Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Andalkan Energi Terbarukan, Nusacube Dongkrak Kesejahteraan Nelayan di Wilayah 3T

ARFL2766 - Copy.JPG
Dana Saputra, Direktur PT Alana Green Electric (Kiri) bersama tim saat mengerjakan Nusacube (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Mojokerto, IDN Times - Bagi nelayan kecil, es batu seperti napas. Dengan perahu yang berlayar pelan dari tengah laut dan tanpa es batu, ikan yang mereka tangkap akan lebih cepat membusuk. Jika sudah membusuk maka harga ikan menjadi lebih murah.

Bayangkan, jika nelayan tinggal di pulau terpencil, tanpa akses listrik, tanpa akses air bersih, dan jauh dari pulau induk. Bagaimana cara mereka membuat es batu dan mempertahankan kualitas ikan tangkapan?

Pertanyaan itu terus berenang berputar-putar di kepala Dana Saputra, pendiri PT Alana Green Electric. Empat tahun sudah dia memimpin perusahaannya sendiri mengarungi bisnis pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Indonesia.

Dua tahun lalu, terbesit di benaknya bahwa PT Alana Green Electric harus berinvestasi membantu nelayan-nelayan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) Indonesia untuk membuat mesin produksi es batu bertenaga surya dan bayu yang ia beri nama Nusacube.

Tujuannya agar nelayan kecil bisa menikmati listrik 24 jam, air bersih, dan tak perlu lagi menyeberang ke pulau induk hanya untuk membeli es batu. Biaya membeli es batu harus bisa ditekan, harga ikan segar bisa dinaikkan, kesejahteraan nelayan akan meningkat.

Apa yang dilakukan Dana Saputra selaku Direktur PT Alana Green Electric untuk mewujudkan mimpinya?

Mimpi besar itu dimulai dari Pagerungan Kecil

b450b391ab713161f7c95dedd5712df3fe4bcce2.jpg
Pemasangan PLTS di Pulau Pagerungan Kecil (Dok. sumenepkab.go.id)

Mimpi besar Dana ingin mendongkrak kesejahteraan nelayan kecil di pulau-pulau 3T Indonesia muncul setelah PT Alana Green Electric mendapatkan klien di pulau terluar Jawa Timur. Pertama, proyek pembuatan freezer obat-obatan dengan PLTS dan PLTB untuk Puskesmas Pembantu di Pulau Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur.

Untuk tiba ke pulau itu, Dana harus menempuh jalan darat dari Mojokerto ke Kabupaten Sumenep selama 6 jam. Dari Sumenep menaiki kapal selama 5-6 jam ke Pulau Pagerungan Kecil. Opsi lain, dari Sumenep bisa naik pesawat Susi Air hanya 1 jam penerbangan ke Pulau Pagerungan Besar lalu naik boat sekitar 1 jam untuk sampai ke Pulau Pagerungan Kecil. Namun jadwal penerbangan hanya tersedia satu kali pada hari Selasa dan Rabu saja.

Begitu tiba di pulau ini, persoalan lain masih ada lagi, listrik hanya menyala 2-4 jam per hari menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Solar (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Untuk mengatasi persoalan listrik ini, Puskesmas melalui pemerintahan desa meminta PT Alana Green Electric memasang PLTS dan PLTB dan digunakan secara hybrid untuk menyalakan lemari pendingin tempat penyimpanan obat dan lampu penerangan di ruang rawat inap puskesmas pembantu.

Setelah pengerjaan untuk puskesmas selesai, proyek kedua datang dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Nelayan di Pulau Pagerungan Kecil. Mereka menawarkan untuk kerjasama membuat freezer dan mesin pembuat es batu bertenaga hybrid PLTS dan PLTB.

Penerapan sistem hybrid PLTS dan PLTB di Pagerungan Kecil, jelas Dana, untuk saling melengkapi satu sama lain. Secara teknis, turbin angin PLTB bisa berputar 24 jam apabila ada angin yang cukup untuk menggerakkan bilahnya. PLTB menjadi back up yang sangat bagus untuk PLTS yang ketika malam tidak mendapat sinar matahari.

