Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Warga Geruduk Ponpes di Sunggal, Diduga Santri Jadi Korban Pelecehan

Ilustrasi pelecehan seksual terhadap perempuan. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi pelecehan seksual terhadap perempuan. (IDN Times/Arief Rahmat)
Intinya sih...
  • Dugaan pelecehan seksual, pimpinan Ponpes diduga sudah beberapa kali melakukan pelecehan seksual terhadap santriwati.
  • Pimpinan Ponpes sudah dibawa ke Kantor Polisi setelah keluarga korban melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian.
  • Pondok Pesantren sudah berdiri selama 5 tahun dan dikenal tertutup, mayoritas diisi santriwati dengan beberapa pengasuh pondok yang berada di sana.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Deli Serdang, IDN Times - , Mahmud Sobri, salah seorang kepala dusun di Kecamatan Sunggal, Mahmud Sobri, kaget usai warganya datang tergesa-gesa melapor ada keributan di satu Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayahnya, Minggu (4/1/2026). Saat sampai di sana, ternyata benar, Mahmud melihat warga sudah berkumpul menggeruduk Ponpes yang sudah berdiri selama 5 tahun itu.

Usut punya usut kemarahan warga disebabkan atas dugaan pelecehan seksual sang pemimpin Ponpes terhadap santriwatinya. Keluarga korban protes dan melaporkan perkara ini ke Polrestabes Medan.

1. Dugaan pelecehan seksual, pimpinan Ponpes diduga sudah beberapa kali melakukan pelecehan seksual terhadap santriwati

Ilustrasi pelecehan seksual terhadap anak (IDN Times)
Ilustrasi pelecehan seksual terhadap anak (IDN Times)

Mahmud mengatakan, keributan terjadi pada Minggu (4/1/2026). "Kemarin sekitar jam 18.30 WIB ada warga yang datang ke rumah, memberitahukan bahwa di pesantren ada ribut-ribut. Jadi saya pun kemudian ke sana, meluncur ke lokasi Pondok Pesantrennya. Saya lihat memang ramai, warga dari gang itu pun ada yang ke sana melihat," cerita Mahmud, Senin (5/1/2026).

Sesampainya di sana kaus bertemu dengan orang tua korban. Mereka melaporkan bahwa anaknya dicabuli oleh salah satu gurunya di Ponpes tersebut.

"Ternyata, dari informasi orang tua korban, guru pelaku mengakui sudah dua kali melakukan hubungan badan. Kemudian juga ada dengan santri yang lain, tapi nggak disebutkan berapa jumlahnya," lanjutnya.

Korban diketahui merupakan seorang santriwati yang menuntut ilmu di Ponpes tersebut. Keluarga kecewa usai mendapat laporan dugaan pelecehan yang dialami anaknya beberapa waktu lalu.

2. Pimpinan Ponpes sudah dibawa ke Kantor Polisi

Videoshot_20260105_150458.jpg
Salah satu kadus di Kecamatan Sunggal, Mahmud Sobri (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Mendengar kabar dugaan asusila ini, Mahmud berdiskusi dengan orang tua korban. Mereka akhirnya sepakat melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian.

"Warga sempat mau mengambil tindakan sendiri-sendiri. Jadi saya ambil inisiatif, saya hubungilah pihak kepolisian. Saya minta tolong karena sudah ada mengarah ke aksi anarkis. Sudah ada yang menjebol pagar, ribut, bahkan adu mulut, kan," beber Mahmud.

Sebelum keributan terjadi, pihak korban dan Ponpes sempat melakukan mediasi. Namun Mahmud mengatakan tak ada titik temu karena keluarga korban merasa dirugikan dan kecewa dengan Ponpes.

"Kalau saya lihat keluarga korban sangat marah dan kesal, artinya menunjukkan kekecewaan yang besarlah sama Ponpes. Karena mereka meletakkan anaknya itu untuk belajar, ternyata kejadiannya seperti itu. Namun, kalau masalah yang saya dengar dari pelaku, ya, justru memutarkan bahwasannya kejadian itu (didasari) senang sama senang. Jadi seterusnya, ya, saya lihat kemarahan dari keluarga korban itu dan menyadarinya. Namanya anak kandung mereka, pasti marah. Untuk (Terduga pelaku) itu sudah diamankan, sudah dibawa ke sana (Kantor Polisi)," sebutnya.

3. Pondok Pesantren sudah berdiri selama 5 tahun dan dikenal tertutup

ilustrasi Pelecehan Seksual (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi Pelecehan Seksual (IDN Times/Aditya Pratama)

Mahmud menceritakan bahwa Ponpes tersebut sudah berdiri lebih kurang 5 tahun. Ia juga mengaku kenal dengan pimpinan Ponpes tersebut dan beberapa kali bertegur sapa.

"Kalau dari awal datangnya itu memang sudah ada sedikit lah perselisihan sama tetangga. Masalah buang-buang air dan lain sebagainya. Kemudian akhirnya mereka menutupi pesantren dengan pagar seng, menutup penuh habis sehingga nggak bisa dipantau lagi kegiatan di dalam," sebut Mahmud.

Sepengetahuan Mahmud, Ponpes tersebut mayoritas diisi santriwati. Dan hanya ada beberapa pengasuh pondok yang berada di sana.

"Kayaknya belum ada (izin), masih laporan khusus ke Desa. Sepanjang nggak bermasalah, saya pikir, ya, namanya untuk belajar. Eh ternyata kejadiannya kayak gini. Kita sesalkan juga, kan," pungkasnya.

Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

BNPB Terjunkan Mahasiswa Teknik Sipil Bantu Validasi Kerusakan Hunian

06 Jan 2026, 21:28 WIBNews