Pembahasan berikutnya berfokus pada perlindungan ekosistem gambut. Sabaruddin dari Universitas Sriwijaya menyampaikan materi “Karhutla di Sumatera: Sinergi Kampus dan Multipihak dalam Perlindungan Ekosistem Gambut Berkelanjutan.”
Ia menekankan pengelolaan gambut tidak cukup dilakukan melalui pendekatan teknis. Gambut perlu dilihat sebagai satu sistem yang mencakup aspek hidrologi, ekologi, ekonomi, sosial, dan kehidupan masyarakat.
Salah satu persoalan utama adalah hilangnya air pada ekosistem gambut. Gambut yang kehilangan air menjadi lebih rentan terbakar, sehingga pengelolaan drainase, muka air, penggunaan lahan, dan pengawasan perlu ditempatkan dalam satu kerangka.
Sabaruddin juga menyoroti tantangan berupa pengeringan lahan akibat drainase, konflik batas dan konsesi, serta keterbatasan pengawasan pada lanskap gambut yang luas.
Dalam kondisi tersebut, perguruan tinggi dinilai dapat berperan sebagai katalisator untuk mempertemukan riset, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media.
Dari pembahasan tersebut, Onrizal mendorong pendekatan One Landscape–One Risk Map dalam tata kelola risiko. Pendekatan tersebut menempatkan berbagai informasi spasial dalam satu kerangka pengambilan keputusan. Data mengenai hutan, gambut, DAS, riwayat kebakaran, kawasan konservasi, pertambangan, permukiman, hingga risiko iklim dapat dibaca secara bersama.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari jumlah patroli, operasi penertiban, alat berat yang disita, sekat kanal yang dibangun, atau hektare yang ditanami.
Indikator yang lebih substantif adalah apakah kebakaran berulang menurun, bukaan ilegal baru berkurang, kualitas air membaik, fungsi DAS dan gambut pulih, vegetasi bertahan, serta masyarakat memiliki pilihan penghidupan yang lebih aman dan berkelanjutan.
APIK Indonesia Network selanjutnya akan menyusun hasil webinar tersebut menjadi policy brief. Dokumen itu akan memuat temuan, persoalan tata kelola, dan rekomendasi yang berkembang dari paparan serta diskusi untuk menjadi masukan bagi pemerintah dan para pihak.