Fenomena Hujan Es di Medan, BMKG Ungkap Penyebabnya

- Hujan es mengguyur sejumlah wilayah Medan pada Rabu sore, terekam warga dan beredar di media sosial; BMKG mengaitkannya dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus.
- Sekitar pukul 15.20 WIB, hujan lebat disertai angin hingga 19 knot terjadi di sebagian Medan, dengan radar menunjukkan potensi hujan di Medan Johor dan sekitarnya.
- Suhu Medan turun 6,6 derajat Celsius dalam satu jam; BMKG mencatat konvergensi serta belokan angin yang mendukung labilitas udara dan pertumbuhan awan hujan.
Medan, IDN Times – Hujan es dilaporkan mengguyur sejumlah wilayah Kota Medan, Sumatera Utara, pada Rabu (23/9/2026) sore. Fenomena ini terekam sejumlah kamera masyarakat dan dibagikan ke media sosial.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan menjelaskan fenomena tersebut biasanya berkaitan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb). Prakirawan BBMKG Wilayah I Martha Manurung mencatat hujan lebat terjadi sekitar pukul 15.20 WIB dan disertai angin cukup kencang yang mencapai 19 knot. Peringatan dini cuaca BMKG untuk Sumatra Utara pada hari itu berlaku sejak pukul 13.48 hingga 16.48 WIB.
Martha menjelaskan menjelaskan hujan es biasanya terbentuk dari awan Cumulonimbus. Awan jenis ini dapat tumbuh ketika kondisi atmosfer mendukung perkembangan awan hujan yang kuat.
“Hujan es sendiri terjadi dengan beberapa ciri yang dapat diamati, antara lain Sebelum hujan, langit cepat berubah menjadi gelap/pekat, Angin tiba-tiba menguat dan berubah arah,” kata Martha.
1. Hujan di sebagian wilayah Kota Medan

ilustrasi hujan (pexels.com/Александр Лич) Berdasarkan pengamatan BBMKG, sekitar pukul 15.20 WIB terjadi hujan lebat di sebagian wilayah Kota Medan yang disertai angin cukup kencang hingga 19 knot. Citra radar juga menunjukkan potensi hujan lebat di sekitar Medan Johor dan wilayah sekitarnya.
Perubahan kecepatan angin menjadi salah satu indikator yang dicatat BBMKG dalam kejadian tersebut. Pada pukul 15.00 WIB, pengamatan menunjukkan kondisi angin calm atau tenang. Sekitar setengah jam kemudian, kecepatan angin tercatat mencapai 19 knot.
2. Suhu udara menurun

ilustrasi hujan (pexels.com/Yan Krukau) Perubahan itu terjadi bersamaan dengan turunnya suhu udara. Suhu pada pukul 15.00 WIB tercatat 32,6 derajat Celsius dan turun menjadi 26 derajat Celsius pada pukul 16.00 WIB.
Artinya, terjadi penurunan suhu sekitar 6,6 derajat Celsius dalam waktu satu jam. BBMKG menyebut perubahan suhu yang terasa lebih dingin secara tiba-tiba menjadi salah satu ciri yang dapat menyertai kejadian hujan es.
3. Masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat perlu mewaspadai perubahan cuaca

Ilustrasi hujan di balik jendela. (Priscilla Du Preez/Unsplash) BBMKG Wilayah I juga menganalisis adanya konvergensi dan belokan angin di wilayah Sumatra Utara, terutama kawasan pesisir timur. Kondisi tersebut disebut membuat labilitas udara cukup tinggi sehingga pertumbuhan awan hujan masih berpotensi terjadi. nowcasting, yakni prakiraan kondisi cuaca ekstrem untuk beberapa jam ke depan.
Masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat perlu mewaspadai perubahan cuaca secara cepat, terutama ketika awan mulai menggelap dan angin tiba-tiba menguat.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















