Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tari Dulang Langkat, Saat Jurus Silat Menari di Atas Piring

Tari Dulang Langkat, Saat Jurus Silat Menari di Atas Piring
Tari Dulang (Mangara Wahyudi)
Intinya Sih
  • Tari Dulang berasal dari masyarakat Melayu Langkat, diwariskan turun-temurun tanpa catatan pasti penciptanya, dan sempat bangkit kembali dalam pertunjukan budaya sejak tahun 1986.
  • Gerakan Tari Dulang memadukan kelembutan tari Melayu dengan jurus pencak silat, menuntut keluwesan, kekuatan, serta keseimbangan tinggi dari para penarinya.
  • Keunikan tarian ini terletak pada penggunaan dulang dan piring sebagai properti utama, di mana penari melangkah di atasnya sambil menjaga ritme dan keseimbangan tubuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada kalanya kebudayaan Nusantara terasa seperti gudang lama yang ada di belakang rumah. Pintu kayunya jarang dibuka. Dan begitu dibuka sedikit, debu langsung beterbangan halus, cukup untuk membuat hidung terasa gatal.

Kebudayaan Nusantara pun kurang lebih begitu rasanya. Begitu “dibuka”, isinya ternyata bermacam-macam. Ada yang sudah lama dikenal orang, ada pula yang sebenarnya sudah hidup ratusan tahun.

Di pesisir timur Pulau Sumatera, tepatnya di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ada satu kesenian yang kurang lebih seperti gudang lama itu. Tari ini tidak selalu ramai dibicarakan, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat Melayu. Namanya Tari Dulang.

Sebuah tarian yang kalau diperhatikan lebih lama, membuka banyak cerita. Ada yang berkaitan dengan sejarahnya, ada yang muncul dari gerakannya, dan ada pula yang justru tersembunyi di balik hal-hal kecil yang sering tidak terlalu disadari. Oleh karenanya, berikut fakta unik tentang Tari Dulang yang terus berdiri tegak, dalam kayanya kebudayaan Nusantara.

1. Sejarahnya Ada, Tapi Tidak Pernah Betul-betul Pasti

Menghidupkan Lilin yg akan digunakan pada tarian Dulang (Mangara Wahyudi)
Menghidupkan Lilin yg akan digunakan pada tarian Dulang (Mangara Wahyudi)

Menelusuri asal-usul Tari Dulang sering berakhir pada satu kesimpulan yang agak menggantung, tidak ada catatan yang benar-benar pasti tentang siapa penciptanya atau kapan tarian ini pertama kali muncul. Yang diketahui hanya bahwa tarian ini sudah lama hidup di tengah masyarakat Melayu Langkat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal seperti ini sebenarnya biasa dalam kesenian tradisional. Banyak tarian lahir dari kebiasaan masyarakat yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Tidak selalu dimulai oleh satu orang, melainkan terbentuk dari budaya yang terus diulang, lama-lama menjadi tradisi.

Beberapa cerita juga menyebut bahwa Tari Dulang pernah berkembang di lingkungan kerajaan Melayu dan dipentaskan dalam acara adat tertentu. Seiring waktu, keberadaannya sempat jarang terdengar, sebelum akhirnya kembali dipentaskan dalam kegiatan budaya masyarakat sekitar tahun 1986. Sejak saat itu, tarian ini mulai muncul lagi dalam berbagai pertunjukan seni.

2. Gerakannya Halus, Tetapi Berasal dari Silat

Tari Dulang (Mangara Wahyudi)
Tari Dulang (Mangara Wahyudi)

Sekilas Tari Dulang tampak seperti tarian Melayu pada umumnya. Gerakannya lembut, mengikuti irama musik yang mengalir pelan. Namun kalau diperhatikan lebih lama, ada bagian-bagian tertentu yang terasa berbeda.

Beberapa gerakan terlihat seperti posisi kuda-kuda. Ada juga langkah yang mengingatkan pada gerakan menghindar dalam bela diri. Tidak terlalu mencolok, tetapi cukup terasa.

