Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Peringati Hari Keadilan Ekologis, Walhi Serukan Pulihkan Sumut
Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis (Dok. Walhi Sumut)
  • Massa memperingati Hari Keadilan Ekologis di Medan saat car free day dengan seruan “Pulihkan Sumut”, menyoroti krisis iklim dan persoalan ekologis yang belum tuntas.
  • WALHI Sumut menyebut korban bencana di Tapanuli belum sepenuhnya memperoleh pemulihan psikologis, ekonomi, dan mata pencaharian, meski narasi pemerintah menyatakan kondisi telah pulih.
  • Peringatan yang difasilitasi 29 eksekutif daerah WALHI ini mengangkat konflik agraria, eksploitasi, pencemaran, dan krisis iklim, serta mendesak penegakan hukum terhadap korporasi perusak lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pekan Nasional Lingkungan Hidup 2025

WALHI mendeklarasikan Hari Keadilan Ekologis di Sumba, Nusa Tenggara Timur, untuk memperluas pembahasan keadilan dalam menghadapi krisis ekologis.

20 September 2026

Massa memperingati Hari Keadilan Ekologis di Medan dengan aksi saat car free day dan seruan “Pulihkan Sumut”. Peringatan ini difasilitasi 29 eksekutif daerah WALHI di seluruh Indonesia untuk mengangkat persoalan ekologis di tiap daerah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis dengan aksi bertema “Pulihkan Sumut”, menyoroti persoalan ekologis dan krisis iklim yang dinilai belum tuntas di Sumatera Utara.
  • Who?
    Massa aksi, WALHI Sumatera Utara, koordinator aksi Maulana Gultom, serta peserta aksi Sintya Simorangkir terlibat dalam kegiatan tersebut.
  • Where?
    Aksi berlangsung di Medan, di sela kegiatan car free day Kota Medan.
  • When?
    Peringatan digelar pada Minggu, 20 September 2026, bertepatan dengan Hari Keadilan Ekologis atau World Ecological Justice Day.
  • Why?
    Aksi dilakukan untuk merefleksikan bencana ekologis, konflik agraria, eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, serta dampak krisis iklim, termasuk pemulihan korban di Tapanuli.
  • How?
    WALHI Sumatera Utara bersama massa menggelar aksi dan kegiatan yang mengajak masyarakat menyampaikan aspirasi lingkungan; peringatan ini difasilitasi 29 eksekutif daerah WALHI di Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Medan, banyak orang berkumpul saat car free day untuk meminta Sumatera Utara dipulihkan. Mereka bilang alamnya masih punya banyak masalah. Di Tapanuli, hujan sedikit bisa bikin banjir lagi. Maulana dari WALHI ingin pemerintah dan perusahaan yang merusak alam bertanggung jawab. Sekarang mereka mengajak orang lebih menjaga lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peringatan Hari Keadilan Ekologis di Medan memperlihatkan ruang partisipasi publik yang hidup: warga tidak hanya menyuarakan pengalaman terdampak, tetapi juga terlibat dalam kegiatan yang menarik dan menuliskan aspirasi lingkungan. Kehadiran WALHI sebagai wadah serta pelaksanaan serentak di berbagai daerah menunjukkan upaya memperdekat isu keadilan ekologis dengan kebutuhan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis di Medan, Minggu (20/9/2026). Aksi digelar di sela kegiatan car free day (CFD) Kota Medan dengan seruan utama "Pulihkan Sumut".

Massa menyoroti berbagai persoalan ekologis dan krisis iklim yang belum tuntas di Sumatera Utara.

1. Hari Keadilan Ekologis menjadi momentum untuk merefleksikan persoalan ekologis di daerah

Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis (Dok. Walhi Sumut)

Koordinator aksi, Maulana Gultom, yang juga Staf Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatra Utara, mengatakan Hari Keadilan Ekologis menjadi momentum untuk merefleksikan persoalan ekologis di daerah.

"Kita sama-sama tahu kalau bencana ekologis di Sumut belum beres. Di Tapanuli misalnya, belum semua korban dapat hak pemulihan. Hujan sedikit saja di sana, langsung banjir lagi," ujar Maulana.

Menurutnya, negara semestinya bertanggung jawab. Kondisi alam dan lingkungan hidup sudah mencapai ambang kritis akibat keserakahan pemerintah dan kepentingan oligarki di baliknya.

"Dalam narasi dan beberapa kali pidato pejabat negara, termasuk Presiden, katanya sudah pulih dan sudah terpulihkan. Tapi faktanya di lapangan masih sangat banyak masyarakat yang tidak pulih secara psikologis, ekonomi, dan mata pencaharian," kata Maulana.

2. Diharapkan WALHI terus menjadi wadah aspirasi bagi masyarakat terdampak kerusakan lingkungan

Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis (Dok. Walhi Sumut)

Salah satu peserta aksi, Sintya Simorangkir, mengaku senang dapat terlibat dalam peringatan tersebut. Ia menilai aksi dikemas menarik sehingga memancing perhatian masyarakat.

"Hari ini aksi berjalan cukup menarik. Banyak kegiatan seru yang membuat masyarakat ingin tahu tentang isu lingkungan dan menuliskan aspirasi mereka soal lingkungan di Indonesia," ucap Sintya.

Dia berharap WALHI terus menjadi wadah aspirasi bagi masyarakat terdampak kerusakan lingkungan serta mendorong kesadaran untuk bertindak nyata.

"Semoga Indonesia makin pulih dan menjadi negara yang lebih indah ke depannya, serta WALHI bisa menjadi wadah aspirasi bagi masyarakat yang terkena dampak kerusakan alam. Semoga masyarakat juga lebih sadar untuk menjaga lingkungannya," kata Sintya.

Untuk diketahui, 20 September diperingati sebagai Hari Keadilan Ekologis atau World Ecological Justice Day. Peringatan ini dideklarasikan WALHI di Sumba, Nusa Tenggara Timur, pada Pekan Nasional Lingkungan Hidup 2025 sebagai momentum untuk memperluas pembahasan tentang keadilan dalam menghadapi krisis ekologis.

3. Upaya membawa isu keadilan ekologis lebih dekat dengan persoalan di masing-masing daerah

Sejumlah massa memperingati Hari Keadilan Ekologis (Dok. Walhi Sumut)

Peringatan pada 20 September 2026 difasilitasi oleh 29 eksekutif daerah WALHI di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menjadi upaya membawa isu keadilan ekologis lebih dekat dengan persoalan di masing-masing daerah, mulai dari konflik agraria, eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, hingga dampak krisis iklim.

Keadilan ekologis menempatkan persoalan lingkungan sekaligus sebagai persoalan hak dan ketimpangan. Masyarakat yang bergantung langsung pada tanah, hutan, laut, dan sumber daya alam sering menjadi kelompok yang paling terdampak ketika terjadi kerusakan ekologis.

Maulana berharap ada penegakan hukum tegas terhadap korporasi yang merusak lingkungan agar persoalan ekologis di Sumut dapat tuntas.

"Tobatlah kalian para penjahat lingkungan," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article