Kemudian, saat pagi hingga sore hari solar panel lebih dominan karena intensitas matahari yang tinggi dan dapat terserap sempurna. Inilah yang menjadi landasan sistem hybrid sangat tepat digunakan di Pulau Pagerungan kecil.

Bagi pulau berpenduduk 6.000 KK yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, keberadaan freezer dan mesin pembuat es batu sangat dibutuhkan. Selama ini nelayan harus membeli es batu dari pulau induk atau dari kapal-kapal ikan yang besar di tengah laut dengan harga yang tidak murah. Namun kemampuan dana desa sangat terbatas, sehingga muncul tawaran kerjasama antara BUMDes, Koperasi, dan PT Alana Green Electric.

“Kami terima tawaran itu. Berapa kesanggupan desa, sisanya kami yang akan berinvestasi. Saya berpikir PT Alana harus berani berinvestasi, kalau tidak, bagaimana mungkin pihak lain mau berinvestasi kepada kami,” ujar Dana saat ditemui IDN Times di bengkel PT Alana Green Electric, Mojokerto, Jawa Timur, pada pertengahan Desember 2025.

Setelah terjadi kesepakatan kerjasama, maka Dana melakukan perhitungan biaya untuk membangun mesin pembuat es batu atau freezer di Pulau Pagerungan Kecil.

Selain mesin es batu, PT Alana juga harus menyediakan alat filtrasi pengubah air payau menjadi air bersih. Karena bahan baku es batu tidak boleh dari air payau. Jika dipaksakan menggunakan air payau, mesin freezer tidak akan bisa membekukannya menjadi es batu.

Modal untuk membuat satu unit Nusacube beserta infratruktur pendukungnya berkisar Rp500 jutaan. Jika Dana Desa atau BUMDes bisa dialokasikan sebesar Rp250 juta, maka sisanya adalah investasi dari PT Alana.

Nantinya hasil keuntungan dari penjualan es batu akan dibagi untuk kedua pihak. Setelah 5 tahun, 100 persen kepemilikan Nusacube akan menjadi milik Desa dan PT Alana tidak mengambil keuntungan lagi. Namun tanggung jawab perbaikan jika ada kerusakan masih jadi tanggung jawab PT Alana.

“Kapasitas alat filtrasi itu bisa sekitar 3.000 liter per hari. Sebagian kita pakai untuk membuat es batu, sebagian kita salurkan ke masyarakat untuk masak atau kebutuhan dapur,” jelasnya.

Projek ini tergolong berhasil. Sudah dua tahun berjalan, dengan kapasitas pembuatan es batu 900 kg per hari, tidak ada masalah berarti pada mesin freezer. Pelanggan pun terus berdatangan dari berbagai pulau tetangga.

Selain itu penghasilan nelayan di Pulau Pagerungan Kecil juga meningkat. Dengan adanya mesin pembuat es batu, biaya pembelian es batu lebih hemat 50 persen, ikan yang mereka tangkap lebih segar dan harganya meningkat hingga 70 persen.

“Kami juga menginisiasi pemberdayaan agar masyarakat bisa mengolah ikan-ikan hasil tangkapan untuk dijadikan olahan ikan kemasan yang bisa dijual ke seluruh daerah di Indonesia, khususnya untuk ibu-ibu. Mengajarkan mereka cara menyimpan dan mengolah ikan menjadi berbagai macam olahan dan rasa, sealing and packaging, serta cara melakukan pemasaran online. Keuntungan dari penjualan olahan ikan aneka rasa mencapai hampir 20 kali lipat dibandingkan dengan penjualan ikan yang dikeringkan menjadi ikan asin berkapasitas 200 kilogram ikan per empat hari,” jelasnya.

Dengan adanya Nusacube, listrik 24 jam, dan kebutuhan air bersih terpenuhi, PT Alana Green Electric tidak hanya berhasil membuat inovasi, tapi juga berhasil membangun komunitas nelayan dan perempuan yang lebih sehat dan kuat. Ini menjadi modal yang penting Dana dan timnya untuk ekspansi bisnis energi terbarukan ke pulau-pulau tetangga.

