Sekolah Rakyat 2 Medan Akan Pindah ke Gedung Baru, Jumlah Siswa Dikurangi

- SRMP 2 Sentra Bahagia Medan akan pindah ke gedung permanen di Jalan Flamboyan pada 20 Juni 2026, dengan kuota siswa baru berkurang dari 100 menjadi 75 karena penyesuaian fasilitas.
- Sebanyak 12 siswa SRMP 2 meraih medali karate tahun 2026, sementara pihak sekolah menekankan pembinaan karakter dan resiliensi anak sebagai fokus utama selain prestasi akademik.
- Siswa mengaku senang bersekolah di SRMP 2 karena fasilitas lengkap dan banyak teman, meski merasa sedih jauh dari orangtua; mereka juga mengalami peningkatan kepercayaan diri dan kedisiplinan.
Medan, IDN Times – Tahun ajaran 2026/2027 jadi babak baru bagi SRMP 2 Sentra Bahagia Medan. Sekolah Rakyat di bawah naungan Kemensos itu akan pindah ke gedung permanen di Jalan Flamboyan, Kecamatan Medan Tuntungan, mulai per tanggal 20 Juni 2026 mendatang.
Kepala SRMP 2 Sentra Bahagia Medan, Maragoti Siregar, menyebut kepindahan ini berdampak pada kuota siswa baru.
“Sesuai informasi yang kita dapatkan pada kunjungan tenaga ahli Virgo Setiawan ke sekolah rakyat kita yang permanen bahwa kita akan menerima murid baru sebanyak 75 murid,” kata Maragoti.
1. Maragoti sebut alasan kuota siswa turun dari 100 menjadi 75

Tahun lalu SRMP 2 menerima 100 siswa. Tahun ini berkurang 25. Penyebabnya: penyesuaian fasilitas. “Jadi, sesuai informasi beliau kenapa ini berkurang sepertinya karena tahun lalu menerima murid 100 sekarang hanya 75 itu mungkin mengingat fasilitas pembangunan sekolah yang sedang berlangsung,” jelas Maragoti.
Target Kemensos, per 20 Juni 2026 SRMP 2 Medan sudah menempati gedung permanen. “Artinya di sini sudah tidak lagi,” tegasnya, merujuk pada lokasi sementara di Sentra Bahagia, Jl. Williem Iskandar.
Maragoti merinci asal peralatan sekolah. “Untuk peralatan ada dari 3 sumber. Yang pertama ada dari Biro Umum, ada dari Pusdiklat, dan kita di sini ada dari Kemen PU,” katanya.
Kemen PU menangani fisik bangunan dan perabot besar. “Kemen PU itu seperti bangunannya, peralatan yang ada di dalam kelas seperti kursi dan meja, kalau di asrama ada tempat tidur. Jadi yang kita bawa hanya peralatan Pusdiklat dan Biro Umum.”
Artinya, meja, kursi, dan tempat tidur akan ditinggal di Sentra Bahagia. SRMP 2 pindah dengan membawa peralatan dari Pusdiklat dan Biro Umum Kemensos.
2. Prestasi Non-Akademik ada 12 siswa mendapatkan medali karate di 2026

Soal perkembangan siswa, Maragoti menyebut perubahan sikap paling menonjol. “Untuk siswa di sini, perkembangan yang paling signifikan adalah di perubahan sikap dan karakter anak-anak. Kalau dari segi akademis kita masih berjuang.”
Di bidang olahraga, SRMP 2 mencatat prestasi. “Tapi kalau dari segi olahraga, Alhamdulillah dalam tahun ini 2026 ada 12 anak murid kita yang sudah meraih medali kejuaraan karate yang diselenggarakan Kejaksaan dan Dispora.”
Maragoti menitipkan pesan khusus untuk orangtua. “Percayalah bapak ibu bahwa anak-anak bapak ibu kami bimbing dan kami bina sebagaimana kami membina anak kami sendiri. Berikanlah doa yang terbaik kepada anak-anak, guru, wali asuh dan wali asrama agar semakin bersabar karena memang seperti kita ketahui bahwa anak kita ini adalah anak yang spesial.”
Dia menegaskan aturan sekolah bukan untuk memisahkan anak dan orangtua. “Percayalah bahwa peraturan yang dikeluarkan oleh sekolah itu bukan serta merta menjauhkan orangtua dengan anak juga. Nilai moral yang ingin kami tanamkan adalah anak-anak ini mempunyai resiliensi, daya lenting yang tangguh agar kita semua bisa sejahtera hidupnya di masa mendatang," tutupnya.
3. Siswa ungkap perasaan selama di Sekolah Rakyat: Senang banyak teman tapi sedih jauh dari orangtua

Sejumlah siswa mengaku betah sekolah di SRMP 2. Safitri, 15 tahun, warga Medan Perjuangan, bercerita: “Senang karena sudah memiliki teman banyak. Terkadang tergantung mood juga, terkadang sedih karena jauh dari orangtua. Perbedaannya di sini fasilitas lengkap seperti smartbox.”
Sekolah berasrama mengubah mentalnya. “Perubahan yang saya rasakan selama di Sekolah Rakyat ini, biasa saya sekolah malu-malu untuk ke depan tapi sekarang sudah mulai percaya diri,” kata Safitri yang bercita-cita jadi dokter.
Nabila Putri Aulia, 13 tahun, asal Medan Sunggal merasakan hal serupa. “Saya merasakan perubahan di sini, dulu saat sekolah malas-malasan tapi sekarang sudah rajin,” ujarnya. Ia mengaku senang tapi juga sedih karena jauh dari orangtua. “Pernah pulang saat libur.”
Diketahui, Sekolah Rakyat adalah program Kemensos untuk anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem berdasarkan DTSEN. Konsepnya berasrama penuh dengan seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara: seragam 8 jenis, sepatu 2 pasang berlogo, makan, asrama, buku, hingga peralatan mandi.
Tahun 2025, pemerintah menargetkan 100 titik Sekolah Rakyat beroperasi. Sebanyak 64 lokasi sudah kontrak kerja, termasuk Medan. Pembangunan didukung KemenPU untuk 100 sekolah dari APBN.
Guru di Sekolah Rakyat berasal dari ASN, P3K, hingga lulusan PPG yang diseleksi. Wali asuh wajib pekerja sosial tersertifikasi.
Kepindahan SRMP 2 ke Jalan Flamboyan 20 Juni 2026 menandai selesainya tahap pembangunan permanen. Kuota 75 siswa disesuaikan dengan kapasitas gedung dan asrama baru hasil pembangunan KemenPU.


















