Pasokan Menipis, Harga Beras di Sumut Kembali Naik

- Harga beras medium dan premium di Medan serta wilayah Sumut naik serentak, dengan kenaikan rata-rata Rp100–Rp500 per kg menurut data PIHPS.
- Kenaikan harga dipicu menurunnya pasokan gabah setelah panen raya berakhir, membuat sejumlah kilang padi di Sumut tidak beroperasi penuh.
- Pengamat meminta Bulog segera menjaga ketersediaan beras agar harga tetap stabil, terutama menghadapi potensi cuaca ekstrem seperti El Nino.
Medan, IDN Times – Harga beras di Sumatra Utara kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), kenaikan terjadi pada beras jenis medium dan premium di Kota Medan maupun wilayah Sumut lainnya.
Kenaikan ini terjadi setelah musim panen raya padi di Sumut berakhir. Pasokan gabah ke kilang padi pun menurun.
1. Harga naik serentak di Medan dan Sumut

Di Kota Medan, harga beras medium terpantau naik dari Rp15.400 per kg pada 3 Juli 2026 menjadi Rp15.600 per kg saat ini. Jenis medium lainnya juga naik dari Rp14.850 per kg menjadi Rp15.050 per kg.
Untuk beras premium atau super, harga pada 3 Juli 2026 yang semula Rp16.200 dan Rp16.800 per kg, kini menjadi Rp16.300 dan Rp16.900 per kg.
Secara rata-rata di wilayah Sumut, harga beras super naik Rp150 per kg. Sementara beras medium naik antara Rp100 hingga Rp200 per kg.
Jika ditarik ke tingkat pedagang di pasar tradisional, kenaikan di level konsumen bahkan mencapai Rp500 per kg untuk semua jenis beras. Data itu dipantau melalui PIHPS Sumut dan Kota Medan.
2. Pasokan menipis, kilang padi tak beroperasi penuh

Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, menyebut kenaikan harga lebih dipengaruhi oleh menurunnya pasokan gabah ke kilang padi. "Seiring dengan sudah berakhirnya musim panen raya di wilayah Sumut, stok gabah menjadi sulit ditambah," ujar Gunawan, pada Rabu (8/7/2026).
Hal itu diperkuat data Badan Pusat Statistik (BPS). Produksi beras nasional pada Mei 2026 turun, sejalan dengan penurunan luas panen sebesar 2,35 persen dibanding Mei 2025.
Di lapangan, sejumlah kilang padi di Sumut belakangan juga tidak beroperasi penuh. "Kilang masih mengandalkan bahan baku gabah yang stoknya tidak mudah ditambah," jelasnya.
Gunawan memperkirakan Sumut akan memasuki periode pasokan gabah di titik terendah dalam beberapa pekan ke depan.
Musim panen puncak padi di Sumut baru akan terjadi pada September dan Oktober 2026. Sementara peningkatan stok gabah baru diperkirakan mulai ada pada pertengahan Agustus.
"Sehingga beberapa pekan ke depan kita akan berada di masa sulit pasokan," katanya.
3. Peran Bulog diminta menjaga stabilitas harga

Untuk mengatasi situasi ini, Gunawan meminta Bulog memastikan ketersediaan beras agar harga tetap terkendali. "Umumnya pemerintah lewat Bulog mampu mengendalikan harga. Namun untuk saat ini kita menghadapi kemungkinan cuaca buruk seperti El Nino, yang dampak negatifnya sudah memicu masalah di Eropa," ujarnya.
Ia menekankan pemerintah perlu menyiapkan skenario terburuk untuk memastikan ketersediaan beras nasional dan daerah. "Bulog harus hadir lebih awal, jangan menunggu harga sudah terlalu tinggi baru bergerak," tutup Gunawan.


















