Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Semen Naik 49 Persen Proyek Perumahan di Sumut Terancam Mangkrak

Kota Medan
Harga Semen Naik 49 Persen Proyek Perumahan di Sumut Terancam Mangkrak
ilustrasi rumah yang tidak berpenghuni (pexels.com/Pixabay)
Share Article

Medan, IDN TimesHarga semen sebagai bahan baku utama properti mengalami kenaikan signifikan dalam enam bulan terakhir. Hal ini dipicu kondisi geopolitik di Timur Tengah.

"Lonjakan harga ini dipicu oleh gejolak geopolitik perang Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada harga energi dan bahan baku manufaktur," jelasnya.

Berdasarkan pantauan di sejumlah toko bangunan di wilayah Sumatra Utara, harga satu merek semen yang sebelumnya dijual Rp57.000 per sak pada Februari 2026, kini sudah mencapai Rp80.000 hingga Rp85.000 per sak.

Artinya, harga semen naik sekitar 49% atau hampir setengah dari harga semula. Kenaikan paling terasa sejak pekan keempat April 2026 yang menyentuh Rp59.000 per sak. Pada Juni 2026 harga ditransaksikan di kisaran Rp60.000 per sak, dan melompat ke Rp80.000-an pada Juli 2026.

potret pembuatan batu bata ringan (instagram.com/blessconbataringan)
potret pembuatan batu bata ringan (instagram.com/blessconbataringan)

1. Besi dan cat ikut naik namun batu bata harganya menjadi turun

Biji Besi (sumber: situs resmi PT Vale Indonesia)
Biji Besi (sumber: situs resmi PT Vale Indonesia)

Dia menjelaskan tidak hanya semen, sejumlah bahan bangunan lain juga mengalami kenaikan. Besi ukuran 12 mm naik 5,6%, sementara besi 8 mm naik sekitar 21%.

Harga cat tembok untuk eksterior dan interior juga naik dalam rentang 13,5% hingga 29,6%.

"Sebaliknya, harga batu bata justru mengalami penurunan. Harga batu bata turun dari Rp555 per batang menjadi Rp550 per batang saat ini," kata Gunawan.

2. Batu bata yang sebagian besar diproduksi oleh pengrajin lokal justru mengalami kerugian

Lanjutnya, kenaikan harga semen, besi, dan cat lebih dipengaruhi oleh kenaikan harga pokok produksi. Komponen utama pemicunya adalah harga batu bara yang mahal. Batu bara merupakan energi utama dalam proses produksi semen dan baja.

Sementara itu, batu bata yang sebagian besar diproduksi oleh pengrajin lokal justru mengalami kerugian.

"Kondisi oversupply menyebabkan harga batu bata turun di tengah kenaikan biaya hidup pengrajin. Akibatnya, pengrajin batu bata mengalami pukulan ganda: harga anjlok dan penjualan lesu," ungkapnya.

3. Proyek pemerintah dan swasta terancam tertunda

Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)
Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)

Menurut Gunawan, dmpak kenaikan harga bahan bangunan mulai dirasakan oleh sektor properti. Sejumlah pengembang memilih menunda pembangunan perumahan karena biaya konstruksi yang semakin mahal.

Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu program penyediaan rumah hunian pemerintah.

Kenaikan harga ini juga berpotensi menimbulkan masalah lain, seperti penurunan penyerapan tenaga kerja tukang bangunan, proyek yang tertunda atau mangkrak, anggaran proyek yang membengkak, hingga gangguan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

"Industri properti, konstruksi, manufaktur, dan infrastruktur kini menghadapi tantangan ketidakpastian. Di saat ekonomi nasional masih terdampak oleh tensi geopolitik yang tidak menentu, keberlangsungan sektor-sektor tersebut tertekan cukup besar," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More