Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dear Anak Medan, Tahukah Kamu di Mana Jalan Kolonel A.E Kawilarang?

Dear Anak Medan, Tahukah Kamu di Mana Jalan Kolonel A.E Kawilarang?
Menara Air PDAM Tirtanadi Medan, Ikon Kota Medan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Share Article

Jangan ngaku anak Medan kalau gak tahu nama-nama jalan di kota Medan. Kira-kira begitu kalimat yang sering dilontarkan untuk menguji "kemedanan" kamu.

Nah IDN Times ingin menguji "kemedanan" kamu, dimana kah Jalan Kolonel A.E Kawilarang?

Gen Z apalagi Gen Alpha pasti sangat jarang mendengar nama jalan ini. Mengapa? Karena ini adalah pengganti nama jalan yang dulunya sangat populer di Tengah Kota Medan.

Namun kini All Generation di Medan lebih mengenal nama lamanya di banding nama baru yang disematkan Pemko Medan. Sekarang udah jadi pusat kuliner malam yang terkenal kali.

Kamu udah bisa nebak belum dimana Jalan Kolonel A.E Kawilarang berada? Berikut IDN Times kasih paham:

1. Berada di Kelurahan Petisah Tengah, Kecamatan Medan Petisah

Jalan Kolonel A.E Kawilarang dari Udara.jpg
Potret Udara Jalan Kolonel A.E Kawilarang atau lebih dikenal dengan nama Jalan Nibung Raya, Kelurahan Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan (Dok. Youtube Masbro Tutorial Official)

FYI buat kalian semua, Jalan Kolonel A.E Kawilarang lebih dikenal dengan nama Jalan Nibung Raya, Berada di Kelurahan Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan.

Nama Jalan Nibung Raya sangat terkenal di Kota Medan namun sayangnya punya stigma negatif pada masa dulu. Siang hari tempat ini dikenal sebagai tempat jual beli mobil bekas. Namun dahulu pada malam dikenal sebagai tempat prostitusi atau tempat lelaki hidung belang mencari pekerja seks komersil (PSK). Bahkan ada anekdot dulu kalau anak perempuan pulang malam atau pulang pagi sering dijuluki mahasiswa "UNIRA" singkatan dari Universitas Nibung Raya, padahal di sana tidak ada kampus.

Dahulu di tempat ini juga terdapat tempat hiburan malam (THM) kelas bawah hingga kelas atas. Serta hotel kelas melati di sekitarnya.

Akhirnya Pemko Medan mengganti namanya menjadi Jalan Kolonel A.E Kawilarang. Meski begitu, masih ada satu THM di sekitar Nibung Raya.

Ini bukti yang masih tersisa:

Untitled2.png
Jalan Kolonel A.E Kawilarang atau lebih dikenal dengan nama Jalan Nibung Raya, Kelurahan Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan (Google Map tahun 2017)

Namun sekarang ceritanya sudah berbeda. Gen Z dan Gen Alpha mengenalkan sebagai tempat kuliner malam. Puluhan kafe non permanen buka mulai pukul 5 sore hingga dini hari di depan ruko-ruko penjual mobil bekas.

Bermodalkan stand portabel, kursi dan meja lipat, anak-anak muda meniti usaha di tempat ini. Bahkan hingga parkiran pasar petisah totalnya ada ratusan pedagang kuliner malam.

Meski demikian tetap saja Gen Z dan Gen Alpha lebih mengenal jalan sebagai Jalan Nibung Raya, tak banyak yang ingat bahwa jalan ini pernah diubah menjadi Jalan Kolonel A.E Kawilarang.

Lantas siapa sih Kolonel A.E Kawilarang? Yuk simak profil singkatnya:

2. Lahir dari keluarga militer, sepupu dari Daan Mogot

554854759_1328865392358785_6494073089172169557_n.jpg
Kolonel A.E. Kawilarang (Dok. Wikipedia)

Nama lengkapnya adalah Alexander Evert Kawilarang, lahir pada 23 Februari 1920 di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara). Ia lahir dari sebuah keluarga militer.

Ayahnya, Alexander Herman Hermanus Kawilarang, adalah seorang mayor KNIL.

Ibunya adalah Nelly Betsy Mogot. Kedua orang tuanya berasal dari Remboken di Sulawesi Utara. Kawilarang adalah seorang suku Minahasa dari sub-suku Toulour.

Dia juga merupakan sepupu dari Daan Mogot, direktur Akademi Militer Tangerang yang tewas dalam Pertempuran Lengkong yang berupaya melucuti depot tentara Jepang pada tahun 1946.

Ia adalah seorang perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) masa Revolusi Nasional Indonesia dan mantan anggota KNIL. Ia juga adalah pendiri Kesko TT yang kemudian menjadi Kopassus.

Pada tahun 1958 ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai atase militer di Amerika Serikat untuk bergabung dengan pemberontakan Permesta di mana ia harus melawan pasukan Kopassus yang ia bentuk sebelumnya.

