Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Patung Sisingamangaraja Medan dan Kisah di Balik Monumennya

5 Fakta Patung Sisingamangaraja Medan dan Kisah di Balik Monumennya
Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)
Intinya Sih
  • Patung Sisingamangaraja XII di simpang Jalan Sisingamangaraja Medan diresmikan tahun 1992 dan menjadi ikon kota yang sering terlewatkan maknanya oleh warga.
  • Detail patung seperti kaki kuda terangkat, ornamen bunga teratai, dan senjata Piso Gaja Dompak memiliki simbol perjuangan, kemurnian niat, serta kewibawaan pemimpin Batak.
  • Pembangunan monumen sempat diperdebatkan lokasinya sebelum akhirnya dipilih Medan sebagai tempat strategis, meski bentuk patungnya pernah menuai kritik dari pengamat seni.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di simpang Jalan Sisingamangaraja, tidak jauh dari Stadion Teladan, ada sebuah patung besar yang hampir pasti pernah dilihat siapa pun yang sering melintas di kawasan itu. Letaknya tepat di tengah persimpangan yang ramai. Siang hari panas memantul dari aspal, malam hari lampu kendaraan berkelebat tanpa henti.

Patung itu berdiri di tengah semua keramaian itu. Diam saja. Kendaraan mengitarinya setiap hari, dari pagi sampai malam. Orang datang dan pergi, lampu merah berganti hijau, lalu lintas bergerak lagi seperti biasa.

Anehya, justru karena terlalu sering terlihat, banyak orang tidak benar-benar memperhatikannya lagi. Ia sudah seperti bagian dari pemandangan kota. Padahal patung tersebut adalah Patung Raja Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional dari Tanah Batak. Jika dilihat lebih teliti, monumen yang diresmikan pada tahun 1992 ini ternyata menyimpan cukup banyak detail menarik. Berikut beberapa fakta menarik yang sering luput dari perhatian orang.

1. Kaki kuda yang terangkat punya makna simbolik

Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)
Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)

Jika diperhatikan, kuda yang ditunggangi Sisingamangaraja XII tidak berdiri dengan empat kaki menapak tanah. Salah satu kaki depannya terlihat terangkat. Sekilas mungkin tampak seperti gaya artistik agar patung terlihat lebih dinamis.

Namun dalam tradisi patung berkuda, posisi kaki kuda sering dianggap memiliki makna tertentu. Kuda dengan satu kaki terangkat biasanya diartikan bahwa tokoh yang digambarkan pernah terluka dalam pertempuran, tetapi tidak langsung gugur saat itu juga. Simbol ini sering dikaitkan dengan perjalanan panjang perjuangan sang tokoh.

2. Ada ornamen bunga teratai di bagian belakang patung

Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)
Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)

Detail lain yang jarang diperhatikan terdapat pada bagian belakang monumen. Jika dilihat lebih dekat, terdapat ornamen berbentuk bunga teratai yang menghiasi struktur dasar patung.

Dalam banyak kebudayaan Asia, teratai dikenal sebagai simbol kemurnian. Bunga ini tumbuh dari lumpur, tetapi tetap mekar dengan kelopak yang bersih. Karena itu, sebagian orang memaknai simbol ini sebagai gambaran perjuangan yang lahir dari niat yang tulus.

3. Lokasinya dulu sempat diperdebatkan

Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)
Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)

Tidak banyak yang mengetahui bahwa lokasi pembangunan patung ini sempat menjadi bahan diskusi. Beberapa pihak berpendapat bahwa monumen Sisingamangaraja XII seharusnya dibangun di Bakkara, kawasan yang menjadi tanah kelahiran sang raja di sekitar Danau Toba.

Namun pada akhirnya pemerintah memilih Kota Medan sebagai lokasi monumen. Sebagai ibu kota Sumatera Utara dan pusat aktivitas masyarakat, Medan dianggap lebih strategis agar monumen ini dapat dilihat oleh lebih banyak orang.

4. Senjata yang diangkat adalah Piso Gaja Dompak

Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)
Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)

Pada patung tersebut, Sisingamangaraja XII digambarkan mengangkat senjata di tangan kanannya, sementara tangan kiri memegang tali kekang kuda. Senjata itu bukan sekadar pedang biasa.

Dalam budaya Batak Toba, senjata tersebut dikenal sebagai Piso Gaja Dompak, salah satu pusaka penting yang melambangkan kewibawaan dan kekuasaan seorang pemimpin. Karena itu, keberadaannya pada patung ini juga memiliki makna simbolik.

5. Bentuk patungnya pernah mendapat kritik

Monumen Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)
Monumen Patung Sisingamangaraja (Mangara Wahyudi)

Sebagai monumen besar di ruang publik, patung ini tentu tidak lepas dari perhatian para pengamat seni rupa. Beberapa kajian pernah menyoroti bentuk anatomi kudanya yang dinilai terlihat agak kaku.

Selain itu, ada pula yang menganggap perbandingan ukuran antara figur raja dan tubuh kudanya terasa kurang proporsional. Namun kritik seperti ini cukup wajar untuk karya patung monumental yang dibuat dari beton bertulang dan harus bertahan lama di ruang terbuka.

Meski begitu, Patung Sisingamangaraja XII tetap menjadi salah satu monumen yang paling mudah dikenali di Medan. Banyak orang mungkin melewatinya setiap hari tanpa benar-benar memikirkan apa pun tentangnya.

Padahal jika dilihat lebih lama, patung itu sebenarnya menyimpan cukup banyak cerita. Tentang sejarah, tentang simbol, dan tentang bagaimana sebuah kota menyimpan ingatan masa lalunya di tengah kehidupan yang terus bergerak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More