Pada titik ini lah benak Dana terusik. Pagerungan Kecil hanya satu dari ribuan pulau 3T yang ada di Indonesia. PT Alana Green Electric harus bisa memberi manfaat pada lebih banyak nelayan kecil di pulau-pulau terluar lainnya. Karena listrik 24 jam, air bersih, dan kemapanan ekonomi adalah hak dasar setiap warga negara dimanapun berada.

Dana akhirnya menawarkan ide pembuatan Nusacube, mesin pembuat es batu bertenaga hybrid PLTS dan PLTB untuk wilayah 3T Nusantara pada program Kinetix Nex yang digelar oleh New Energy Nexus Indonesia pada tahun 2025. Jika proposal diterima, Nusacube akan bisa diterapkan di daerah terpencil lain, lebih banyak nelayan yang bisa menerima manfaatnya.

“Tim yang solid di Desa Pagerungan Kecil jadi modal kami. Kami melirik pengembangan bisnis ke pulau lain di sebelahnya, dimulai dari Pulau Sadulang Besar. Jaraknya sekitar 15-20 menit menggunakan speed boat dari Pagerungan Kecil. Nah, ide ini lah yang kami ajukan untuk mendapat dukungan dari program Kinetik Nex,” ungkapnya.

Menurutnya Nusacube sangat tepat dengan kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, dengan diterangi matahari sepanjang tahun dan angin yang kencang sepanjang hari.

Duplikasi kesuksesan di Pulau Pagerungan Kecil

DJI_0488.jpg
PLTS dan PLTB di Pulau Pagerungan Kecil (Dok. alanaelectric.com)

Ide membawa inovasi Nusacube ke Pulau Sadulang Besar dalam proposal PT Alana Green Electric adalah hasil duplikasi dari apa yang sudah mereka lakukan di Pulau Pagerungan Kecil selama 2 tahun terakhir. Dengan penyempurnaan.

Pengguna Nusacube mulai dari pengurus BUMDes, Pengurus Koperasi Nusantara Jaya Abadi, perangkat desa, tenaga kesehatan puskesmas hingga nelayan mereka dengarkan masukannya.

Kepala Desa Pagerungan Kecil, Halilurahman bercerita inisiatif PT Alana Green Electric memperkenalkan energi terbarukan membawa perubahan besar di desa yang ia pimpin. Pertama kali datang ke Pagerungan Kecil pada Januari 2023, PT Alana Green Electric bersama Pertamina Foundation memasang PLTS dan PLTB untuk menerangi kantor desa, puskesmas pembantu, penerangan jalan, dan pelayanan publik lainnya dengan monitoring system.

Dengan teknologi ini, Desa Pagerungan Kecil tercatat sebagai desa pertama di Kabupaten Sumenep yang menggunakan pembangkit listrik dari energi terbarukan dan menggunakan sistem energi terpusat.

"Kami bersyukur, dengan adanya pembangkit listrik terbarukan ini, setidaknya dapat menjangkau pelayanan umum, seperti pelayanan kesehatan, kantor pemerintah desa, dan beberapa lembaga pendidikan pada saat ujian berbasis komputer," kata Halilurahman.

Keberadaan PLTS dan PLTB di salah satu pulau terluar Sumenep ini merangsang kreativitas warga Desa Pagerungan Kecil. Misalnya BUMDes dan Koperasi Nusantara Jaya Abadi mengajukan kerjasama kepada PT Alana Green Electric mendirikan Rumah Industri Pabrik Es Mini. Bisnis ini dianggap menjanjikan karena sebagian besar penduduk Pagerungan kecil berprofesi sebagai nelayan.

Salah satu hasil laut yang paling terkenal dari Desa Pagerungan Kecil adalah Ikan Layang karena rasanya yang lezat dan tekstur daging yang lembut. Semua ikan hasil tangkapan nelayan Desa Pagerungan Kecil akan dijual kepada Koperasi Nusantara Jaya Abadi. Koperasi Desa ini yang akan menjual kepada agen yang lebih besar dari Banyuwangi, Surabaya, dan daerah lain. Itulah alasan lemari pendingin dan mesin pembuat es batu sangat penting bagi koperasi ini.