Keterlibatannya dalam Permesta menghentikan karier militernya dengan TNI, tetapi ia tetap populer dan aktif dalam komunitas angkatan bersenjata sampai masa tuanya.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 11 Desember 1945 Kawilarang menjadi perwira penghubung dengan pasukan Inggris di Jakarta dengan pangkat mayor.[butuh rujukan] Pada bulan Oktober 1945, ia ditugaskan sebagai staf Komandemen I Jawa Barat di Purwakarta.

Pada bulan Januari 1946, ia menjadi Kepala Staf Resimen Infanteri Bogor Divisi II Jawa Barat dengan pangkat letnan kolonel.

Pada bulan Agustus 1946, ia menjadi komandan Brigade II/Surya Kencana yang meliputi Sukabumi, Bogor, dan Cianjur. Brigade ini termasuk dalam Divisi Siliwangi yang baru terbentuk.

Ia memimpin brigade ini selama Agresi Militer Belanda I. Dia juga sempat memimpin secara singkat Brigade I/Tirtayasa ketika brigade tersebut dipindahkan ke Yogyakarta.

Pada pertengahan tahun 1948, Kawilarang termasuk dalam kontingen pemerintah dan pejabat militer ke Bukittinggi di Sumatera Barat.

Pada 28 Desember 1949 ia menjabat sebagai Gubernur Militer wilayah Aceh dan Sumatera Utara merangkap Wakil Koordinator Keamanan dengan pangkat kolonel. Pada 21 Februari 1950, ia mendapatkan kepercayaan tambahan sebagai Panglima Tentara dan Territorium (TT) I/Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan untuk mengantisipasi pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia setelah Konferensi Meja Bundar.

Selama kariernya, Kawilarang juga pernah menjadi panglima teritorial di dua komando daerah penting lainnya: Tentara dan Territorium VII/Indonesia Timur (sekarang Kodam XIV/Hasanuddin) pada bulan 15 April 1950 dan Tentara dan Territorium III/Siliwangi (sekarang Kodam III/Siliwangi) pada bulan 10 November 1951.

Pada tanggal 17 Oktober 1952, Kawilarang bersama-sama dengan sejumlah tokoh militer lainnya (antara lain AH Nasution dan TB Simatupang) terlibat dalam apa yang dikenal sebagai Peristiwa 17 Oktober, yang menentang campur tangan pemerintah dalam urusan militer.

3. Berperan dalam pembentukan Kodim 02/01 Medan

KODIM_1.jpg
Sejumlah prajurit TNI membersihkan sisa ban bekas yang dibakar massa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Medan di sela unjuk rasa, Rabu (17/6/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Sejarah terbentuknya Kodim 0201/BS tidak terlepas dari proses terbentuknya Kodam I/Bukit Barisan yang merupakan perkembangan reorganisasi TNI AD khususnya mengenai Kodam, jumlah Kodam dikurangi dari 16 menjadi 10.

Setelah adanya pengakuan pemerintah Belanda kepada Pemerintah RI, maka seluruh kekuatan bersenjata yang berada di Sumatera Utara dihimpun menjadi Komando Tentara Teritorium Sumatera Utara (Ko T.T/SU). Peristiwa ini terjadi pada tahun 1950.

Dari sinilah cikal bakal lahirnya Kodam I/BB. Menjelang perundingan KMB (Koferensi Meja Bundar) persiapan dibidang militer maka pada tanggal 13 Desember 1949 Letkol A.E Kawilarang ditetapkan sebagai Komandan Ko.T.T/SU dalam rangka persiapan menerima penyerahan tanggung jawab keamanan dari Belanda.

Maka seluruh TNI AD di Indonesia dibagi dan ditetapkan dalam tujuh Teritorium dimana Ko.T.T/SU meliputi daerah administrasi Aceh, Sumatera Timur, Tapanuli, Sumatera Barat dan daerah Riau.

Pentingnya sosok Letkol A.E Kawilarang di Sumut, menjadikan alasan Jalan Nibung Raya diubah jadi namanya.

Saat meninggal dunia pada 6 Juni 2000 ia berpangkat Kolonel. Meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo di Jakarta. Dia disemayamkan di Ruang Soedirman di Markas Kodam III/Siliwangi di Bandung yang kemudian diikuti dengan upacara militer yang dipimpin oleh Pangdam III/Siliwangi Mayjen Slamet Supriyadi. Kawilarang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra di Bandung.

Kawilarang menikah dua kali. Pertama dengan Petronella Isabella van Emden pada tanggal 16 Oktober 1952.Mereka bercerai pada tahun 1958. Kedua dengan Henny Olga Pondaag, mantan istri Ventje Sumual, sahabatnya dalam perjuangan Permesta.

Dari pernikahannya yang pertama, ia memperoleh dua orang anak: Aisabella Nelly Kawilarang dan Alexander Edwin Kawilarang. Dari pernikahannya yang kedua, ia memperoleh seorang anak yakni Pearl Hazel Kawilarang.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi

Latest News Sumatera Utara

See More

MoU RS Internasional Diteken, Sumut Bidik ‘Kebocoran’ Pasien

19 Jun 2026, 23:10 WIBNews