Sejarah Universitas Darma Agung Medan, Didirikan Konglomerat Tekstil Indonesia

- Universitas Darma Agung berdiri 11 Desember 1957 berkat tekad T.D. Pardede, dimulai tanpa gedung tetap dan fasilitas memadai sebelum akhirnya berkembang pesat di lokasi Medan Baru sejak 1979.
- Saat ini UDA memiliki 10 fakultas dengan total 28 program studi dari jenjang D3 hingga S2, seluruhnya telah terakreditasi BAN-PT dan menjadi salah satu PTS tertua di Sumut.
- Menargetkan visi 2035 sebagai kampus berkarakter berbasis entrepreneurship, UDA di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Suwardi Lubis fokus mencetak lulusan mandiri dan siap menciptakan lapangan kerja.
Medan, IDN Times – Nama Universitas Darma Agung atau UDA sudah lama dikenal di Medan. Pada akhir 2025, nama kampus ini tiba-toba viral karena masa Depan Mahasiswa UDA di ujung tanduk akibat konflik internal yayasan.
Namun di balik kampus kuning yang berdiri megah di Jalan Dr. T.D. Pardede nomor 21 Medan Baru, ada kisah panjang dari kondisi serba terbatas.
UDA lahir dari tekad Tumpal Dorianus Pardede yang ingin membuka akses kuliah bagi masyarakat Sumut, meski memulainya tanpa gedung permanen.
Berikut IDN Times rangkum sejarah berdirinya Universitas Darma Agung Medan hingga kini.
1. Lahir 11 Desember 1957 dari Nol

Universitas Darma Agung resmi berdiri 11 Desember 1957 berdasarkan akta notaris. Awalnya kampus ini belum punya gedung tetap, belum ada dosen tetap, dan jumlah mahasiswa yang mendaftar sangat sedikit.
Perayaan Dies Natalis dipilih tanggal 16 Oktober setiap tahun, mengikuti tanggal lahir pendirinya yakni TD Pardede, bukan tanggal akta pendirian.
Setelah 20 tahun berjalan, tahun 1979 TD Pardede mengambil alih pengelolaan penuh UDA.
Kampus juga dipindah dari Jl. Timor ke lokasi utama yang sekarang, Jl. Dr. T.D. Pardede No. 21, Medan Baru. Pemindahan ini jadi tonggak UDA mulai berkembang lebih terstruktur.
2. Pemiliknya adalah Konglomerat Tumpal Dorianus Pardede

Pendiri Universitas Darma Agung adalah Tumpal Dorianus Pardede dikenal sebagai T.D. Pardede. Lahir pada 16 Oktober 1916 dan meninggal dunia pada 18 November 1991.
Selain mendirikan kampus dan rumah sakit, pengusaha di bidang tekstil ini juga ikut mendirikan klub Pardedetex, Harimau Tapanuli, dan PSMS Medan. Dia pernah menjadi salah satu pengusaha terkaya di Indonesia pada era tahun 1980-an dengan taksiran kekayaan mencapai Rp550 miliar.
Pardedetex merupakan salah satu klub sepak bola yang disegani pada era itu. Pardede merekrut sejumlah bintang timnas era 1970-an, seperti Iswadi Idris, Sucipto Suntoro, Abdul Kadir, dan M. Basri.
Sayangnya, lantaran kecewa dengan kondisi persepakbolaan Indonesia yang penuh suap dan "main sabun", pada awal dekade 1980-an Pardedetex dibubarkan dan mundur dari kompetisi Galatama.
3. Kini miliki 10 fakultas dan 28 program studi

