Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan kelahiran tersebut terkonfirmasi pada Rabu (29/7/2026) sekitar pukul 16.30 WIB saat tim Post Release Monitoring (PRM) melakukan pemantauan rutin di kawasan tersebut.
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho

- Orangutan Sumatera bernama Wenda melahirkan bayi betina di Pusat Reintroduksi Jantho, Aceh Besar; kelahiran terdeteksi tim pemantauan pada 29 Juli 2026.
- Bayi Wenda diperkirakan berusia kurang dari sepekan. Kehamilan Wenda telah teridentifikasi sejak Januari 2026 melalui perubahan fisik selama pemantauan rutin.
- Wenda merupakan orangutan sitaan yang direhabilitasi sejak 2009 dan dilepasliarkan pada 2014; kelahiran anak pertamanya menandai keberhasilan rehabilitasi serta pelepasliaran.
Banda Aceh, IDN Times - Kabar gembira datang dari dunia konservasi di Aceh. Seekor Orangutan Sumatera (Pongo abelii) bernama Wenda melahirkan seekor bayi betina di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
“Tim Post Release Monitoring mendeteksi keberadaan satu individu orangutan betina dewasa tampak menggendong bayinya,” kata Ujang kepada IDN Times, Selasa (4/8/2026).
1. Bayi diperkirakan berusia kurang dari sepekan

Ujang menyampaikan, hasil pengamatan menunjukkan orangutan yang menggendong bayi tersebut adalah Wenda. Bayi yang dilahirkannya diperkirakan berusia kurang dari satu minggu dan berjenis kelamin betina.
Menurut Ujang, tanda-tanda kehamilan Wenda sebenarnya telah mulai teridentifikasi sejak Januari 2026 melalui perubahan fisik yang diamati selama kegiatan pemantauan.
Kelahiran tersebut menjadi bukti bahwa Wenda mampu beradaptasi dan berkembang biak setelah dilepasliarkan ke habitat alaminya.
2. Bukti keberhasilan program rehabilitasi

BKSDA Aceh menilai kelahiran bayi orangutan ini menjadi indikator keberhasilan program rehabilitasi dan pelepasliaran Orangutan Sumatera yang dijalankan Kementerian Kehutanan bersama para mitra konservasi.
Ujang mengatakan keberhasilan itu tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian Cagar Alam Jantho sebagai habitat orangutan.
“Komitmen untuk menjaga kelestarian Cagar Alam Jantho sebagai habitat orangutan sumatera dilakukan dengan memperkuat pengawasan, meningkatkan kolaborasi dengan mitra konservasi, serta melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman perusakan dan perdagangan satwa liar. Keberhasilan ini adalah kerja bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelahiran bayi orangutan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga hutan berarti menjaga keberlangsungan hidup satwa liar, terutama Orangutan Sumatera yang hanya dapat bertahan apabila habitatnya tetap lestari.
3. Wenda merupakan orangutan hasil sitaan
Wenda bukanlah orangutan liar sejak lahir. Ia merupakan orangutan sitaan yang dibawa ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP Sibolangit pada 2009 saat usianya diperkirakan baru sekitar satu tahun.
Setelah menjalani proses rehabilitasi, Wenda dipindahkan ke Pusat Reintroduksi Jantho pada 2013 sebelum akhirnya dilepasliarkan ke habitat alaminya setahun kemudian.
Sejak kembali hidup di alam liar pada 2014, Wenda menjadi salah satu individu yang rutin dipantau oleh tim Post Release Monitoring. Kelahiran anak pertamanya di alam bebas menjadi tonggak penting bagi keberhasilan program konservasi Orangutan Sumatera di Aceh.



















