Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Sultan Deli Paling Berpengaruh yang Membentuk Sejarah Kota Medan

5 Sultan Deli Paling Berpengaruh yang Membentuk Sejarah Kota Medan
Sultan Deli ke-13, Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah (IDN Times/Indah Permata Sari)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kesultanan Deli berdiri sejak abad ke-17 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan yang meletakkan dasar pemerintahan dan membuka jalur dagang penting di Sumatera Timur.
  • Sultan Ma’moen Al Rasyid membawa Deli ke masa keemasan lewat kejayaan tembakau, pembangunan Istana Maimun, dan menjadikan Medan pusat budaya serta perdagangan Nusantara.
  • Dari masa revolusi hingga era modern, para sultan menjaga eksistensi adat Melayu Deli, dengan Sultan Otteman Mahmud menjadi simbol perpaduan antara tradisi dan pengabdian pada negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Medan, IDN Times – Dari balik tembok Istana Maimun yang megah, tersimpan kisah para penguasa yang membentuk wajah Medan dan Sumatera Timur. Selama hampir 400 tahun, Kesultanan Deli Darul Maimun dipimpin oleh 14 sultan. Namun, tidak semua meninggalkan jejak yang sama besarnya.

Ada yang mendirikan kerajaan dari nol, ada yang membawa Deli ke puncak kejayaan ekonomi dunia, dan ada pula yang menjaga warisan adat di tengah badai perubahan zaman. Nama-nama inilah yang hingga kini masih disebut ketika orang berbicara tentang identitas Melayu Deli.

Berikut 5 Sultan Deli paling berpengaruh berdasarkan dampak politik, ekonomi, dan budaya yang mereka tinggalkan.

1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan (1632–1669) sebagai Sultan pertama yang mendirikan Kesultanan Deli

IMG_20260520_122733.jpg
Istana Maimun di Kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Ia adalah utusan Sultan Iskandar Muda dari Aceh yang ditugaskan mengelola wilayah Tanah Deli. Gocah Pahlawan meletakkan dasar pemerintahan Kesultanan Deli dan menjadikannya bagian dari federasi Kedatukan Sunggal.

Tanpanya, tidak ada Deli yang kita kenal hari ini. Ia menjadi simbol asal-usul Kesultanan Melayu di Sumatera Timur dan membuka jalur dagang dengan VOC di Melaka.

2. Sultan Amaluddin Mangendar (1805–1850) sebagai Sultan pertama yang bergelar resmi “Sultan”

IMG_20260521_193007.jpg
Keterangan di Istana Maimun Medan tentang Sultan Amaluddin Mangendar pada tahun 1805–1850 (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sultan Amaluddin Mangendar (1805–1850) merupakan Raja Deli ke-6, yang dijuluki sebagai Sultan pertama yang bergelar resmi “Sultan”.

Setelah Deli merdeka dari Kesultanan Siak pada 1814, ia menjadi penguasa pertama yang menggunakan gelar Sultan. Pada masa pemerintahannya, sistem pemerintahan Deli mulai terstruktur dengan bantuan 8 menteri yang mengurusi perang, hukum, dan pemerintahan sehari-hari.

Langkah ini memperkuat legitimasi Deli sebagai kesultanan merdeka di panggung politik Sumatera Timur.

3. Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam (1873–1924) sebagai arsitek masa keemasan dan pembangun Istana Maimun

IMG_20260520_120617.jpg
Suasana di dalam Istana Maimun Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Ia dianggap sebagai salah satu sultan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Deli. Di bawah kepemimpinannya, Deli mencapai puncak kejayaan berkat booming tembakau Deli yang diekspor ke Eropa.

Pada 1874 saja, panen tembakau mencapai 125.000 pak dan menjadikan Deli salah satu produsen tembakau terbesar dunia. Kekayaan ini ia wujudkan dalam bentuk bangunan megah:

- Istana Maimun dibangun 1888–1891

- Masjid Raya Al Mashun didirikan 1906

- Kampong Bahari dan Mahkamah Kerapatan Besar juga lahir di era ini

Deli pun menjadi pusat perdagangan dan budaya terkemuka di Nusantara.

4. Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah (1924–1945) sebagai penjaga Kesultanan di masa revolusi dan pendudukan

IMG_20260520_122733.jpg
Istana Maimun di Kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Ia memimpin Deli di masa transisi paling berat: akhir kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga awal kemerdekaan Indonesia. Meskipun kewenangan politik kesultanan berkurang setelah Revolusi Sosial Sumatera Timur 1946, Sultan Amaluddin tetap menjaga eksistensi adat dan budaya Deli.

Kepemimpinannya memastikan Kesultanan Deli tidak hilang ditelan sejarah, melainkan bertahan sebagai lembaga adat yang dihormati hingga kini.

5. Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam (1998–2005) sebagai prajurit yang menyatukan adat dan negara

IMG_20260521_190829.jpg
Foto Sultan Otteman Mahmud Padrap merupakan Sultan Deli ke-13 yang terpampang di dalam Istana Maimun Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sultan ke-13 ini unik karena ia adalah perwira TNI aktif berpangkat Letnan Kolonel saat dinobatkan. Ia menjabat sebagai Danyonif 312 Kala Hitam Subang dan gugur dalam tugas saat pesawat CN-235 jatuh di Lhokseumawe, Aceh, 21 Juli 2005.

Sosoknya dikenang sebagai pemimpin yang merakyat, sederhana, dan mengabdi pada bangsa tanpa meninggalkan amanah adat. Ia menjadi simbol bahwa pemimpin Deli bisa berada di garis depan negara sekaligus menjaga marwah kesultanan.

Kelima sultan ini mewakili 4 fase penting Deli: pendirian, pelembagaan, keemasan ekonomi, dan adaptasi di era modern. Warisan mereka kini dijaga oleh Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam, Sultan Deli ke-14 yang bertahta sejak 2005.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi

Latest News Sumatera Utara

See More