Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jurnalis Perempuan Akan Tampil Suarakan Nasib 13 Ribu Pengungsi Banjir

Jurnalis Perempuan Akan Tampil Suarakan Nasib 13 Ribu Pengungsi Banjir
Jurnalis Perempuan di Sumut akan tampil menyuarakan nasib 13 ribu pengungsi banjir Sumatera (Dok. FJPI)
5W1H
  • What?
    Pementasan teater bertajuk “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” digelar untuk menyuarakan kondisi sekitar 13 ribu pengungsi banjir di Sumatra serta menggalang donasi bagi korban yang masih bertahan di tenda.
  • Who?
    Pementasan melibatkan jurnalis perempuan dari Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan Medan Teater Tronic, dengan sutradara Hafiz Taadi serta dukungan tokoh seperti Khariah Lubis dan Ranggini.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara.
  • When?
    Pementasan dijadwalkan pada Sabtu, 7 Maret 2026, bertepatan dengan bulan Ramadan dan akan dilanjutkan dengan sesi dialog serta buka puasa bersama.
  • Why?
    Kegiatan ini digelar untuk menjaga perhatian publik terhadap bencana banjir di Sumatra yang telah berlangsung tiga bulan dan membantu percepatan pemulihan bagi ribuan warga terdampak.
  • How?
    Pesan kemanusiaan disampaikan melalui teater yang memadukan ekspresi tubuh, suara, dan dialog para jurnalis perempuan sebagai bentuk jurnalisme kreatif sekaligus sarana
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "5W1H" helpful?

Medan, IDN Times - Panggung teater akan menjadi ruang empati, ditengah bulan suci ramadan. Akan ada pementasan, tepatnya pada Sabtu (7/3/2026) di Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal, Medan. Lokasi ini akan menjadi saksi pementasan teatrikal kemanusiaan yang bertajuk ‘Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan’.

Para pemeran kali ini terdiri dari jurnalis perempuan dengan tubuh, suara, dan ekspresi di atas panggung. Mereka akan tampil berbeda dari kegiatan sehari-hari yang dilakukan, misalnya liputan yang biasa disajikan dalam bentuk teks dan data.

Performance journalism tersebut digarap oleh pendiri Medan Teater Tronic (MTT), Hafiz Taadi, yang pernah berguru pada Rendra. Seusai pertunjukan dan sesi dialog, kegiatan akan dilanjutkan dengan silaturahmi serta buka puasa bersama.

Pementasan ini merupakan kolaborasi Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan Medan Teater Tronic. Ketua Umum FJPI, Khariah Lubis, menegaskan isu bencana di Sumatra tidak boleh tenggelam setelah sorotan kamera meredup.

1. Sekitar 13 ribu warga masih bertahan di tenda pengungsian pada awal Ramadan

IMG-20260222-WA0071.jpg
Jurnalis Perempuan di Sumut akan tampil menyuarakan nasib 13 ribu pengungsi banjir Sumatera (Dok. FJPI)

Menurut perempuan yang akrab disapa Awi itu, justru setelah air surut, perjuangan pemulihan dimulai. Ia menyampaikan berdasarkan data Ketua Satgas Pemulihan Bencana Banjir di Pulau Sumatra, Tito Karnavian, sekitar 13 ribu warga masih bertahan di tenda pengungsian pada awal Ramadan, meski banjir telah berlangsung selama tiga bulan.

Sebagian warga, lanjutnya, kini tinggal di hunian sementara. Ada yang mendirikan tenda di atas puing rumah sendiri, menyewa tempat tinggal jika mampu, bahkan kembali ke rumah rusak dengan segala risiko.

“Isu bencana Sumatra ini harus terus naik di media supaya penanganan terhadap korban bisa cepat dan pasti,” kata Awi.

Dia menambahkan, korban bencana memiliki keterbatasan untuk bertahan lama di pengungsian. Karena itu, pementasan ini bukan sekadar panggung ekspresi, tetapi juga menjadi ruang penggalangan donasi yang hasilnya akan disalurkan langsung ke daerah terdampak.

“Ini bukan pertama kalinya FJPI menghadirkan jurnalisme lewat seni. Pada 2024, saat ulang tahun ke-17, kita mementaskan kisah-kisah jurnalis perempuan melalui pertunjukan dengan judul Tulang Panggang,” tuturnya.

2. Panggung kembali dihidupkan untuk mengangkat jurnalisme bencana sebagai suara

IMG-20260222-WA0069.jpg
Jurnalis Perempuan di Sumut akan tampil menyuarakan nasib 13 ribu pengungsi banjir Sumatera (Dok. FJPI)

Kini, panggung kembali dihidupkan untuk mengangkat jurnalisme bencana sebagai suara bagi mereka yang masih bertahan di pengungsian.

Awi menjelaskan, teater dipilih karena pers di berbagai negara terus mencari pendekatan kreatif dalam menyampaikan informasi. Melalui tubuh dan dialog, pesan dinilai mampu menembus sekat emosi dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Dia berharap teatrikal kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab pemulihan bukan hanya milik korban, tetapi juga pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

3. Penampilan ini upaya memperluas gerakan literasi

IMG-20260222-WA0070.jpg
Jurnalis Perempuan di Sumut akan tampil menyuarakan nasib 13 ribu pengungsi banjir Sumatera (Dok. FJPI)

Sementara itu, Ranggini selaku penggagas ide dan penulis naskah mengatakan kolaborasi ini menjadi upaya memperluas gerakan literasi, tidak hanya melalui baca-tulis, tetapi juga karya seni yang membangkitkan kesadaran publik.

Menurut Ketua Rumah Literasi Ranggi itu, teater dapat menjadi medium kuat untuk menyuarakan nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial.

“Kita berharap kolaborasi ini dapat menjadi ruang refleksi bersama,” ucapnya.

Ia mengajak masyarakat hadir menyaksikan pertunjukan sekaligus berpartisipasi dalam gerakan kebaikan melalui dukungan dan donasi bagi korban banjir di Sumatra. Disebutkan bahwa donasi dapat disalurkan melalui Yayasan Rumah Literasi Ranggi.

“Kita juga berharap setiap kepedulian yang diberikan menjadi secercah harapan bagi warga yang sudah lebih dari tiga bulan terdampak banjir bandang di Sumatra,” katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More