Sengit Kontra Slamet Riyadi, Universitas Jember ke Semi Final Liga Debat

- Universitas Jember sebagai tim kontra menang tipis 236-235 atas Universitas Slamet Riyadi dalam perempat final Liga Debat Mahasiswa 2026.
- Tim pro menilai Gen Z siap berwirausaha berkat ekosistem digital, akses modal, dan potensi penciptaan kerja; tim kontra menekankan risiko bisnis serta kebutuhan pendapatan stabil.
- Debat menyoroti pengangguran usia 15–24 tahun sebesar 16,47 persen, minat wirausaha 69,1 persen, serta kontribusi UMKM 61,07 persen terhadap PDB nasional.
Medan, IDN Times - Universitas Jember melangkah dramatis ke semi final Liga Debat Mahasiswa IDN Times 2026. Unej menumbangkan Universitas Slamet Riyadi dengan skor tipispada sesi debat perempat final kontra Universitas Slamet Riyadi, Selasa (4/8/2026). Unej yang diperkuat Algi Febriano, Mustofa dan Baiq Silvia Ariani Putri unggul tipis unggul tipis 236 berbanding 235.
Kedua tim berdebat sengit dengan mosi: “Gen Z Lebih Siap Menjadi Wirausahawan daripada Pekerja Profesional”. Debat yang berlangsung dimoderatori oleh Ashrawi Muin.
1. Tim pro menilai gen Z paling selaras dengan ekosistem digital

Tim Pro berargumen kesiapan Gen Z menjadi wirausahawan didukung dominasi ekosistem digital dan bonus demografi. Vania menyebut Gen Z ingin menjadi eksekutif agar bisa berkarya. "Kesiapan infrastruktur dan permodalan, pemerintah justru sudah menyiapkan," ujarnya.
Achmad Riyadi menambahkan, profesi yang paling sesuai untuk Gen Z adalah kewirausahaan. "Semakin banyak anak muda ingin solusi. AI dan ekonomi digital telah memangkas hambatan. Mari mengarah pada luar negeri, Singapura. Indonesia menghadapi momentum yang sama, bonus geografi menyerap UMKM dan tenaga kerja," kata Achmad.
Tim Pro juga menyorot data bahwa 80 persen Gen Z percaya bisa berwirausaha. Mereka mencontohkan program dari Kementerian Keuangan dan instansi lain seperti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW yang membuka akses modal.
"Seorang founder sekecil apapun tetap menciptakan lapangan kerja. Dunia ini memang membutuhkan para ahli dan penata koding, tapi jika semua orang hanya ingin menjadi pekerja, ekonomi akan mandek," tegas Vania.
Sementara, dari tim kontra menolak mosi dengan membawa data empiris dan analisis risiko. Algi Febriano menyebut mosi ini hanya membayangkan kesiapan, bukan realita.
"Kesiapan Gen Z sudah matang untuk jalur profesional. Pemerintah memberikan pajak yang terukur. Gen Z sudah dipersiapkan untuk itu," ujar Algi.
Baiq Silvia menekankan, dunia bisnis itu kompetitif dan penuh risiko. Ia mengutip data Kemenkop bahwa banyak UMKM gagal di tahun-tahun pertama. "Minat bukan berarti siap. Siap itu harus tahu ada atau tidaknya risiko. Survei mencatat kesiapan itu ada di pekerja profesional yang sudah disediakan pemerintah," katanya.
Tim Kontra juga menyorot beban Gen Z sebagai generasi sandwich. Mereka menyebut 69 persen Gen Z memastikan pendapatan melalui jalur profesional. "Pengusaha sukses itu justru usia 35 sampai 40 tahun. Korelasinya, usia 14 tahun belum memiliki karir apalagi pengalaman nyata," tambah Mustofa.
Debat ini relevan dengan kondisi ketenagakerjaan Gen Z saat ini. Berdasarkan data BPS 2023, tingkat pengangguran terbuka pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,47 persen. Sementara itu, minat milenial dan Gen Z untuk berwirausaha di Indonesia tercatat 69,1 persen.
Peran UMKM juga sangat besar bagi ekonomi nasional. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat kontribusi UMKM terhadap PDB nasional sebesar 61,07 persen atau senilai Rp8.574 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 96,9 persen.
Namun tantangan tetap ada. Rasio kewirausahaan Indonesia baru 3,18 persen, jauh di bawah negara maju yang mencapai 12-14 persen. BPDP juga mencatat rasio kewirausahaan Indonesia masih sekitar 3 persen, padahal indikator negara maju minimal 10 persen.
2. Panelis mengajak peserta menggali soal tantangan ekosistem

Sesi panelis menghadirkan dua pertanyaan tajam. Dr. Eko Widodo dari UNIKA Atma Jaya Jakarta yang bertanya tentang bagaimana pendapat kedua tim jika semua ingin menjadi founder.
"Saat ini semua orang ingin menjadi founder, namun kalau semua jadi CEO siapa yang akan mengkoding aplikasinya, siapa yang akan mendesainnya, keuangan dan pemasaran hingga pelanggannya?"
Menjawab itu, Tim Kontra menegaskan tidak semua Gen Z bisa mengelola manajemen bisnis, product development, dan lainnya. "Negara lebih baik menjadi pekerja profesional karena risiko lebih kecil. Gen Z tidak siap dengan risikonya," ujar Baiq.
Sedangkan, tim pro menanggapi bahwa laporan Kementerian UMKM menunjukkan Gen Z lebih adaptif dan matang secara psikologi untuk menciptakan lapangan kerja. "Kasus pinjol justru banyak dari pekerja menengah atas. Gen Z lebih siap karena adaptif," sanggah Vania.
Panelis lain, Agung Putu Iskandar, Founder Agna Komunika Surabaya, dan Andi Pratomo, Manager Program Kolektif Hysteria, turut menguji kedua tim dari sisi kebijakan dan praktik bisnis.
3. Universitas Jember unggul tipis dengan skor 236 selisih 1 poin

Usai empat sesi debat, dewan juri mengumumkan hasil. Universitas Slamet Riyadi memperoleh skor 235, sementara Universitas Jember unggul tipis dengan skor 236.
Dr. Eko Widodo selaku juri menyampaikan apresiasi. "Hari ini kita menyaksikan lebih dari sekadar argumen, kita melihat keberanian. Kedua tim sama-sama bagus. Baru kali ini tim juri masuk room penilaian dua kali karena mempertimbangkan semuanya," ucapnya.
"Setiap tim yang berdiri di panggung ini adalah bukti mahasiswa. Teman-teman yang belum berdiri di podium, jangan pernah akhiri segalanya. Debat mengajarkan kita, pengalaman sejati bukan hanya yang terbaik hari ini tetapi terus belajar dan berkembang untuk Indonesia yang lebih baik," tambah Eko.
Liga Debat Mahasiswa 2026 diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa mengasah nalar kritis dalam merespons isu generasi dan ekonomi nasional.


















