Pembangunan BRT Mebidang Dimulai, Warga Keluhkan Akses Penyeberangan Jalan

- Pembangunan BRT Metropolitan Mebidang di Jalan Gatot Subroto Medan resmi dimulai, dengan pagar proyek dan banner PT PP sudah terpasang di sepanjang sisi jalan.
- Warga sekitar mengeluhkan sulitnya akses penyeberangan dan rute harian yang menjadi lebih jauh selama proses konstruksi berlangsung sekitar dua minggu terakhir.
- Proyek BRT ini ditargetkan mempercepat mobilitas jangka panjang melalui jalur khusus bus dan halte baru, meski sementara menimbulkan ketidaknyamanan bagi pejalan kaki.
Medan, IDN Times – Warga yang melintas di Jalan Jendral Gatot Subroto, Medan Sunggal, kini harus beradaptasi dengan pembangunan fisik BRT Metropolitan Mebidang. Pagar proyek panjang sudah terpasang di sisi jalan, lengkap dengan banner resmi bertuliskan “Pembangunan BRT Metropolitan Mebidang, Medan, Sumatra Utara, Indonesia” yang dikerjakan PT PP.
Proyek ini memang ditujukan untuk mempercepat mobilitas di kawasan metropolitan Medan. Tapi di tahap konstruksi, dampaknya langsung dirasakan pejalan kaki dan pedagang kecil yang setiap hari melintas di ruas tersebut.
1. Akses menyebrang menjadi sulit, warga harus mutar jauh

Andri, pengguna jalan kaki yang bekerja di Pasar Sei Kambing, mengaku sangat terganggu dengan adanya proyek.
“Sangat terdampak dan terganggu sekali, orang mau menyebrang payah dan susah. Saya dari sini ingin ke pasar Sei Kambing jadi mutar jauh. Terkadang saya jalan mau beli nasi dan kadang beli barang,” ungkapnya usai membeli nasi bungkus untuk makan siang.
Menurut Andri, kondisi ini sudah berlangsung sekitar dua minggu. Ia berharap proyek diberi celah untuk pejalan kaki menyeberang agar tidak perlu berjalan kaki lebih jauh dari biasanya.
“Menurut saya sudah lama karena sudah 2 mingguan ini saya jalan kaki agak jauh. Saya berharap proyek ini cepat selesai agar saya tidak jauh untuk jalan kaki,” katanya.
2. Warga sebut rute harian kini jadi lebih panjang

Hal senada disampaikan Mirna, warga Medan yang juga pengguna jalan. Ia menyebut rute hariannya kini jadi lebih panjang.
“Biasanya saya lewat dari sini dekat, sekarang harus mutar agak jauh. Tadinya saya mau ke Pasar Sei Sikambing mau beli pita sprei karena saya jahit. Harapan saya pemerintah segera menyelesaikan pembangunan ini,” ungkap Mirna.
Santi, pengguna jalan lainnya, juga merasakan dampak yang sama. Ia mengaku semakin lelah karena harus berjalan memutar.
“Tidak seperti biasanya, biasanya saya menyebrang sudah sampai jadi semakin sulit, lumayan jauh juga saya jalan gak tahu berapa jarak saya yang ditempuh untuk jalan kaki mutar jalan ini. Terkadang pergi diantar adik terkadang pulang sendiri jalan. Harapannya ini cepat selesai,” tutupnya.
3. Proyek ditargetkan permudah mobilitas jangka panjang

Pembangunan BRT Mebidang di Gatot Subroto saat ini fokus pada pembuatan halte, penataan median jalan, dan infrastruktur pendukung lajur khusus bus. Meski menimbulkan ketidaknyamanan sementara, proyek ini diharapkan menjadi solusi kemacetan di salah satu ruas tersibuk Medan.
Pemerintah pusat dan Pemko Medan sebelumnya menyebut BRT Mebidang akan menyediakan bus berkapasitas besar dengan jalur khusus, sehingga waktu tempuh lebih pasti dibanding angkutan umum biasa.
Selama masa konstruksi, warga diimbau berhati-hati dan mengikuti arahan petugas di lapangan.


















