Camalus, Insektisida Petani Holtikultura Diluncurkan di Simalungun

- Bayer Indonesia meluncurkan insektisida Camalus di Simalungun, inovasi dengan dua mekanisme kerja untuk mengendalikan hama pemakan daun dan penusuk-pengisap pada tanaman hortikultura.
- Camalus dikembangkan selama 10 tahun dengan kombinasi bahan aktif Tetraniliprole dan Spirotetramat, serta diuji di berbagai wilayah Indonesia agar sesuai kondisi agroekologi lokal.
- Peluncuran di Sumatra Utara dihadiri 350 petani, sementara Bayer menargetkan distribusi Camalus ke 13 provinsi sepanjang 2026 melalui jaringan kios tani dan Better Life Farming Center.
Simalungun, IDN Times – Bayer Indonesia resmi meluncurkan Camalus, insektisida generasi terbaru yang diklaim mampu mengendalikan dua jenis hama sekaligus pada tanaman hortikultura. Peluncuran produk ini digelar di Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara, Senin (6/7/2026), dan menjadi peluncuran perdana di Indonesia setelah lebih dulu hadir di India dan Filipina.
Camalus menggabungkan dua mekanisme kerja (dual mode of action) sehingga dapat mengendalikan hama pemakan daun (chewing) dan hama penusuk-pengisap (sucking) dalam satu aplikasi. Inovasi ini diklaim mampu mengurangi kebutuhan petani mencampur dua insektisida berbeda, sehingga lebih praktis sekaligus menekan biaya produksi.
1. Tantangan petani hortikultura semakin kompleks

Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo, mengatakan tantangan petani hortikultura semakin kompleks karena berbagai jenis hama umumnya menyerang secara bersamaan.
"Camalus menjawab kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi dalam budidaya hortikultura. Produk ini telah melalui proses riset panjang dan disesuaikan dengan kondisi agroekologi Indonesia, termasuk tekanan hama yang dihadapi petani," ujarnya.
Menurut Kukuh, Camalus dikembangkan melalui proses riset dan pengembangan (R&D) selama sekitar 10 tahun. Setelah melewati pengujian global, produk tersebut juga diuji di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di pusat riset Bayer di Klaten.
Camalus menggunakan kombinasi bahan aktif Tetraniliprole dan Spirotetramat yang bekerja secara sistemik ke seluruh jaringan tanaman. Produk ini juga dilengkapi teknologi perekat sehingga perlindungan terhadap tanaman tetap optimal meski setelah hujan.
2. Sumut dipilih karena penghasil cabai besar terbesar ketiga di Indonesia pada 2025

Bayer menyebut Camalus efektif mengendalikan berbagai hama utama hortikultura, seperti ulat daun, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, thrips, hingga lalat buah. Produk ini dapat diaplikasikan pada berbagai komoditas, antara lain cabai, tomat, kubis, bawang merah, kentang, semangka, jeruk, dan mangga.
Pemilihan Sumatra Utara sebagai lokasi peluncuran bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), provinsi ini merupakan penghasil cabai besar terbesar ketiga di Indonesia pada 2025 dengan produksi mencapai 214,87 ribu ton atau sekitar 12,53 persen dari produksi nasional.
Dalam kegiatan peluncuran, sekitar 350 petani turut hadir dan menyaksikan demonstrasi penggunaan Camalus pada lahan percontohan tanaman cabai, tomat, dan kubis. Bayer mengklaim tanaman yang telah diaplikasikan Camalus menunjukkan kondisi lebih sehat dengan perlindungan yang lebih baik dari serangan hama.
3. Bidik distribusi Camalus ke-13 provinsi

Commercial Unit Lead West Bayer Crop Science Indonesia, Krisna Dwi Laksono, mengatakan perusahaan tidak hanya menghadirkan inovasi produk, tetapi juga memastikan akses petani terhadap teknologi tersebut.
"Kami ingin Camalus mudah diperoleh petani melalui jaringan distribusi yang luas sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak petani hortikultura di Indonesia," katanya.
Sepanjang 2026, Bayer menargetkan distribusi Camalus ke 13 provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali.
Saat ini Camalus tersedia dalam kemasan co-pack 100 mililiter dan dipasarkan secara bertahap melalui jaringan kios tani, termasuk Better Life Farming Center (BLFC).

















