Tak Punya Uang, Keluarga Bingung Keluarkan Peluru dari Kepala Balita

Medan, IDN Times - Kalut-marut pikiran ibu 3 anak asal Belawan bernama Romanda Siregar. Sebab anak bungsunya yang masih berumur 4 tahun saat ini terbaring lemas di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Rongga matanya terluka berat disebabkan peluru nyasar pelaku tawuran, Senin (5/1/2026). Bahkan sampai berita ini ditulis, peluru tersebut belum bisa dikeluarkan dan masih bersarang di kepala balita itu.
Romanda mengaku sama sekali tak punya uang untuk membayar biaya perobatan, sebab anaknya harus dioperasi secepatnya. Dibantu keluarganya Romanda membuat surat miskin, sebab BPJS yang ia punya tak bisa menutupi segala biaya. Romanda kini bersiap diri karena anaknya akan kembali dirujuk ke Rumah Sakit yang memiliki dokter spesialis mata.
1. Keluarga korban peluru nyasar tak sanggup bayar biaya rumah sakit, kini berupaya urus surat miskin

Saat ditemui IDN Times, Romanda duduk di sisi anaknya yang tengah dirawat. Bocah yang belum genap berusia 5 tahun itu hanya terkulai dengan tangan diinfus dan mata sebelah kanan ditutup perban.
"Sekarang di Rumah Sakit kalau pakai BPJS tidak bisa menerima korban kecelakaan. Seperti halnya anak saya (korban) kecelakaan tawuran. Tadi kami sudah ajukan permohonan, minta tolong sama yang di atas (manajemen Rumah Sakit). Dan mereka menyarankan buat surat miskin dari kantor lurah agar bisa dapat keringanan, dan ini sedang diurus," kata Romanda kepada IDN Times, Selasa (6/1/2026).
Kini Romanda harap-harap cemas menunggu Surat Tidak Mampu dari Kantor Lurah datang diantar saudaranya. Sambil menunggu, ia tampak beberapa kali mengelus kepala putrinya mencoba menenangkan. Sementara ini mereka diterima dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pirngadi Medan.
"Selebihnya usai dari sini saya nggak tahu lagi mau bagaimana atau caranya membayar, saya tidak tahu. Dia ini Anak terakhir saya, cuma inilah anak perempuan saya, mohon pertolongannya," lanjut Romanda berderai air mata.
2. Belum dioperasi, peluru masih bersarang di kepala bocah 4 tahun

Romanda menatap nanar hasil rontgen kepala anaknya. Bahkan di jaket yang ia gunakan masih menjejak bercak darah anaknya yang belum ia cuci.
"Ini (di jaket) bekas darah masih anak saya. Saya ini belum sempat mandi, belum ganti baju, belum tidur, belum makan, belum semuanya. Buat laporan polisi pun belum. Siapa yg mau kita laporkan? Karena pelakunya massa remaja," beber perempuan berusia 33 tahun itu.
Ia berharap agar anaknya dapat dioperasi secepatnya. Sebab peluru senapan angin masih bersarang di tempurung mata anaknya nyaris mengenai otak.
"Saya benar-benar berharap bantuan pemerintah, mau bagaimanapun anak saya ini supaya dikeluarkan pelurunya. Tiap dia menangis dia bilang 'sakit, Mak'. Darah keluar bersamaan dengan air matanya," aku Romanda.
3. RS Pirngadi beri pertolongan medis sembari merujuk pasien ke RS yang punya dokter spesialis mata

Humas Rumah Sakit Pirngadi, Gibson Girsang, mengatakan bahwa pasien datang pada Senin malam. Hasil rontgen Rumah Sakit menunjukkan bahwa benar ada peluru yang bersarang di kepala anak 4 tahun itu.
"Hasil rontgen ada peluru di rongga kepala, dari dokter kami bilang itu peluru dan masih bersarang di kepalanya. Kondisi pasien mulai membaik. Namun, karena adanya benda itu tentu mengganggu," kata Gibson, Selasa (6/1/2025).
Di RS Pirngadi terdapat kendala berupa tidak adanya dokter spesialis mata. Meskipun begitu Pirngadi terus membantu pasien mendapat perawatan sementara sembari berkordinasi dengan Rumah Sakit rujukan secepat mungkin.
"Ini mau dirujuk ke RS Adam Malik atau RS USU. Adam Malik sudah kami hubungi, namun dokter bedah matanya tak ada. Di USU ada, tapi ruangannya penuh. Dari Pirngadi berkoordinasi mencari ruangan kosong agar langsung ke sana," pungkasnya.



















