Orangutan Ditemukan di Luar Peta Distribusi, Apa Artinya bagi Masa Depan Konservasi?

- Survei YOSL-OIC mengonfirmasi empat habitat orangutan di luar distribusi PHVA 2016.
- Habitat yang ditemukan mencakup kawasan kecil dan terfragmentasi, termasuk wilayah di luar kawasan konservasi resmi.
- YOSL-OIC menilai Areal Preservasi dapat menjadi instrumen perlindungan habitat penting di luar kawasan konservasi.
Medan, IDN Times – Keberadaan orangutan ternyata tidak seluruhnya berada di dalam wilayah yang selama ini menjadi prioritas konservasi. Survei yang dilakukan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) bersama mitra menemukan sejumlah habitat orangutan di luar distribusi yang telah diidentifikasi dalam Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016.
Temuan ini bukan sekadar menambah titik pada peta distribusi orangutan. Lebih dari itu, hasil survei memberikan gambaran bahwa masih terdapat habitat penting yang menopang populasi orangutan di luar kawasan yang selama ini menjadi fokus konservasi. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat strategi perlindungan orangutan di Indonesia.
1. Empat Habitat Baru Orangutan Terkonfirmasi

Survei yang dilaksanakan pada periode 2021–2024 berhasil mengonfirmasi empat lokasi sebagai habitat orangutan di luar distribusi PHVA 2016. Di Blok Hutan Pagindar, Kabupaten Pakpak Bharat, ditemukan 14 sarang orangutan. Di Blok Hutan Rawa Pesisir Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, ditemukan 11 sarang, sementara di Kampung Sawah ditemukan 23 sarang. Temuan lainnya berada di wilayah Parmonangan–Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, dengan tiga sarang orangutan serta perjumpaan langsung dengan tiga individu orangutan pada tahun 2024.
Sebaliknya, survei tidak menemukan bukti keberadaan populasi orangutan di Blok Hutan Dolok Saut dan Blok Timur Sipirok sehingga kedua wilayah tersebut tidak terkonfirmasi sebagai habitat orangutan berdasarkan survei terkini.
“Angka sarang tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah individu orangutan karena satu individu dapat membangun dan menggunakan lebih dari satu sarang,” ujar Direktur Konservasi YOSL-OIC, Muhammad Indra Kurnia, dalam kegiatan Media Briefing di Medan.
2. Distribusi Orangutan Lebih Luas dari yang Selama Ini Diketahui

Menurut Indra, temuan ini menunjukkan bahwa distribusi orangutan kemungkinan lebih luas dibandingkan yang selama ini menjadi acuan konservasi.
“Bukan sekadar kami menemukan orangutan. Temuan ini menunjukkan bahwa masih ada populasi orangutan yang belum masuk dalam prioritas konservasi nasional,” katanya.
Salah satu temuan penting berada di Blok Hutan Rawa Pesisir Lumut, Tapanuli Tengah. Kawasan berhutan seluas sekitar 1.098 hektare tersebut masih mendukung keberadaan Orangutan Tapanuli. Temuan ini menunjukkan bahwa luas kawasan bukan satu-satunya indikator nilai konservasi suatu habitat.
Survei juga memperlihatkan bahwa orangutan masih mampu bertahan di habitat yang terfragmentasi. Namun kondisi tersebut tidak berarti aman. Sebaliknya, populasi yang berada di habitat-habitat kecil dan terpisah justru lebih rentan terhadap berbagai tekanan seperti pembukaan hutan, pembangunan infrastruktur, maupun konflik dengan manusia.
3. Konservasi Harus Melampaui Batas Kawasan, kebijakan areal preservasi jadi salah satu solusi

Selama ini upaya konservasi sering berfokus pada taman nasional, suaka margasatwa, dan kawasan konservasi lainnya. Namun hasil survei menunjukkan bahwa sebagian habitat orangutan justru berada di luar kawasan tersebut, termasuk pada Areal Penggunaan Lain (APL), kawasan konsesi, hutan produksi, maupun kawasan yang belum memiliki status perlindungan khusus.
Karena itu, YOSL-OIC menilai pendekatan konservasi perlu berkembang dari sekadar melindungi kawasan menjadi melindungi lanskap yang secara ekologis masih menopang kehidupan orangutan.
“Orangutan tidak mengenal batas administrasi maupun batas fungsi kawasan. Konservasi harus mengikuti logika ekologi, bukan logika administrasi,” jelas Indra.
Pendekatan konservasi lanskap tersebut dapat dilakukan melalui penguatan perlindungan habitat, patroli dan penegakan hukum, pembangunan koridor ekologis, restorasi habitat, mitigasi konflik manusia-orangutan, monitoring jangka panjang, serta kolaborasi multipihak antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, organisasi konservasi, dan akademisi.
Temuan survei juga dinilai relevan dengan pengembangan kebijakan Areal Preservasi. Menurut YOSL-OIC, hasil survei memberikan dasar ilmiah bahwa terdapat habitat bernilai konservasi tinggi di luar kawasan konservasi resmi. Sebagian habitat tersebut berada pada APL, HGU, maupun kawasan produksi yang tetap memiliki fungsi ekologis penting bagi orangutan.
Dalam konteks tersebut, Areal Preservasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempertahankan fungsi ekologis habitat penting tanpa harus mengubah seluruh status kawasan secara formal.
YOSL-OIC merekomendasikan pembaruan peta distribusi orangutan, memasukkan habitat-habitat baru ke dalam basis data nasional, meningkatkan perlindungan di lokasi-lokasi yang telah teridentifikasi, membangun koridor ekologis, serta mengintegrasikan habitat penting ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti RTRW dan RPJMD. Dalam jangka panjang, strategi konservasi orangutan nasional perlu terus diperbarui berdasarkan bukti ilmiah terbaru.
“Jika data ilmiah menunjukkan bahwa orangutan masih bertahan di luar kawasan konservasi, maka kebijakan konservasi juga harus berkembang. Areal Preservasi memberi peluang untuk memastikan habitat-habitat penting tersebut tetap terlindungi melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, organisasi konservasi, dan akademisi,” pungkas Indra.
Di sisi lain, hasil survei populasi orangutan di Sumatra di areal distribusi yang dilaksanakan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) pada 2021 – 2023 mengungkap populasi orangutan di Sumatra mengalami penurunan. Populasi orangutan sumatra (Pongo abelii) kini tersisa 11.694 individu, turun 19,5 persen (sekitar 2.700 ekor) sejak 2011. Sementara itu, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang sangat langka di Batang Toru tercatat tinggal sekitar 716 hingga 800 individu.
Kajian itu juga menemukan perubahan struktur hutan dan kepadatan penduduk sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap kepadatan populasi orangutan. Kehilangan tutupan hutan turut menjelaskan sebagian besar perubahan populasi di sejumlah bentang alam.





![[BREAKING] Kapal Asing Ditangkap di Perairan Kepri, Angkut 1,3 Ton Sabu](https://image.idntimes.com/post/20250623/20250623_195901_11c2d071-974b-469c-86a8-f0a286d6cdfa.jpg)











