Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kasus Influenza A Tinggi, Ini Tanda-tanda Anak Harus Dibawa ke IGD

Kota Medan
3 min read
Kasus Influenza A Tinggi, Ini Tanda-tanda Anak Harus Dibawa ke IGD
Ilustrasi saat anak sakit di malam hari. (pixabay/Sunriseforever)
  • Positivity rate influenza di Indonesia naik menjadi 46 persen per 19 September 2026, dengan 86 dari 185 spesimen positif; mayoritas merupakan Influenza A(H1N1) pdm09.

  • IDAI menyebut anak usia 0-17 tahun dua kali lebih rentan mengalami flu bergejala karena imunitas dan pertahanan saluran napas belum matang, serta mudah terpapar di lingkungan.

  • Orang tua diminta membawa anak ke dokter saat aktivitas menurun, kurang minum, atau tidak berkemih lebih dari empat jam; tanda gangguan napas, kejang, atau kebiruan perlu langsung ke IGD.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan penting bagi para orangtua. Kasus influenza di Indonesia tengah mengalami lonjakan tajam.

Berdasarkan Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 Kementerian Kesehatan RI per 19 September 2026, positivity rate influenza naik menjadi 46 persen, dari sebelumnya 35 persen pada minggu lalu. Dari 185 spesimen yang diperiksa pada minggu ke-36 (13-19 September 2026), sebanyak 86 spesimen dinyatakan positif.

Kenaikan tersebut didominasi oleh Influenza A(H1N1) pdm09 sebanyak 76 kasus, diikuti A(H3N2) 8 kasus, dan B/Victoria 2 kasus. Sementara COVID-19 tetap rendah dengan positivity rate 1,45 persen.

Peringatan itu disampaikan IDAI melalui akun Instagram resminya @idai_ig dengan menghadirkan pakar infeksi anak, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. Inf.P.T. (K) atau Prof. Anggi, dalam Seminar Media IDAI pada 18 September 2026.

  1. 1. Anak 2 kali lebih rentan

    Ilustrasi anak sakit demam (frerepik.com/peoplecreations)
    Ilustrasi anak sakit demam (frerepik.com/peoplecreations)

    Prof. Anggi menjelaskan, anak usia 0-17 tahun dua kali lebih rentan terkena flu bergejala dibanding orang dewasa pada umumnya.

    "Hal ini dikarenakan sistem kekebalan tubuh anak masih belajar mengenali virus," ujar Prof. Anggi.

    Selain itu, ada dua faktor lain. Pertama, tinggi badan anak relatif lebih rendah dari dewasa sehingga lebih mudah menghirup virus dari orang dewasa yang sakit. Kedua, fisiologi pertahanan saluran napas anak belum sesempurna dewasa.

    Virus flu, kata Prof. Anggi, menular melalui dua cara. Secara langsung, dari orang yang terinfeksi ke anak lewat percikan batuk atau bersin. Secara tidak langsung, virus menempel di permukaan atau tangan, lalu berpindah ke anak yang menyentuhnya.

    "Virus flu bisa bertahan hingga 48 jam di permukaan keras seperti meja, gagang pintu, dan sekitar 8-12 jam di permukaan lunak seperti baju dan tisu," jelasnya.

  2. 2. Beda flu dan pilek biasa

    ilustrasi anak sakit (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi anak sakit (pexels.com/cottonbro studio)

    Prof. Anggi juga mengingatkan agar orang tua tidak salah membedakan pilek ringan dan sakit flu. Pilek ringan gejalanya muncul perlahan dan hanya di hidung saja. Sedangkan sakit flu gejalanya lebih berat, muncul mendadak, batuk biasanya kering dan bisa sampai 14 hari disertai demam tinggi dan badan lemas.

    "Anak tiba-tiba demam tinggi dan nyeri badan? Bisa dicurigai sebagai flu, bukan pilek biasa," tegasnya.

    Ada beberapa kondisi yang meningkatkan risiko penularan flu pada anak, yakni usia di bawah 5 tahun, aktivitas rutin di daycare atau sekolah, ada riwayat gangguan tumbuh kembang atau neurologi, dan tinggal di lingkungan padat.

    "Semakin banyak faktor risiko di atas, semakin perlu Ayah Bunda waspada sejak gejala awal pada anak muncul," katanya.

  3. 3. Kapan harus ke dokter dan IGD

    Ilustrasi Anak Sakit (pexels.com/Gustavo Fring)
    Ilustrasi Anak Sakit (pexels.com/Gustavo Fring)

    IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke dokter jika menemukan tiga tanda: aktivitas anak berkurang walaupun demam sudah turun, anak sudah kurang minum, dan anak tidak berkemih lebih dari 4 jam walaupun sudah banyak minum.

    "Jangan tunggu sampai parah, tiga tanda ini adalah sinyal Ayah Bunda untuk periksakan anak ke dokter," ujar Prof. Anggi.

    Lebih gawat lagi, anak harus langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika mengalami: napas cepat dan ada tarikan dinding dada, leher, atau napas cuping hidung; tampak kebiruan atau pucat; mengalami kejang; tanda dehidrasi dan tidak mau minum; serta gelisah, tampak mengantuk dan sulit dibangunkan.

    "Salah satu saja tanda ditemukan, langsung bawa ke rumah sakit terdekat," tegasnya.

    Terkait sekolah, Prof. Anggi menjelaskan anak yang sakit flu paling menular 24 jam sebelum gejala muncul sampai 5 hari sesudahnya, bahkan bisa lebih lama pada balita. Khusus balita mampu menularkan sampai 10 hari dan lebih panjang pada bayi.

    Anak boleh kembali sekolah jika sudah sehari bebas demam diikuti dengan gejala penyerta lainnya membaik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More