Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Stasiun Kereta Api Delitua, Saksi Bisu Kejayaan Deli Spoorweg Maatschappij

Stasiun Kereta Api Delitua, Saksi Bisu Kejayaan Deli Spoorweg Maatschappij
Stasiun Kereta Api Delitua, Deli Serdang, Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Stasiun Delitua dibangun tahun 1898 sebagai bagian jaringan Deli Spoorweg Maatschappij untuk mengangkut hasil perkebunan seperti tembakau, karet, dan kelapa sawit dari wilayah Deli ke Pelabuhan Belawan.
  • Sejak awal 2000-an stasiun ini berhenti beroperasi, dan Pemkab Deli Serdang berencana menjadikannya Ruang Terbuka Hijau guna melindungi aset sejarah serta mencegah penggarapan liar.
  • Hanya sedikit bangunan peninggalan DSM yang tersisa; pengaktifan kembali jalur kereta dinilai bisa kurangi kemacetan Medan sekaligus menjaga memori kejayaan transportasi masa kolonial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Medan, IDN TimesStasiun Kereta Api Delitua berdiri senyap di pinggir Jalan Stasiun Medan-Deli Tua. Bangunan peninggalan kolonial 1898 ini dulunya pernah menjadi urat nadi pengangkut tembakau Deli yang mengguncang pasar dunia. Kini, relnya sunyi, arealnya nyaris hilang ditelan pemukiman.

Pengamat sejarah Eron Damanik menyebut Stasiun Delitua adalah bagian integral dari ekspansi Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Perusahaan kereta api swasta pertama di Hindia Belanda itu berdiri di Medan sejak 25 Desember 1886.

1. Dibangun pada tahun 1898 untuk angkut tembakau Deli

IMG_20260609_171051.jpg
Stasiun Kereta Api Delitua, Deli Serdang, Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)

Stasiun Delitua dibangun 1898 berbarengan dengan membludaknya komoditas tembakau Deli. Dari Stasiun Medan, rel DSM memanjang melewati Jalan Brigjen Katamso hingga Delitua, Namurambe, dan terus ke Binjai.

“Perkebunan yang sampai ke Delitua adalah Deli Maatschappij. Perusahaan perkebunan terluas dan terbesar di Sumatra Timur hingga 1942 yang didirikan Jacobus Nienhuys pada 1869,” kata Eron Damanik.

Pembangunan rel dan stasiun ini diprakarsai J.T. Cremer. Ia menjabat Direktur Utama Deli Maatschappij sekaligus tokoh yang mendorong industrialisasi perkebunan di Sumatra Timur.

Pada masa jayanya, kereta api DSM melayani angkut hasil perkebunan. Tembakau, karet, dan kelapa sawit diangkut dari Delitua ke Stasiun Besar Medan, lalu diteruskan ke Pelabuhan Belawan yang pembangunannya dimulai sejak 1870 dan diresmikan 1890.

DSM pernah menjadi perusahaan kereta api swasta tersibuk di Asia Tenggara. Jalurnya menghubungkan Medan-Belawan, Medan-Deli Tua-Namurambe-Binjai, sampai ke Pangkalan Susu dan Rantau Prapat.

2. Tutup awal 2000-an, kini akan menjadi RTH dalam rencana Pemkab Deli Serdang

IMG_20260609_171051.jpg
Stasiun Kereta Api Delitua, Deli Serdang, Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)

Nasib Stasiun Delitua berubah sejak awal 2000-an. Layanan barang dan penumpang dihentikan. Aset yang masuk wilayah Divre I Sumatera Utara PT KAI itu kini tidak aktif.

Saat ini Pemkab Deli Serdang berupaya mengubah areal stasiun menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH). Langkah ini dinilai untuk mencegah serbuan penggarap liar.

“Upaya Pemkab membuatnya menjadi ruang terbuka hijau patut disambut. Satu sisi untuk menghindari area itu dari serbuan penggarap. Kalau jadi RTH, masih potensial menjadi stasiun jika diaktifkan kembali kelak,” ujarnya.

Eron berharap jalur kereta api di sekitar Medan seperti Delitua-Bangun Purba-Selesai-Kuala-Pancur Batu bisa diaktifkan kembali. Revitalisasi jalur ini dinilai bisa mengurangi kemacetan Medan dan memberi opsi moda transportasi massal.

Dia juga mengingatkan pentingnya melindungi aset rel yang sudah diduduki masyarakat. “Baja-baja rel itu harus dilindungi supaya tidak ‘pindah ke birit’. Lokasinya ya menjadi bagian Pasar Deli Tua sekarang. Kalau tidak dijaga, jejak sejarah kita hilang,” tegasnya.

3. Jejak DSM yang tersisa

IMG_20260609_171112.jpg
Stasiun Kereta Api Delitua, Deli Serdang, Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)

Kini hanya beberapa bangunan stasiun DSM yang tersisa. Stasiun Medan jadi Landmark, Stasiun Belawan jadi museum, dan Stasiun Delitua jadi bangunan tua yang pelan-pelan termakan waktu.

Aktifnya kembali jalur DSM bukan sekadar nostalgia. Data Bappeda Sumut 2024 mencatat kemacetan Medan-Secanggang-Binjai merugikan Rp 1,2 triliun per tahun. Kereta api komuter bisa jadi solusi transportasi massal yang lebih efisien.

Apapun rencana Pemkab terhadap area stasiun yang tidak aktif, Eron menilai itu patut diapresiasi selama aset sejarahnya tetap dijaga. “Menjaga stasiun Delitua sama dengan menjaga memori kejayaan Deli tempo dulu,” tutupnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi

Latest News Sumatera Utara

See More