Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sosiolog Unimed: Sekolah Pasca Bencana, Ruang Pulih dari Trauma

WhatsApp Image 2025-12-29 at 6.23.33 PM.jpeg
SMP Negeri 1 Kejuruan Muda di Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang terdampak banjir. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Intinya sih...
  • Dalam perspektif sosiologi, sekolah membantu memulihkan rasa normal anak-anak korban banjir.
  • Sekolah idealnya menjadi ruang trauma healing sosial bagi anak-anak yang mengalami kecemasan dan kesulitan berkonsentrasi.
  • Kebijakan pembukaan sekolah tanpa pendekatan bertahap dapat menimbulkan masalah baru bagi anak-anak yang belum pulih secara psikologis.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times — Pascabanjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh November 2025 lalu,  pemulihan tak bisa berhenti pada pembangunan rumah dan infrastruktur. Ada luka lain yang kerap luput dari perhatian: trauma psikologis anak-anak.

Dalam situasi ini, sekolah kembali menjadi tumpuan harapan. Namun, pertanyaannya, apakah sekolah benar-benar siap menjadi ruang pemulihan, atau justru berubah menjadi tekanan baru bagi anak-anak korban bencana?

Sosiolog Universitas Negeri Medan Ismail Jahidin memberikan analisisnya. Dia mendorong, sekolah menjadi ruang pulih anak dari trauma. Bukan malah menjadi sumber tekanan psikologis yang baru.

1. Sekolah sebagai penyangga sosial pascabencana

-
Aktivitas sekolah darurat yang diinisiasi Relawan Rawantara di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. (Dok: Rawantara)

Dalam perspektif sosiologi, kata Ismail, sekolah bukan hanya tempat belajar, melainkan institusi sosial yang menjaga keteraturan dan stabilitas masyarakat. Pascabahala, fungsi ini menjadi semakin krusial.

Sosiolog Universitas Negeri Medan, Ismail Jahidin, menilai bahwa kembalinya anak-anak ke sekolah dapat membantu memulihkan rasa normal yang sempat runtuh akibat banjir.

“Sekolah berfungsi sebagai penyangga sosial. Rutinitas belajar, pertemuan dengan guru, dan interaksi dengan teman sebaya membantu anak-anak keluar dari situasi ketidakpastian pascabencana,” ujar Ismail.

Bagi anak-anak korban banjir, kembali ke sekolah bukan sekadar soal buku dan pelajaran, melainkan upaya membangun kembali rasa aman dan keberlanjutan hidup sehari-hari.

2. Lingkungan belajar seharusnya jadi ruang trauma healing

AGUM_1.jpg
Gumilar Aditya berbincang dengan anak - anak di Desa Sekumur. (Dok Pribadi)

Meski demikian, Ismail mengingatkan bahwa sekolah pascabencana tidak bisa langsung berorientasi pada target akademik. Fakta di lapangan menunjukkan banyak anak Aceh mengalami kecemasan, ketakutan, hingga kesulitan berkonsentrasi setelah banjir.

“Sekolah idealnya menjadi ruang trauma healing sosial. Anak-anak perlu ruang untuk mengekspresikan emosi, berbagi pengalaman, dan memaknai bencana secara lebih sehat,” katanya.

Lingkungan belajar yang suportif dan inklusif memungkinkan anak-anak pulih secara psikologis. Interaksi dengan guru dan teman sebaya menjadi bentuk dukungan sosial yang penting sebelum tuntutan akademik kembali diberlakukan secara penuh.

3. Jika tak fleksibel, sekolah justru berisiko jadi sumber tekanan

-
Upacara bendera perdana di SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026). (Dok: Kemendikdasmen)

Namun, tidak semua anak memiliki kondisi psikologis yang sama pascabencana. Ada yang siap kembali belajar, tetapi tak sedikit pula yang masih berada dalam fase trauma.

Menurut Ismail, kebijakan pembukaan sekolah yang diterapkan secara seragam tanpa pendekatan bertahap berpotensi menimbulkan masalah baru.

“Alih-alih menjadi ruang pemulihan, sekolah bisa berubah menjadi sumber stres jika memaksakan standar yang sama kepada anak-anak yang belum pulih secara psikologis,” jelasnya.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari kesiapan infrastruktur dan minimnya tenaga pendidik yang memahami pendekatan trauma healing. Karena itu, kehadiran relawan, komunitas lokal, dan organisasi kemanusiaan menjadi penting. Aktivitas bermain, seni, dan pendampingan informal membantu anak-anak memulihkan diri secara perlahan.

Kolaborasi antara sekolah, relawan, dan komunitas inilah yang mencerminkan ketahanan sosial masyarakat Aceh.

“Ketahanan bukan hanya soal seberapa cepat sekolah dibuka kembali, tetapi sejauh mana anak-anak merasa dilindungi, didengar, dan dipulihkan bersama,” pungkasnya.

Sebelumnya, pemerintah resmi membuka kegiatan belajar – mengajar pada daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti membuka kegiatan belajar dengan melakukan upacara bendera di SMAN 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Senin (5/1/2026). Pelaksanaan upacara ini sekaligus menjadi simbol dimulainya kembali aktivitas belajar-mengajar secara bertahap di tengah proses pemulihan pascabencana.

Menteri Mu'ti juga memastikan bahwa Kemendikdasmen akan mengalokasikan anggaran revitalisasi secara berkelanjutan bagi satuan pendidikan yang masih dalam proses pemulihan, termasuk melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada tahun anggaran 2026. Program ini diharapkan mampu menghadirkan ruang belajar yang lebih baik guna mendukung pembelajaran yang bermutu dan berkelanjutan.

“Pemulihan pendidikan bukan hanya soal membuka kembali sekolah, tetapi memastikan anak-anak dapat belajar dengan penuh semangat dan optimisme. Pemerintah akan terus hadir agar proses pemulihan ini berjalan menyeluruh, sehingga pendidikan tetap menjadi jalan utama menuju masa depan yang lebih baik,”kata Mu’ti dilansir dari laman resmi kementerian.

Informasi yang dihimpun, dalam pembukaan masa sekolah pasca bencana itu, masih ada banyak sekolah yang belum pulih. Kegiatan belajar dilakukan di sekolah - sekolah darurat yang didirikan. Baik oleh pemerintah, atau pun para relawan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Kembali Normal, Besok MBG Diwajibkan Makanan Khas Daerah

07 Jan 2026, 21:54 WIBNews