Ketua Koperasi Nusantara Jaya Abadi, Abdul Rahim menjelaskan koperasi biasanya menampung ikan sebanyak 600-700 kilogram per empat hari. Namun hanya mampu menjual kurang lebih 400 kilogram ke agen-agen besar. Sisa ikan yang tidak terjual harus dikeringkan dan dijadikan ikan asin sehingga harga jual semakin menurun. 

Pada tahun 2022, Pulau Pagerungan Kecil belum teraliri listrik selama 24 jam, melainkan hanya 2-4 jam per hari. Mengandalkan dua pembangkit listrik yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Solar (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Kondisi ini tidak memungkinkan untuk menggunakan lemari pendingin sebagai tempat penyimpanan ikan.

PLTS dengan kapasitas 50 KVA yang dikelola oleh PLN hanya mampu memasok listrik selama 4 jam di musim kemarau dan 2 jam selama musim penghujan, bergiliran untuk dua dusun dalam satu hari. Sedangkan PLTD dengan kapasitas 350 KVA dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi pemasok listrik utama.

Satu jaringan transmisi listrik harus dibagi untuk 5 rumah dikarenakan hanya tersedia satu kWh meter per 5 rumah. PLTD yang memasok listrik selama 4 jam dengan tarif yang mahal, Rp430 Ribu per bulan bagi nelayan kecil.

Kelangkaan solar dan banyaknya warga yang menunggak menyebabkan BUMDes mengalami kerugian. Dampaknya, PLTD harus dimatikan oleh petugas desa dan masyarakat tidak dapat menikmati listrik yang bersumber dari diesel. Hanya gelap yang ditatap masyarakat setiap malam. 

Begitu PLTS dan PLTB berhasil dipasang dan digunakan secara hybrid pada awal Januari 2023, Pulau Pagerungan Kecil bisa menikmati listrik 24 jam. Pelayanan Publik, Pelayanan Kesehatan, BUMDes dan Koperasi Nelayan mengalami kemajuan.

“PT Alana Green Electric memberikan solusi bagi kami untuk menjaga kualitas ikan tangkapan kami dengan inovasinya yang sangat bermanfaat yaitu mesin es batu dan cold room storage tenaga Hybird PLTS dan PLTB,” ungkap Abdul Rahim.

Kini total ada 8 unit usaha BUMDes Pagerungan Kecil yang sebagian besar memanfaatkan energi dari PLTS dan PLTB. Di antaranya Pengelolaan Pasar Desa, Toko Nelayan dan Sembako, GOR Indoor Futsal, GOR Indoor Badminton. Ada juga usaha Saluran Air bersih, Usaha Dermaga Utama Desa, dan Rumah Industri Pabrik Es Mini. Tak heran pulau ini kini dijuluki 'Pulau Berdikari Energi' oleh Pemkab Sumenep.

Puncaknya, pada pertengahan 2025, Pagerungan Kecil resmi dinobatkan sebagai Desa Inspiratif dalam Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan untuk Pelayanan Publik dalam ajang SMSI Award 2025. Desa Pagerungan Kecil dianggap berhasil dalam memanfaatkan energi terbarukan untuk menunjang berbagai layanan publik. 

“Pulau kami yang terpencil ini bisa menjadi contoh nyata bagaimana pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat kami,” ungkap Kepala Desa, Halilurahman.

Tak lupa ia juga berterima kasih kepada PT Alana Green Electric yang melakukan instalasi PLTS dan PLTB untuk balai desa dan puskesmas pembantu di Pulau Pagerungan Kecil dan telah membawa perubahan besar.

“PT Alana melakukan pekerjaannya dengan cepat, terstruktur, dan teroganisir dengan baik. Sistem yang diterapkan bisa langsung kami gunakan tanpa adanya trouble. Selain itu kami juga diberikan pelatihan untuk mengoperasikan alat tersebut beserta cara untuk merawatnya,” jelasnya.

Dengan 'asam-garam' di Pagerungan Kecil, berhasilkah Dana Saputra meraih dukungan mengembangkan Nusacube ke Sadulang Besar dari program Kinetik Nex?