Dan uniknya, itu semua memang bukan kebetulan. Sebagian besar gerakan Tari Dulang berasal dari jurus pencak silat yang kemudian diolah menjadi gerakan tari. Karena itu penarinya tidak hanya membutuhkan keluwesan tubuh, tetapi juga kekuatan dan keseimbangan yang baik.

3. Ada Bagian Ketika Penari Melangkah di Atas Piring

Tari Dulang (Mangara Wahyudi)
Tari Dulang (Mangara Wahyudi)

Salah satu hal yang paling menarik dari Tari Dulang adalah penggunaan propertinya. Tarian ini menggunakan dulang, yaitu nampan besar yang dalam tradisi Melayu biasa digunakan untuk menyajikan makanan atau perlengkapan adat.

Di atas dulang, biasanya diletakkan beberapa piring. Kadang juga lilin yang menyala sebagai bagian dari pertunjukan. Pada satu bagian tarian, terdapat gerakan yang dikenal sebagai meniti batang. Penari melangkah di atas piring dan dulang tersebut sambil tetap mengikuti irama musik dan rangkaian gerakan tari. Kelihatannya sederhana. Tapi sebenarnya tidak.

Gerakan ini membutuhkan keseimbangan tubuh yang sangat baik. Penari harus menjaga posisi kaki, ritme gerakan, dan koordinasi tubuh agar piring tidak bergeser atau jatuh selama pertunjukan berlangsung.

4. Formasi Penarinya Menyimpan Pola Geometri

Proses latihan pengiring musik pada tari Dulang ( Mangara Wahyudi)
Proses latihan pengiring musik pada tari Dulang ( Mangara Wahyudi)

Kajian modern tentang budaya mencoba melihat Tari Dulang dari sudut pandang yang sedikit berbeda sebagai bagian dari pengetahuan budaya. Dalam penelitian etnomatematika, ditemukan bahwa formasi penari dalam tarian ini memiliki pola tertentu yang dapat dikaitkan dengan konsep matematika.

Ketika lima penari tampil bersama, posisi mereka dapat membentuk pola yang menyerupai bangun segi lima. Selain itu, gerakan dulang yang digeser ke kanan dan kiri secara berulang, juga dapat dikaitkan dengan konsep translasi dalam geometri, atau perpindahan suatu objek tanpa mengubah bentuknya.

Praktik budaya tradisional kadang menyimpan pola pengetahuan yang cukup kompleks, meskipun tidak selalu disadari secara ilmiah oleh masyarakat yang mempraktikkannya.

5. Musiknya Mengikuti Alur Gerakan Tarian

Seorang pria memainkan serunai persiapan mengiringi tari Dulang (Mangara Wahyudi)
Seorang pria memainkan serunai persiapan mengiringi tari Dulang (Mangara Wahyudi)

Pertunjukan Tari Dulang selalu diiringi oleh musik tradisional Melayu yang berfungsi menjaga ritme dan suasana pertunjukan. Musik ini juga menjadi semacam penanda perubahan bagian dalam tarian.

Pada bagian awal biasanya dimainkan irama yang dikenal sebagai patam-patam. Ketika tarian memasuki bagian inti, irama musik berubah menjadi anak ikan. Menjelang akhir pertunjukan, irama kembali menggunakan patam-patam sebagai penutup. Pola perubahan irama ini membuat rangkaian tarian terasa mengalir, dari awal hingga akhir.

Tari Dulang menunjukkan bagaimana sebuah kesenian tradisional dapat bertahan dalam waktu yang panjang. Gerakannya memadukan unsur bela diri, keseimbangan tubuh, dan estetika pertunjukan yang berkembang dari kehidupan masyarakat Melayu.

Di tengah perubahan zaman, kesenian seperti ini menjadi pengingat bahwa tradisi tidak selalu tersimpan dalam buku sejarah atau museum. Banyak di antaranya justru masih hidup di panggung sederhana, ditarikan oleh masyarakat yang terus menjaga dan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More