Sebanyak 5 pesepeda memulai perjalanan sejauh 1.700 kilometer dari Jakarta menuju Batangtoru, Sumatra Utara (Dok. Satya Bumi)
Ekspedisi Hutan Merdeka mengusung pesan bahwa hutan di Indonesia masih menghadapi tekanan akibat deforestasi, ekspansi industri, dan aktivitas ekstraktif. Kondisi tersebut dinilai semakin mengancam keberlangsungan habitat orangutan tapanuli yang hanya hidup di Ekosistem Batangtoru.
Satya Bumi melihat bahwa hutan Indonesia hingga saat ini belum merdeka dari ancaman deforestasi, kooptasi wilayah oleh industri dan aktivitas ekstraktif yang merusak hutan. Terlebih di ekosistem Batangtoru, satu-satunya habitat orangutan tapanuli yang statusnya saat ini critically endangered species menurut IUCN dengan populasi kurang dari 800 individu saat pertama teridentifikasi pada 2017. Survei terbaru bahkan menunjukkan, jumlahnya semakin merosot hingga 7 persen pascabencana Sumatra November 2025 lalu atau tersisa sekitar 716 individu.
“Ini wake up call yang harus kita sadari bersama bahwa ancaman kepunahan ini sudah di depan mata," ujar Communications Manager Satya Bumi, Restu Diantina.
Satya Bumi mencatat pembukaan lahan di kawasan Batangtoru masih terus berlangsung. Mereka menyebut PT Agincourt Resources telah membuka lahan seluas 603,2 hektare hingga 2025. Sementara perusahaan pengelola PLTA Batangtoru disebut melakukan deforestasi seluas 535,25 hektare hingga 2024, yang sebagian berada di habitat orangutan.