Program Kinetik Nex jadi batu pijakan untuk melompat lebih tinggi

ARFL2979 - Copy.JPG
Dana Saputra, Direktur PT Alana Green Electric (baju biru) bersama tim saat mengerjakan Nusacube (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Pada pertengahan November 2025, New Energy Nexus Indonesia akhirnya mengumumkan lima startup Indonesia yang menerima dukungan pendanaan dari Program Kinetik Nex. Salah satunya adalah PT Alana Green Electric.

Program Kinetik Nex pada dasarnya berupaya mendorong dan semangat baru bagi lahirnya inovasi-inovasi lokal yang menawarkan solusi nyata terhadap tantangan transisi energi dan perubahan iklim. Sekaligus mempercepat pemerataan manfaat energi bersih bagi masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.

Direktur New Energy Nexus Indonesia, Diyanto Imam, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mendukung para inovator dan wirausahawan di seluruh Indonesia. Ia meyakini bahwa solusi transisi energi dan iklim harus lahir dari daerah, dengan mengangkat ide, gagasan, dan inovasi berbasis kearifan lokal.

“Kami berupaya memanfaatkan pengetahuan lokal dan menggabungkannya dengan pengalaman (New Energy Nexus Indonesia) enam tahun terakhir untuk terus mendukung perkembangan dan aktivitas nyata para inovator di seluruh Indonesia,” jelasnya dalam siaran pers yang diterima IDN Times.

Urgensi inovasi ini diperkuat oleh data Joint Research Center–European Commission yang menunjukkan peningkatan emisi gas rumah kaca, konsentrasi gas di atmosfer yang terus naik, serta pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan. Pada 2024, suhu permukaan bumi bahkan mencapai rekor baru, yaitu 1,6°C di atas rata-rata era pra-industri.

Dana mengaku senang sekaligus lega setelah upaya beberapa bulan terakhir berbuah manis dengan mendapat dukungan dari program Kinetix Nex. Program ini membantu PT Alana Green Electric mewujudkan mimpi membawa Nusacube bertenaga hybrid PLTS dan PLTB menjangkau pulau-pulau 3T Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.

“Saya berpikir PT Alana Green Electric harus jadi lebih dari saat ini. Kita jangan hanya bicara omzet, tapi harus berperan untuk mendorong perubahan ke arah energi terbarukan dan berkelanjutan. Saya pikir ini yang akan membuat bisnis kami berbeda dari yang lain dan bisa sustainable,” ungkapnya.

Dengan bantuan dari Program Kinetik Nex, PT Alana Green Electric akan memasang satu set alat Nusacube di Pulau Sadulang Besar awal tahun ini. Di antaranya solar panel berkapasitas 8.200 Watt Peak dan Turbin Angin 1.000 watt. Kapasitas total menjadi 9.000 watt.

Lalu memasang inverter untuk mengubah tenaga DC menjadi AC dan pemasangan baterai lithium 20 kWh, untuk menyimpan energi yang diserap pada siang hari dan digunakan pada malam hari. Serta alat filtrasi untuk mengolah air payau menjadi air bersih. Desember lalu, Dana dan tim sudah melakukan survey ke lokasi, rencananya akan melakukan pemasangan alat pada awal Februari 2026.

Satu alat Nusacube bisa menampung 50 cetakan es batu berukuran 5 kilogram. Sekali produksi bisa menghasilkan 250 Kg es batu dan dalam sehari maksimal hanya bisa dua kali operasional dengan waktu produksi 10-12 jam.

“Dalam satu hari, mesin Nusacube ini nantinya bisa menghasilkan 500 kilogram es batu. Ini masih di bawah kebutuhan seluruh nelayan di satu pulau, ada pulau yang kebutuhan es batunya mencapai 3-4 ton per hari,” ujar pria 31 tahun ini.

Tak hanya datang memasang alat, tim PT Alana Green Electric akan mengajarkan anggota BUMDes dan koperasi untuk mengoperasikan Nusacube dan memperbaikinya jika terjadi kerusakan ringan. Sehingga proses perbaikan akan bisa dilakukan dengan cepat, tidak perlu menunggu tim PT Alana datang dari Mojokerto.

