Mengenal Otteman Mahmud, Sultan Deli Ke-13 yang Wafat dalam Kecelakaan Pesawat

Sultan Otteman Mahmud Padrap, Sultan Deli Ke-13, wafat dalam kecelakaan pesawat militer CN-235 di Lhokseumawe pada 21 Juli 2005 saat menjalankan tugas negara.
Lahir di Kuala Lumpur tahun 1966, ia berkarier sebagai perwira TNI AD berpangkat Mayor Infanteri dan dikenal sederhana serta dekat dengan masyarakat meski berasal dari keluarga bangsawan.
Dinobatkan sebagai Sultan Deli Ke-13 pada 1998, ia tetap aktif di militer hingga gugur, dan kini kepemimpinan Kesultanan Deli diteruskan oleh putranya, Sultan Mahmud Aria Lamantjiji.
Medan, IDN Times – Sultan Otteman Mahmud Padrap merupakan Sultan Deli Ke-13 yang gugur saat menjalankan tugas negara. Ia wafat pada 21 Juli 2005 dalam kecelakaan pesawat militer CN-235 di Lhokseumawe, Aceh.
Kematian beliau tidak hanya menjadi duka bagi keluarga Kesultanan Deli di Sumatra Utara, tetapi juga bagi dunia militer Indonesia. Sebab, Sultan Otteman dikenal sebagai perwira TNI yang tetap memegang teguh kewajiban adat di tengah tugas kenegaraan.
Berikut IDN Times merangkum kisah Sultan Otteman Mahmud Padrap, Sultan Deli Ke-13 yang Wafat saat Kecelakaan Pesawat:
1. Lahir di Luar Negeri, besar dengan disiplin Militer

Otteman Mahmud Padrap lahir di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 30 Agustus 1966. Ia adalah putra dari Sultan Azmy Pahalam Shah Al-Haj, Sultan Deli ke-12.
Pendidikan militernya ditempuh di Akademi Militer Magelang dan ia lulus pada tahun 1989. Selepas lulus, ia berkarier sebagai perwira Infanteri TNI AD dengan pangkat terakhir Mayor Infanteri. Jabatan terakhirnya adalah Komandan Batalyon Infanteri 312 Kala Hitam di Subang, Jawa Barat.
Meski berstatus bangsawan, almarhum dikenal hidup sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia tidak membatasi pergaulan dan sering bermain bola bersama warga di Gang Meriam, belakang Istana Maimun, saat kecil.
2. Menjadi Sultan di tengah tugas negara

Otteman Mahmud Padrap dinobatkan sebagai Sultan Deli Ke-13 pada 5 Mei 1998, menggantikan ayahnya. Namun, karena masih aktif sebagai perwira TNI dan bertugas di Kodam VII Wirabuana, Sulawesi, ia tidak dapat sepenuhnya menjalankan kewajiban adat kesultanan.
Tugas adat selama masa kepemimpinannya diwakilkan kepada Raja Muda Deli dan Datuk Empat Suku. Meski begitu, ia tetap menjadi simbol pemersatu bagi keluarga besar Kesultanan Deli dan masyarakat Melayu Deli.
Ia menikah dengan Ir. Hj. Siska Marabintang dan dikaruniai dua putera. Salah satunya adalah Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, yang kini menjabat sebagai Sultan Deli ke-14.
3. Gugur dalam tugas operasi Militer dan kini tongkat kepemimpinan Kesultanan Deli berada di tangan puteranya

Pada 21 Juli 2005, pesawat CN-235 milik TNI AU yang ditumpangi Sultan Otteman jatuh di Lhokseumawe, Aceh. Ia gugur bersama awak pesawat lainnya saat menjalankan operasi militer.
Jenazahnya dimakamkan di Kompleks Masjid Raya Al Mashun, Medan, tempat peristirahatan para Sultan Deli sebelumnya.
Atas pengabdiannya, almarhum menerima sejumlah tanda jasa negara, di antaranya Satyalancana Seroja, Satyalancana GOM Raksa Dharma, dan Satyalancana Dharma Nusa.
Kini, tongkat kepemimpinan Kesultanan Deli berada di tangan puteranya, Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah. Ia membawa amanah untuk menjaga marwah kesultanan dan melanjutkan nilai-nilai yang diajarkan ayahnya: merakyat, rendah hati, dan mengabdi pada bangsa.
Sosok Sultan Otteman Mahmud Padrap dikenang sebagai contoh pemimpin yang menyatukan dua dunia, yakni adat dan negara tanpa meninggalkan keduanya.



















