Binjai, IDN Times- Kayu-kayu berserakan di gudang yang berlokasi Jalan Bangau, Kelurahan Mencirim, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai. Gergaji mesin yang digerakkan seorang pekerja bertelanjang dada sangat tajam untuk memotong kayu-kayu tersebut.
Itu yang nantinya akan dibuat menjadi lumpang, sebuah alat tumbuk tradisional.
Tak jauh dari situ, dua perempuan tampak sibuk membuat tanggok untuk menjaring ikan. Dialah Siti Halimah Nasution. Di samping sang kakak Salbiah Nasution membuat kipas dari bambu.
Itulah keseharian aktivitas Klaster Maju Sejahtera. Dinamakan klaster karena terdiri dari berbagai pengrajin dengan beragam hasil kerajinan.
Menariknya mereka yang tergabung dalam Klaster Maju Sejahtera semuanya hidup bertetangga. Menurut Siti, kawasan Jalan Bangau Kelurahan Mencirim itu didominasi yang berprofesi sebagai pemulung hingga pengrajin.
"Ada 200 kepala keluarga di daerah ini, karena ada tempat pembuangan akhir (TPA), sebagian jadi pemulung. Nah, sisanya itu yang jadi pengrajin," kata Siti kepada IDN Times, 8 Desember 2023.
Bersama suaminya, Ucok, Siti awalnya merintis usaha kerajinan ini sejak tahun 2007. Kemudian para tetangga ikut bergabung dan mereka bimbing sehingga bisa membuat kerajinan tangan. "Kami membantu memasarkan produk mereka, karena berhasil ya jadinya mereka semangat. Jadi setiap rumah punya kerajinan yang berbeda," beber Siti yang kemudian didapuk jadi Ketua Maju Sejahtera.
Sebenarnya sejak dulu keluarga Siti Halimah memang berdarah pengrajin. Mereka saja tercatat sebagai generasi ketiga. Hingga kini gabungan para tetangga itu menghasilkan produk hingga sampai 20 jenis. Harganya Rp8 ribu sampai jutaan rupiah.
"Kalau produk banyaklah, gak hanya kipas, tanggok, ada juga sangkar burung, pukulan tilam, tampah," bebernya.
Para tetangga ini pun bergotong royong. Tapi namanya usaha tentu butuh modal. Pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) pun jadi pilihan.
"Gak hanya sebagai Klaster, tapi masing-masing juga punya pinjaman ke BRI.Nanti sama-sama disalurkan ke daerah. Awalnya di Binjai saja, sekarang sudah lintas provinsi bahkan sampai ke Padang dan Pekanbaru. Kami sudah punya reseller," beber Siti.
BRI bahkan membuat Klaster Maju Sejahtera makin bersemangat dengan bantuan CSR yang dikucurkan. Dua tahun lalu BRI memberikan Rp40 juta dan itu digunakan untuk membeli peralatan.
"Kalau nasab BRI saya sudah lama. Nah, setelah ada program dari BRI kami terpilih sebagai klaster. Dengan alat produksi dan semakin berkembang," kata perempuan 48 tahun itu.
Ibu tiga anak ini mengatakan, hingga saat ini sudah ada 50 toko yang mereka suplai barang-barangnya. Hingga kini mereka mendapat cuan hingga Rp30 jutaan per bulan.
Selain untuk kebutuhan sehari-hari juga untuk modal memperluas usaha. Sekarang mereka sudah punya pabrik Lumpang sendiri. "Modalnya besar, sampai Rp200 juta, kami bersyukur dapat pinjaman dari KUR BRI," tambahnya.
Sementara itu Salbiah Nasution, kakak dari Siti Halima mengatakan usaha kipas bambunya juga sangat terbantu sejak bergabung menjadi klaster. Ia dibantu tiga orang membuat kipas bambu setiap harinya.
"Bergabung menjadi klaster BRI, untungnya, setiap produk kita bisa dipromosikan. Banyak pelatihan yang digelar juga,. Begitu juga dengan pameran. Jadi membantu kita memasarkan produk," kata Salbiah.
Selain itu Klaster Maju Sejahtera juga tak luput mengikuti perkembangan zaman. Pembayaran lewat Quick Response Code Indonesia Standart (QRIS).
"Kalau pameran-pameran kita biasanya bawa QRIS untuk memermudah pembayaran. Meskipun sebenarnya kalau pemasan kita masib banyak offline," tambahnya.
Ke depan Klaster Maju Sejahtera akan mengembangkan diri dengan membuat kerajinan-kerajinan lainnya.