Selain itu akan melakukan pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan di Pulau Sadulang Besar untuk mengolah hasil laut. Meski bertetangga dengan Pagerungan Kecil, potensi laut Pulau Sadulang Besar tidak hanya ikan, ada pula rumput laut. Rumput laut yang dibudidayakan warga biasanya berjenis Cattoni dan Spinosum.

Peluang ini yang akan dipelajari oleh PT Alana Green Electric. Setelah satu tahun program berjalan akan dievaluasi apakah perlu dilakukan penambahan alat atau menambah infrastruktur pendukung lainnya. Serta pelatihan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk menaikkan nilai jual ikan dan rumput laut.

Pulau Terluar Jatim 2.jpg
Letak Pulau Pagerungan Kecil dan Sadulang Besar (Dok. Google Map)

Berdasarkan survey awal yang dilakukan PT Alana, dengan total nelayan berjumlah 500 orang di Desa Sadulang Besar, kebutuhan es batu bisa mencapai 4 ton per hari. Dengan produksi yang masih jauh dari jumlah kebutuhan nelayan, BUMDes akan mengutamakan penjualan pada nelayan-nelayan kecil yang berangkat malam dan pulang pagi hari.

“Kalau nelayan besar biasanya mereka sudah memborong es batu untuk mencari ikan berhari-hari. Tentu mereka sudah punya modal besar juga, jadi Nusacube ini akan kita utamakan untuk memenuhi kebutuhan nelayan kecil dulu,” tambahnya.

Total nilai investasi beserta biaya pengantaran dan pemasangan mencapai Rp500 juta per satu perangkat Nusacube. Angka ini, tambah Dana, tidak bisa disamaratakan untuk semua pulau. Karena jarak dan akses ke pulau-pulau 3T sangat beragam dan memiliki tantangan yang berbeda-beda. Untuk pengiriman barang, Dana biasanya memanfaatkan jasa nelayan lokal.

Kontrak kerjasama, jelas Dana, biasanya berdurasi 5 tahun. Setelah itu teknologi Nusacube 100 persen akan menjadi milik BUMDes atau koperasi. Usia pakai Nusacube diperkirakan bisa mencapai 15-20 tahun dan beberapa alat memiliki garansi resmi hingga belasan tahun.

Pasca instalasi, PT Alana Green Electric akan memberi pelatihan untuk calon operator, petugas pemeliharaan, dan engineer. Mereka akan diajarkan teknologi-teknologi Nusacube, cara pemasangan, hingga perbaikan jika terjadi kerusakan.

Belajar dari pengalaman 2 tahun di Pulau Pagerungan Kecil, PT Alana Green Electric sudah memetakan masalah apa yang paling sering muncul pada Nusacube. Untuk itu, saat pengiriman alat akan disertakan suku cadang yang paling rawan rusak. Jika ada masalah, operator lokal bisa langsung cepat mengganti sendiri.

“Dengan adanya Nusacube di pulau terpencil, nelayan bisa mendapatkan kepastian stok es batu, nggak perlu jauh-jauh ke pulau lain dan yang pasti harga relatif murah jika dibandingkan harus beli ke pulau lain. BUMDes juga akan mendapatkan keuntungan. Net profit-nya itu nanti dibagikan ke investor. Jika BUMDes membutuhkan penambahan alat baru, kita akan lakukan penambahan. Jadi kami concern-nya itu langsung ke end user-nya, langsung di daerah 3T,” tutur lulusan Magister Management Bisnis Universitas Paramadina ini.

Meraih dukungan dari Program Kinetik Nex tidak membuat Dana berpuas diri dan berhenti berinovasi. Malah menjadi batu pijakan untuk PT Alana Green Energy bisa melompat lebih tinggi, menjangkau wilayah 3T lebih banyak dan semakin berivonasi. Serta jadi portfolio untuk mengundang investor lebih banyak lagi demi membawa Nusacube ke pelosok negeri.

Berdayakan warga yang kesulitan akses pekerjaan

ARFL3108 - Copy.JPG
Suasana di bengkel PT Alana Green Electric (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Ide besar Dana Saputra menciptakan inovasi Nusacube dimulai dari keinginan sederhana. Untuk mewujudkan ide besar ini, ia mempekerjakan orang-orang terpinggirkan yang kesulitan mengakses pekerjaan.

