Sekolah Dimulai Lagi di Tapteng, Guru Terapkan Belajar Menyenangkan

- Sekolah di Tapteng mulai semester genap 2025/2026
- Proses belajar menyenangkan dengan trauma healing dan pendampingan psikososial
- Siswa belajar di tenda, ada yang pakai seragam baru, tingkat kehadiran siswa mencapai 90%
Tapanuli Tengah, IDN Times- Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada 25 November 2025, Dinas Pendidikan sudah memulai lagi sekolah untuk semester genap tahun ajaran 2025/2026. Proses belajar mengajar dilakukan dengan pendekatan pelajaran menyenangkan, disertai trauma healing dan pendampingan psikososial bagi peserta didik mulai Senin (5/1/2026).
Plt Kepala Dinas Pendidikan Tapteng, Johannes Simanjuntak mengatakan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Bupati dan Wakil Bupati Tapteng agar aktivitas sekolah tetap berjalan tanpa menambah beban psikologis siswa pascabencana.
“Mulai 5 Januari 2026, seluruh sekolah di Tapteng siap melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan. Tidak ada beban pekerjaan rumah (PR), fokus kita adalah memulihkan semangat belajar anak-anak,” ujar Johannes.
1. Ada sekolah yang digabungkan dan ada yang belajar di tenda

Ia menjelaskan, kesiapan sekolah ditandai dengan berbagai langkah konkret, termasuk penyediaan tenda darurat bagi sekolah yang masih terisolir. Sejumlah sekolah seperti SD Sigiring-giring dan SD Hutanabolon 3 kini melaksanakan pembelajaran di tenda bantuan Kementerian Pendidikan dengan konsep belajar yang ramah anak.
Sementara itu, siswa SD Hutanabolon 2 yang berjumlah 161 orang sementara digabungkan ke SD Hutanabolon 1, serta sebagian lainnya belajar di tenda sekolah darurat. “Antusiasme siswa sangat tinggi. Mereka tetap semangat meski belajar dalam kondisi sederhana,” ungkapnya.
2. Siswa ada yang mengenakan seragam baru dan ada yang pakai baju biasa

Dari pantauan, mayoritas siswa belum memakai seragam. Kebanyakan memakai baju biasa. Sementara ada juga yang mengenakan seragam yang tampak baru. Guru-guru me
Dinas Pendidikan Tapteng telah menyalurkan bantuan berupa seragam sekolah, tas, dan alat tulis bagi siswa terdampak bencana. Bantuan tersebut didistribusikan sesuai data penerima, khususnya di Kecamatan Tukka dan wilayah terdampak lainnya.
“Memang ada beberapa siswa yang masih ragu menggunakan seragam baru karena khawatir kotor, namun secara umum bantuan sudah diterima dan sangat membantu,” kata Johannes.
Johannes menambahkan, hingga kini masih terdapat sejumlah sekolah yang dalam proses pembersihan, dengan tingkat kebersihan rata-rata baru mencapai 70 persen akibat endapan lumpur yang cukup tebal, bahkan mencapai 80 sentimeter di beberapa lokasi.
Meski demikian, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan secara bertahap sembari pembersihan terus dilakukan dengan dukungan alat berat. Proses ini melibatkan kerja sama Dinas PUPR Tapteng, Baznas Tapteng, serta tenaga pendidik yang ditugaskan secara khusus.
“Kami juga memberikan motivasi kepada para guru. Selain pembelajaran tatap muka, akan ada kegiatan trauma healing dan pendampingan psikososial, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga untuk guru,” jelasnya.
3. Tingkat kehadiran siswa mencapai 90 persen

Berdasarkan data dari 16 kecamatan terdampak, tingkat kehadiran siswa saat ini mencapai rata-rata 90 persen. Namun di Kecamatan Badiri, khususnya di SD Lopian 1 dan Lopian 2, kehadiran siswa masih sekitar 80 persen. Sementara di Kecamatan Pandan berada di kisaran 80–85 persen.
Dinas Pendidikan Tapteng mencatat lebih dari 300 sekolah terdampak bencana, terdiri atas 194 SD, 98 SMP, serta sejumlah TK dan PAUD. Untuk penanganan jangka panjang, pihaknya telah menyusun proposal pengajuan bantuan rekonstruksi dan perbaikan sekolah ke kementerian terkait, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kementerian PUPR.


















