Duka Bocah 4 Tahun, Mata Terkena Peluru Nyasar Pelaku Tawuran Belawan

- Bocah 4 tahun terkena peluru nyasar saat tawuran di Belawan
- Peluru senapan angin bersarang di mata dan hampir mengenai otak
- Ibu korban berjuang tegar melihat anaknya menderita, sambil mendengar kata-kata penghibur dari sang anak
Medan, IDN Times - Bocah berumur 4 tahun bernama Asmi Anggraini hanya dapat terkulai lemah di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Ia merupakan korban salah sasaran pelaku tawuran di Belawan yang terjadi pada Senin (5/1/2025) lalu.
Asmi yang saat itu melintas menaiki becak motor bersama ibunya justru menjadi korban. Akibatnya, mata sebelah kanan Asmi terkena peluru senapan angin yang dilesakkan pelaku tawuran. Bahkan peluru tersebut menembus tempurung matanya dan nyaris mengenai otak.
1. Melintas pakai becak motor, bocah 4 tahun terkena peluru nyasar dari pelaku tawuran

Ibu Asmi bernama Romanda Siregar tak henti-henti menitikkan air matanya. Di kamar Rumah Sakit Pirngadi, ia tampak berkali-kali mengelus kepala mungil anaknya sembari meloloskan kalimat-kalimat yang menguatkan bocah 4 tahun itu.
"Kejadiannya hari Senin sore jam 19.00 di Jalan Yos Sudarso tepat di depan Kantor Pos sebelum rumah sakit PHC, Belawan. Saat itu kami menyewa becak motor hendak menjemput suami saya, karena suami saya ada acara tahun baruan di rumah temannya," ungkap Romanda kepada IDN Times, Selasa (6/1/2025).
Saat melintasi Jalan Yos Sudarso dekat Kantor Pos, suasana tiba-tiba menjadi mencekam. Gerombolan remaja membawa senjata tajam, tameng, hingga senapan angin saling menyerang. Nahasnya becak yang dikendarai Romanda dan anaknya tak bisa melintas.
"Saat becak kami mau lewat, seketika itu ada orang tawuran antara kampung. Mereka balas-balasan menyerang. Nggak tahu tiba-tiba dari mana peluru datang. Anak saya langsung teriak, 'Mak!' katanya. Ternyata sudah darah semua kepala anak saya," lanjutnya.
2. Peluru senapan angin bersarang di tempurung mata dan nyaris terkena otak

Mulanya Romanda tidak tahu apa yang menyebabkan kepala anaknya berdarah. Ia langsung mendekap bocah 4 tahun itu erat-erat mencoba menenangkan.
"Saya panik, karena kan waktu itu akses Rumah Sakit PHC juga diblokir, ditutup, sama pelaku tawuran ini. Jadi, segera kami bawa ke Klinik belakang PHC untuk dapat pertolongan pertama. Tapi dokternya bilang kalau dia nggak berani. Karena lukanya dekat mata. Takutnya kena mata, jadi salah," beber Romanda.
Detik itulah Romanda tahu bahwa mata anaknya terkena selongsong peluru senapan angin. Masih diliputi rasa panik, Romanda memindahkan anaknya ke RS PHC Belawan sebelum pada akhirnya dirujuk ke Pirngadi Medan karena luka serius anaknya.
"Lukanya pas di pelopak matanya, bahkan hampir kena otak. Dan sampai sekarang pelurunya masih bersarang," ungkap Romanda tak mampu menahan air matanya yang berdesakkan meluruh.
3. Romanda: setiap anak saya menangis, air matanya keluar bersamaan dengan darah

Pikiran Ibu 3 anak ini hanya dipenuhi cara supaya anak bungsunya segera pulih. Terlebih peluru di tempurung mata anaknya belum dapat dikeluarkan juga.
"Setiap dia nangis, air matanya keluar bersamaan dengan darah. Saya tidak tega melihatnya," curhat Romanda.
Di samping duka yang Romanda derita, ia mencoba tegar. Anaknya, Asmi, yang saat ini matanya diperban, tanpa ia sangka justru menjadi orang yang menguatkannya.
"Bahkan anak saya bilang 'Mama jangan nangis, orang kena tembak peluru, nggak mati kok,' katanya. 'Mama jangan sedih, cuma matanya yang ditembak,' gitu dia bilang," pungkasnya.


