Di bengkel PT Alana Green Electric yang berada di Jalan Empunala No 431, Kecamatan Magersari, Mojokerto, Jawa Timur terdapat tujuh pekerja dengan latar belakang yang berbeda. M Syaifuddin ditunjuk sebagai kepala bengkel.

Yang paling mencolok adalah Pak Ko Djan. Usianya 70 tahun, badan kurus, rambut sudah memutih seluruhnya, tapi tangannya sangat cekatan dan matanya masih tajam. Tak punya ijazah sekolah formal, tapi soal mesin pendingin dia sangat mahir.

“Gak pernah sekolah, gak pernah belajar tukang, semuanya saya otodidak, belajar sendiri. Dulu beli kulkas rusak, perbaiki sendiri. Beli AC rusak perbaiki sendiri,” ujar Pak Ko Djan.

Puluhan tahun ia bekerja memperbaiki AC, Kulkas, dan Mesin Pendingin. Di usia sepuh, ia mulai kesulitan modal, kehilangan pelanggan, dan tak bisa lagi melamar pekerjaan. Nasib mempertemukannya dengan Dana Saputra.

Saat ini ia menjadi tukang di bengkel PT Alana Green Electric. Ada juga pekerja lain yang tak punya ijazah dan kesulitan mendapat akses pekerjaan diterima di bengkel ini.

“Jadi saya utamakan warga sekitar yang secara akses pekerjaan dia kesulitan, misalnya usianya sudah tua, tidak punya ijazah, yang penting mau belajar dan berkembang sama-sama di sini,” jelas Dana.

Kini PT Alana Green Electric diperkuat 12 pekerja. Tujuh di antaranya berada di bengkel Mojokerto, sedangkan lima lainnya berada di Jakarta untuk membantu pemasaran dan engineering.

Alur pembuaran nusacube.jpg
Sistem kerja Nusacube (Dok. PT Alana Green Electric)

Lirik kerjasama dengan Koperasi Merah Putih untuk ekspansi lebih jauh

Usai meng-install Nusacube di Pulau Sadulang Besar, PT Alana Green Electric akan mencoba melakukan ekspansi ke pulau-pulau 3T lainnya. Makassar, Maluku, NTT, hingga Papua adalah target berikutnya.

“Ini ibarat pilot project. Masyarakat harus lihat langsung ini bermanfaat, ini memang challenge kita untuk penerapan teknologi hijau dan berkelanjutan di masyarakat. Kita harus tunjukkan dulu, kita buktikan bahwa ini berhasil. Kadang mereka kurang bisa menerima teknologi atau masih meragukan jika tidak melihat atau merasakan langsung manfaatnya,” jelas suami dari Alia Damar ini.

Selama ini, menurutnya, masyarakat terbiasa dengan bantuan langsung tunai bukan dengan inovasi ataupun teknologi. Sehingga sulit meyakinkan masyarakat untuk menerima perubahan.

Potensi lain yang dilirik Dana adalah Koperasi Merah Putih (KMP). Sejak tahun 2025 Presiden Prabowo sudah meresmikan KMP dan setiap desa didorong untuk mendirikannya. KMP bisa menjadi calon mitra baru untuk PT Alana Green Electric menjalin kerjasama membangun Nusacube sebagai unit usaha koperasi di pelosok negeri.

“Tak terkecuali juga di daerah-daerah 3T juga pasti ada Koperasi Merah Putih. Bisa dimanfaatkan Nusacube sebagai project yang diusulkan untuk jadi bisnisnya Koperasi Merah Putih,” jelasnya.

Dana tak ingin mimpinya mendongkrak kesejahteraan nelayan kecil terhenti di Pulau Sadulang Besar dan Pulau Pagerungan Kecil. Dana bertekad menjangkau daerah 3T Indonesia sebanyak mungkin dengan PT Alana Green Electric sebagai busurnya dan Nusacube sebagai anak panahnya.

Potret Pengerjaan Nusacube di Bengkel PT Alana Green Electric

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Banjir dan Longsor Susulan di Gayo Lues, Sekda Aceh Sempat Terjebak

05 Jan 2026, 08:47 WIBNews