Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

'Penculikan' Presiden Maduro, Henry Saragih: Imperialisme Tanpa Topeng

penangkapan Maduro
Penangkapan Maduro oleh DEA (source: Truth Seeker by X)

Medan, IDN Times - Penangkapan Presiden Republik Bolivarian Venezuela, Nicolas Maduro Moros dan istrinya pada 3 Januari 2026 lalu, menuai kecaman publik. Tidak terkecuali dari kelompok masyarakat sipil di Indonesia.

Serikat Petani Indonesia (SPI) mengecam tindakan itu. Bahkan, SPI menggunakan diksi 'penculikan' untuk menggambarkan penangkapan Maduro. Bagi SPI, tindakan 'penculikan' ini merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional, serta menjadi preseden berbahaya bagi tatanan global, khususnya bagi negara-negara Global South. 

1. Campur tangan asing, rakyat Venezuela punya hak untuk menentukan nasib sendiri

Donald Trump
Presiden Donald Trump ketika memantau jalannya operasi penangkapan Presiden Nicholas Maduro di Venezuela. (Dokumentasi Truth Social)

SPI menegaskan rakyat Venezuela mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri, arah pembangunan dan orientasi politik mereka tanpa campur tangan asing.

SPI mengekspesikan keprihatinan mendalam atas pelanggaran berulang terhadap hukum internasional dan campur tangan kekuatan imperialis dalam kehidupan demokratis negara-negara. 

Selama enam bulan terakhir, pemerintahan Amerika Serikat di bawah komando Donald Trump telah menjalankan kampanye intimidasi sepihak terhadap Venezuela, termasuk tekanan politik, ekonomi, dan militer. Kampanye tersebut mencapai puncaknya melalui serangan militer ilegal yang disertai penculikan terhadap kepala negara berdaulat. Tindakan ini tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga menegasikan prinsip bahwa Amerika Latin dan Karibia adalah zona perdamaian, bukan wilayah perang.

“Ini adalah preseden berbahaya, imperialisme tanpa topeng. Ketika sebuah negara berusaha mempertahankan kedaulatan politik, sumber daya, dan pangan rakyatnya, maka pemimpinnya dikriminalisasi dan dinegasikan legitimasinya,” ujar Henry Saragih, Ketua Umum SPI dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2025). 

2. Motif Trump, menguasai minyak secara terang-terangan 

pidato Maduro
prisident venezuela maduro

SPI menilai, selama ini petani dan pekerja pedesaan seringkali menjadi korban utama serangan imperialis, mengakibatkan perampasan tanah, ekspansi proyek pertambangan dan energi oleh korporasi multinasional Amerika Serikat, serta penjarahan sumber daya energi. 

Dalam konteks Venezuela, Trump bahkan tidak berusaha menyembunyikan bahwa motivasi utamanya menyerang Venezuela adalah untuk menguasai cadangan minyak Republik Bolivarian.

SPI juga menyoroti bahwa kebijakan Presiden Nicolás Maduro yang melanjutkan semangat Hugo Chávez dalam menasionalisasi sumber daya alam dan memutus ketergantungan ekonomi merupakan praktik yang pernah ditempuh banyak negara berdaulat, termasuk Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945.

3. Amerika lakukan pola berulang, dari Timur Tengah hingga Amerika Latin 

5 Fakta Keluarga Nicolas Maduro Presiden Venezuela 2.png
Instagram.com/nicolasmaduro

Dalam konteks geopolitik global, SPI melihat pola yang berulang. Dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah melalui Israel, intervensi di Amerika Latin melalui rezim Pinochet di Chili, Batista di Kuba, hingga Venezuela pra-Chávez. 

Penangkapan Maduro menegaskan bahwa praktik lama tersebut masih terus direproduksi dengan bentuk yang semakin brutal.

“Jika praktik seperti ini dibiarkan, maka tidak ada negara Global South yang benar-benar aman. Serangan ini dampaknya buruk ke norma atau pergaulan internasional karena sudah tidak ada lagi batasan moral, apapun bisa terjadi. Hari ini Venezuela, besok bisa negara lain. Karena itu, kami menolak segala bentuk intervensi, penculikan, dan kriminalisasi politik atas nama apapun,” pungkas Henry yang punya kedekatan pribadi dengan Maduro. 

Sesuai dengan konstitusi Indonesia, bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. 

SPI menolak segala bentuk kolonialisme dan imperialisme atas nama apa pun. SPI menyerukan kepada organisasi petani dan gerakan sekutu, serta rakyat dunia, untuk mengorganisir aksi-aksi yang mengecam agresi imperialis ini dan memperkuat solidaritas internasional.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Viral Terduga Maling di Labusel Sandera Perempuan Tua Pakai Parang

07 Jan 2026, 09:42 WIBNews