry Ghost Festival di vihara tersebut berlangsung pada 27 Agustus 2026, dengan ratusan pengunjung yang hadir, termasuk masyarakat dari luar daerah dan mancanegara.

    Meski puncaknya berada pada tanggal tertentu, rangkaian kegiatan dapat berlangsung dalam periode bulan ketujuh lunar. Bentuk dan waktu ritual juga tidak selalu sama karena setiap keluarga, vihara, maupun komunitas dapat memiliki tata cara masing-masing. Jadi, penting melihat Hungry Ghost Festival sebagai tradisi yang memiliki variasi pelaksanaan, bukan sebagai satu ritual yang memiliki aturan seragam di semua tempat.

  5. 5. Bagaimana tradisi hungry ghost dilaksanakan?

    illustrasi melakukan persembahan makanan
    illustrasi melakukan persembahan makanan (pexels.com/龜龜俠 楊)

    Ada pula tradisi yang dikenal sebagai Sembahyang Rebutan, ketika makanan atau sesaji yang telah dipersembahkan kemudian diambil atau diperebutkan masyarakat setelah ritual selesai. Istilah "rebutan" inilah yang membuat perayaan tersebut terlihat cukup ramai dan unik, meskipun bentuk pelaksanaannya dapat berbeda antara satu daerah, vihara, atau komunitas dengan lainnya.

    Tata cara tersebut biasanya mengikuti panduan keluarga, pengurus vihara, atau tokoh komunitas karena praktik Hungry Ghost Festival dapat berbeda di setiap daerah. Bagi masyarakat yang hanya ingin menyaksikan perayaan, bisa menghormati aturan tempat ibadah dan tidak mengganggu jalannya ritual menjadi hal yang penting.

  6. 6. Apakah ada pantangan di bulan hantu?

    illustrasi pernikahan adat Tionghoa
    illustrasi pernikahan adat Tionghoa (pexels.com/Tama Utama)

    Secara garis besar, tidak semua pantangan di bulan hantu (Hungry Ghost Festival) berlaku sama ketatnya di seluruh daerah. Meskipun akar kepercayaannya sama yaitu meyakini bahwa gerbang alam baka terbuka selama bulan ke-7 kalender Imlek penerapan, daftar pantangan, dan tingkat kepatuhannya sangat bervariasi tergantung pada wilayah, tradisi lokal, hingga faktor generasi.

    Di beberapa negara seperti Taiwan, Hongkong, Singapure, China (Thiongkok) masih ada yang mempercayai pantangan thakayul dengan sangat ketat. Di Taiwan, industri otomotif, properti, dan pernikahan mengalami penurunan drastis selama bulan ini karena mayoritas warga benar-benar menunda membeli mobil, membeli rumah, atau menikah. Bahkan ada pantangan spesifik untuk tidak naik bus atau kereta terakhir malam hari.

    Sedangkan dalam Festival Hungry Ghost Singapura ada larangan duduk di barisan depan saat konser jalanan karena dipercaya barisan depan khusus untuk arwah. Di Indonesia sendiri kepatuhan terhadap pantangan biasanya kembali kepada kepercayaan individu atau keluarga masing-masing, bukan menjadi aturan sosial yang kaku. Mayoritas generasi muda di era modern ini cenderung mengabaikan takhayul kuno dan tetap mempertahankan ritual inti saja.

    Hungry Ghost Festival di Medan menunjukkan bagaimana sebuah tradisi yang berhubungan dengan alam arwah ternyata memiliki nilai yang lebih luas. Keberadaan festival ini juga menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tionghoa di Medan yang masih dipertahankan hingga kini. Jadi, daripada hanya melihatnya sebagai "festival hantu", Hungry Ghost Festival lebih menarik dipahami sebagai tradisi yang mempertemukan unsur keagamaan, kepercayaan, keluarga, dan budaya dalam satu perayaan. Nah, apakah kamu tertarik melihat festival ini secara langsung?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More