Ratapan Keluarga Melepas Kepergian Kopda Rico di Makam Pahlawan

Deli Serdang, IDN Times - Di balik pagar Taman Makam Pahlawan (TMP) Lubuk Pakam, seorang pria lanjut usia tampak berkali-kali menyeka air matanya menggunakan ujung baju. Sesekali bahunya tampak bergetar mencoba menahan isak yang membuncah.
Pria itu adalah mertua Kopda Rico yang datang jauh-jauh dari Batubara. Ia menyendiri melihat dari jauh sang menantu yang jasadnya baru saja dikuburkan. Sementara anaknya bernama Yulia, tampak menangis di pinggir makam suaminya.
1. Tangis sang mertua di pemakaman Kopda Rico

Saat bercerita dengan IDN Times di TMP Lubuk Pakam, mertua Kopda Rico berkali-kali menitikkan air matanya. Ia begitu terpukul menerima fakta menantunya gugur di Lebanon saat bertugas menjadi pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
"Karena ini (gugurnya Kopda Rico) saya sakit. Karena teringat terus. Kepala sakit, tiap hari harus minum obat," aku mertua Kopda Rico sambil terisak, Rabu (29/4/2026).
Sudah lama dirinya tidak bertatap muka dengan sang menantu. Jika rindu, mereka hanya bisa bertukar kabar lewat Video Call (VC) WhatsApp.
"Bulan 9 lalu dia diperbolehkan pulang, boleh dijemput. Tapi dia nggak pulang, dia milih umroh di sana," lanjutnya.
2. Semasa hidup saat berdinas di Lebanon, Kopda Rico sering VC dengan anaknya

Kopda Rico gugur meninggalkan seorang istri dan putra yang belum genap berusia 3 tahun. Istri Kopda Rico diketahui bernama Yulia Putri dan anak mereka bernama Rasya Pramudia.
Selama Kopda Rico bertugas di Lebanon, Rasya kecil dijaga oleh ibu dan kakeknya. Ia jarang berjumpa dengan ayahnya karena Kopda Rico ditugaskan ke Papua, lalu mengambil pendidikan TNI di Bogor, hingga ditugaskan ke Lebanon.
"Anaknya itu dekat sama saya. Karena saya yang sering jumpa dia. Kalau sama ayahnya itu hanya bisa VC saja, kan. Rasya ini cucu pertama saya," beber mertua Kopda Rico.
Di mata mertua, Kopda Rico dikenal sebagai pribadi yang baik. Bahkan ia mengatakan Rico adalah menantu yang saleh.
"Iya dia sering kirim dakwah Ustadz Hidayat," sebutnya.
3. Abang kandung Kopda Rico: kami menerima kepulangan almarhum

Abang kandung Kopda Rico juga mengaku terpukul usai mendengar kabar adiknya gugur di Lebanon. Namun, ia menganggap bahwa insiden ini merupakan suratan takdir dari Tuhan.
"Atas nama keluarga almarhum, perkenankanlah kami menyampaikan beberapa patah kata, sebagai ungkapan yang ada di hati dan kami rasakan atas kembalinya almarhum ke sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Meskipun sangat memukul dan menyedihkan yang kami rasakan, kami menerima kepulangan almarhum karena itu merupakan suatu suratan takdir dari Allah SWT," kata abang kandung Kopda Rico Pramudia.
Ia turut berterima kasih kepada berbagai pihak yang turut serta membantu dari proses evakuasi, pengobatan, sampai dengan Kopda Rico dinyatakan meninggal dunia. Begitu pula dengan proses repatriasi (pengiriman jenazah) dari daerah misi sampai dengan tiba di rumah duka.
"Kami juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, baik materi, tenaga, pikiran, dan doa yang tulus untuk adik kami tercinta, Kopda Anumerta Riko Pramudia," pungkasnya.


















