Produksi Aman, Sumut Berpotensi Penyangga Pangan Saat El Nino

- Sumatra Utara relatif aman dari dampak El Nino karena curah hujan masih tinggi, sehingga produksi pertanian berpotensi tetap terjaga.
- Pasokan air pertanian dinilai mencukupi dan gangguan tanam belum signifikan, tetapi petani menghadapi kenaikan biaya pupuk, herbisida, mulsa plastik, serta insektisida.
- Produksi aman membuka peluang Sumut memasok pangan ke daerah terdampak kekeringan, meski distribusi antardaerah berpotensi membentuk keseimbangan harga baru.
Medan, IDN Times - Kondisi iklim yang basah membuat Sumatra Utara diuntungkan saat El Nino. Dengan produksi pertanian yang aman, Sumut berpotensi menjadi daerah pengekspor pangan ke wilayah lain yang terdampak kekeringan.
Hal ini dikarenakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memprediksi dampak El Nino di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, Sumatra Utara dinilai relatif aman dari ancaman musim kering tersebut.
1. Tidak sepenuhnya merasakan gelombang El Nino di Sumut
Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, mengatakan Sumut justru belakangan ini lebih banyak diguyur hujan. Kondisi itu membuat masyarakat di daerah ini tidak sepenuhnya merasakan gelombang El Nino.
"Sumatra Utara relatif aman dari dampak musim kering atau El Nino yang melanda wilayah Indonesia. Alih-alih kekeringan, Sumut justru lebih banyak diguyur hujan belakangan ini. Sehingga pada dasarnya masyarakat Sumut tidak sepenuhnya merasakan adanya gelombang El Nino. Sumut relatif diuntungkan dengan kondisi iklim belakangan ini," ujar Gunawan kepada IDN Times, Selasa (4/8/2026).
2. Belum terlihat adanya potensi gangguan tanam yang signifikan
Dari pengamatannya, sektor pertanian di Sumut sejauh ini masih mendapatkan pasokan air yang mencukupi. Belum terlihat adanya potensi gangguan tanam yang signifikan.
Namun, Gunawan menyebut persoalan utama yang dihadapi petani saat ini justru berasal dari kenaikan harga biaya produksi. Komoditas seperti pupuk, herbisida, plastik mulsa, hingga insektisida mengalami lonjakan.
"Sejauh ini masalah utama sektor pertanian di Sumut adalah kenaikan harga biaya input setelah terjadi lonjakan pada produk pertanian seperti pupuk, herbisida, plastik mulsa hingga insektisida. Sehingga komponen biaya tersebut sebenarnya sudah cukup untuk memicu kenaikan harga jual produk pertanian," jelasnya.
Meski demikian, Sumut tidak sepenuhnya bebas dari dampak El Nino. Menurut Gunawan, wilayah lain di Indonesia yang terdampak kekeringan secara tidak langsung akan memengaruhi pembentukan harga komoditas pertanian di Sumut.
3. Lalu lintas transaksi barang dan jasa antardaerah akan membentuk harmonisasi keseimbangan harga baru

Dia menjelaskan, lalu lintas transaksi barang dan jasa antardaerah akan membentuk harmonisasi keseimbangan harga baru. Jika El Nino membuat harga di satu wilayah lebih mahal, maka daerah yang memiliki harga lebih murah berpeluang mendistribusikan barangnya ke sana.
"Setiap ada disparitas yang terlalu lebar, nantinya pasar akan menyeimbangkan dengan sendirinya dan bertemu pada titik harga keekonomian yang baru. Maka wilayah yang memiliki harga barang lebih murah berpeluang mendistribusikan barang tersebut ke wilayah yang harganya lebih mahal. Yang penting pedagang masih mendapatkan selisih atau margin," katanya.
Dengan curah hujan yang mencukupi dan tidak adanya gangguan produksi, Gunawan menilai harga kebutuhan pokok di Sumut berpeluang lebih rendah dibandingkan wilayah lain.
"Tapi besar kemungkinan hanya akan berlangsung sementara. Titik keseimbangan baru akan tercipta begitu pedagang menjual barang dari Sumut ke wilayah lainnya," pungkasnya.


















