Kisah Sultan Deli ke-14 yang Selalu Ingat Ajaran Kesetaraan dari Ayahnya

- Tuanku Aji, Sultan Deli ke-14, naik tahta sejak 2005 menggantikan ayahnya yang gugur dalam tugas militer dan baru memahami makna amanah kesultanan saat kuliah.
- Ia meneladani pesan ayahnya untuk tidak merasa lebih tinggi dari rakyat, tetap bergaul dengan semua kalangan, dan menjaga kesederhanaan meski berdarah bangsawan.
- Sebagai Sultan muda, Tuanku Aji fokus merevitalisasi Istana Maimun agar kembali jadi pusat budaya Deli serta menghidupkan kegiatan keagamaan dan peringatan haul sang ayah.
Medan, IDN Times – Jabatan Sultan Deli kini berada di pundak Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, atau akrab disapa Tuanku Aji. Ia dinobatkan sebagai Sultan Deli ke-14 sejak 2005, menggantikan ayahandanya yang gugur dalam tugas negara. Yakni kecelakaan pesawat
Di balik gelar kebangsawanan itu, Aji mengaku baru benar-benar memahami makna menjadi sultan saat menginjak bangku kuliah.
“Saya baru sadar saya sebagai sultan itu pada saat kuliah, SMA ke kuliah. Waktu kecil datang ke acara, pidato saya nggak paham dan nggak sadar. Akhirnya saya sadar bahwa ini benar-benar amanah,” kata Aji kepada IDN Times.
1. Sejak kecil dididik sederhana meski anak Sultan

Tuanku Aji menceritakan masa kecilnya jauh dari kesan istana. Ia tumbuh seperti anak pada umumnya, bersekolah di SD Negeri Merdeka 5 Bandung saat ayahnya bertugas sebagai dosen di Bandung.
“Di sana saya seperti anak tentara pada umumnya, bergaul, bersenda gurau, bermain sama teman-teman lain,” ujarnya.
Kehidupan berpindah-pindah mengikuti tugas sang ayah. Dari Bandung, keluarga pindah ke Subang saat almarhum Sultan Deli ke-13 menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri 312 Kala Hitam. Tuanku Aji mengaku jarang bertemu ayahnya karena sang ayah sering pulang malam sementara ia berangkat sekolah pagi.
Pada 21 Juli 2005, keluarga mendapat kabar duka. Ayahnya, Sultan Otteman Mahmud Padrap, gugur dalam kecelakaan pesawat CN-235 militer di Lhokseumawe, Aceh, saat bertugas operasi.
2. Ajaran Ayah adalah jangan merasa lebih tinggi

Meski berdarah bangsawan, almarhum Sultan Deli ke-13 dikenal dekat dengan rakyat. Aji mengingat pesan ayahnya yang selalu menekankan kesetaraan.
“Dia bergaul sama siapa saja. Jangan menganggap kita ini lebih tinggi dari yang lain. Almarhum bapak zaman dulu waktu kecil pun meski anak sultan tapi bergaul sama siapa saja. Main bola di Gang Meriam, belakang Istana Maimun,” kenangnya.
Ajaran itu kini ia pegang teguh. “Saya bergaul sama siapa saja. Di warung kopi, kafe, semua saya datangi. Kita tidak boleh merasa lebih tinggi. Takaran rejeki setiap manusia kan beda-beda, tapi kapasitas manusia ya sama,” ujarnya.
3. Rencana revitalisasi Istana Maimun

Sebagai Sultan Deli ke-14, Aji punya misi mengembalikan marwah Istana Maimun sebagai pusat budaya dan sejarah Deli“Istana Maimun harus kembali naik lagi marwahnya dan keluarga sejahtera. Istana Maimun merupakan peninggalan sejarah,” ujarnya.
Ia menyoroti kondisi di sekitar istana yang kini dipadati pedagang dan UMKM sehingga terkesan tidak teratur. Menurutnya, penataan ulang perlu dilakukan agar nilai budaya tetap terjaga. Kabar baiknya, Kementerian Kebudayaan sudah merencanakan revitalisasi Istana Maimun.
“Sekarang Istana Maimun sudah menjadi cagar budaya nasional, jadi tidak bisa lagi merusak cagar budaya. Kalau merusak estetika dan nilai kebudayaan nasional, jadi sekarang ini tidak sembarangan untuk mengadakan sesuatu di Istana Maimun,” jelasnya.
Ke depan, kegiatan di istana akan difokuskan pada program keagamaan. “Paling program kita keagamaan kalau di kesultanan. Seperti Maulid, dan yang terdekat Idul Adha. Kita akan kurban di beberapa titik masjid peninggalan Kesultanan Deli, kemudian silaturahmi dengan keluarga seperti biasa,” kata Tuanku Aji.
Ia juga merencanakan Haul Sultan Deli setiap 21 Juli, bertepatan dengan tanggal wafatnya sang ayah. “Disitu kita haul. Jadi, insyaallah disitu kita naikkan lagi marwah Kesultanan Deli,” ujarnya.
4. Tanggungjawab di usia muda

Menjadi sultan di usia muda diakui Tuanku Aji bukan hal mudah. “Yang pertama pasti merasa berat sebagai manusia biasa dan sebagai anak muda, tapi seiring berjalannya waktu kita harus tetap berjalan terus,” katanya.
Ia memandang pahit, manis, asin, asam dalam hidup sebagai karunia dari Allah. “Apa yang sudah diturunkan Allah sama kita, yang sudah terjadi sampai hari ini adalah suatu karunia dan rahmat. Tergantung kita manusianya mentafsirkan itu semua seperti apa. Intinya, sesuatu yang dikasih Allah adalah terbaik,” ujarnya.
Kali pertama Tuanku Aji menjalankan tugas resmi sebagai sultan adalah saat menghadiri silaturahmi keraton dan ulang tahun Kota Medan sekitar 2010-2011. Untuk kegiatan terdekat, ia akan menyambut Hari Raya Idul Adha dengan agenda kurban di masjid-masjid peninggalan Kesultanan Deli.
5. Warisan Sultan ke-13

Sultan Deli ke-13, Otteman Mahmud Padrap, menggantikan ayahnya pada 5 Mei 1998. Ia tidak dapat sepenuhnya memimpin adat karena bertugas sebagai TNI berpangkat Mayor Infanteri di Kodam VII Wirabuana, Sulawesi. Saat itu, kewajiban adat diwakilkan kepada Raja Muda Deli dan Datuk Empat Suku.
Lahir di Kuala Lumpur pada 30 Agustus 1966, almarhum menikah dengan Ir. Hj. Siska Marabintang dan dikaruniai dua putera. Lulusan Akademi Militer Magelang 1989 ini gugur sebagai perwira TNI dan dimakamkan di Kompleks Masjid Raya Al Mashun, Medan. Ia juga menerima sejumlah tanda jasa seperti SL Seroja, SL Gom Raksa Dharma, dan SL Dharma Nusa.
“Kesultanan Negeri Deli telah kehilangan seorang sultan yang telah mengabdikan hidupnya untuk budaya dan negara. Beliau gugur sebagai kesuma bangsa untuk mempertahankan kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Bagi Tuanku Aji, amanah sebagai Sultan Deli adalah menjaga nilai leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan jaman.


