Saat ini UDA sudah punya 10 fakultas dengan 23 prodi S1, 6 prodi D3, 1 profesi Ners, dan 5 prodi S2.
Fakultas dan prodi unggulan di UDA:
- Fakultas Hukum: S1 Ilmu Hukum
- FISIP: S1 Ilmu Komunikasi, S1 Ilmu Pemerintahan, D3 Administrasi Bisnis, D3 Humas
- Fakultas Ekonomi: S1 Manajemen, S1 Akuntansi, D3 Akuntansi, D3 Sekretaris
- Fakultas Teknik: S1 Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro
- FKIP: S1 PPKn, Pendidikan Fisika, Pendidikan Agama Kristen
- Fakultas Pertanian: S1 Agribisnis, Agroteknologi
- Fakultas Sastra: S1 Sastra Inggris
- Fakultas Keperawatan: S1 Ilmu Keperawatan, D3 Keperawatan, Profesi Ners
- Fakultas Pariwisata & Perhotelan: D3 Perhotelan, D3 Usaha Perjalanan Wisata
- Pascasarjana: S2 Magister Hukum, Manajemen, Ilmu Komunikasi, Ilmu Pemerintahan, Agribisnis 9d18
Semua prodi sudah terakreditasi BAN-PT.
UDA menargetkan kampus ini menjadi universitas terkemuka berkarakter berbasis entrepreneurship tahun 2035.
Dengan 3.200 mahasiswa per 2025 dan dipimpin Rektor Prof. Dr. Suwardi Lubis, MS, kampus ini fokus mencetak lulusan yang mandiri, mampu menciptakan lapangan kerja, dan berwirausaha. 77b3
Dari kampus tanpa gedung di 1957, UDA kini jadi salah satu PTS tertua dan populer di Sumut. Perjalanan panjang yang membuktikan keterbatasan bisa jadi awal dari sesuatu yang besar.
4. Masa Depan Mahasiswa UDA Di Ujung Tanduk

Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA) sempat mengalami dualisme. Pertama versi Hana Nelsri Kaban (HNK) adalah salah satu pihak dalam dualisme kepengurusan YPDA yang mengelola Universitas Darma Agung (UDA) di Medan berdasarkan SK Kemenkumham tertanggal 10 Februari 2025. Kubu HNK sempat diklaim sah oleh LL Dikti Wilayah 1, namun mengalami pemblokiran AHU oleh Kemenkumham pada Juni 2025.
Sedangkan kubu satu lagi adalah Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA) versi Partahi Siregar, Rektor UDA yang ditunjuk adalah Dr Lilis S Gultom.
Bukan lagi sekadar sengketa hukum di tingkat elit, perseteruan ini diduga mulai membebani mahasiswa kurang mampu, khususnya penerima beasiswa KIP Kuliah, dengan pungutan jutaan rupiah.
Berdasarkan keterangan sejumlah dosen pada Selasa (3/3), mahasiswa penerima KIP Kuliah yang sebelumnya berada di bawah kepemimpinan Yayasan versi Partahi Siregar kini diminta melakukan pendataan ulang oleh pihak Yayasan versi HNK.
Dampaknya, mahasiswa dianggap belum terdaftar dalam sistem versi HNK dan diwajibkan mengulang Ujian Akhir Semester (UAS) serta Ujian Tengah Semester (UTS) agar nilai mereka dapat diinput ke sistem. Kebijakan ini diikuti dengan rincian biaya yang fantastis, Tarif Per SKS: Rp75.000, Beban SKS: Rata-rata 22 SKS dan Total Biaya: Rp1.650.000 untuk UAS dan Rp1.650.000 untuk UTS. Total Pungutan: Rp3.300.000 per mahasiswa.
Sedikitnya 961 mahasiswa terdampak. Mereka yang sudah menyelesaikan masa perkuliahan mendesak agar pihak Rektorat yang dipimpin Dr Lilis S Gultom segera menetapkan jadwal wisuda bagi mereka.
Syukurnya dualisme yayasan ini sudah mencapai titik temu. UDA sudah mewisuda sebanyak 350 lulusan mahasiswa gelombang ke II Tahun Akademik 2025/2026 di Balai Hermina, Jalan Dr TD Pardede Medan, Sabtu (25/4/2026).


















