Susu Formula di MBG, IDAI Sumut Menilai Kebijakan Salah Sasaran

- Program Makan Bergizi Gratis dikritik karena memasukkan susu formula, yang dinilai IDAI Sumut tidak sesuai tujuan menurunkan stunting dan berisiko bagi anak dengan intoleransi laktosa.
- Susu rekombinasi yang digunakan bukan produk segar lokal, dikhawatirkan mengandung gula tinggi dan bisa memicu masalah kesehatan baru seperti obesitas serta diabetes pada anak.
- IDAI Sumut menegaskan solusi stunting harus fokus pada protein hewani utuh dari pangan lokal seperti telur, ikan, dan daging, bukan jalan pintas lewat distribusi susu formula.
Medan, IDN Times – Pemerintah terus menggenjot program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis mencetak “Generasi Emas” Indonesia. Namun, di balik target besar itu, muncul kebijakan yang memantik perdebatan adalah dimasukkan susu formula atau susu rekombinasi sebagai menu pendamping.
Bagi sebagian pihak, langkah ini dianggap jalan pintas praktis. Bagi pakar kesehatan dan pengamat gizi, kebijakan tersebut justru berpotensi meleset dari tujuan utama program: menurunkan stunting dan memperkuat kesehatan anak Indonesia.
1. Fondasi sains vs kompromi logistik

Ketua IDAI Sumut, dr. Rizky Adriansyah, menilai kebijakan gizi seharusnya dibangun di atas dasar sains, bukan kompromi logistik.
“Kebijakan kesehatan idealnya dibangun di atas fondasi sains, bukan atas dasar kompromi logistik. Alih-alih menyelesaikan masalah stunting, kebijakan memaksakan sufor justru berpotensi menjadi bumerang bagi kesehatan anak dan kedaulatan pangan lokal,” jelasnya pada IDN Times, Jumat (22/5/2026).
Salah satu sorotan utama adalah aspek genetik masyarakat Asia yang mayoritas memiliki prevalensi intoleransi laktosa tinggi. Memberikan susu formula secara massal kepada anak yang tidak terbiasa mengonsumsinya berisiko menimbulkan gangguan pencernaan, mulai dari kembung hingga diare.
2. Susu rekombinasi bukan susu segar lokal

Yang dibagikan dalam uji coba MBG, menurut Rizky, bukan susu segar dari peternak lokal. Produk yang digunakan adalah susu rekombinasi, hasil olahan dari campuran susu bubuk, air, dan minyak nabati.
Kekhawatiran bertambah karena banyak produk komersial sejenis di pasaran mengandung gula tambahan tinggi untuk menyesuaikan selera anak. Jika dibagikan secara masif, program yang ditujukan untuk mencetak generasi sehat justru dikhawatirkan memicu masalah baru seperti obesitas dan diabetes melitus di usia dini.
“Pemberian produk masif ini bukan membuahkan generasi sehat, melainkan memicu bom waktu baru,” tegasnya.
3. Stunting butuh protein utuh, bukan jalan pintas

Rizky juga mengkritik asumsi bahwa stunting bisa diselesaikan hanya dengan membagikan susu. Menurutnya, tubuh anak membutuhkan protein hewani utuh yang lebih mudah diserap, seperti telur, ikan, dan daging.
“Telur dan ikan lebih mudah diserap tubuh anak dan kaya omega-3. Daging ayam dan sapi menggerakkan ekonomi peternak kecil di daerah. Kacang-kacangan merupakan sumber protein nabati yang melimpah dan murah,” ujarnya.
Intervensi gizi, lanjutnya, tidak boleh disamakan dengan pembagian sembako. Badan Gizi Nasional (BGN) didesak berani mengambil keputusan tegas dengan mengeluarkan susu formula dari menu wajib MBG.
Penutup pernyataannya menegaskan bahwa esensi program MBG harus dikembalikan pada pangan lokal yang ramah anak dan sesuai kebutuhan gizi.
“Mengembalikan esensi program pada pangan lokal yang ramah anak adalah jalan mewujudkan generasi sehat, bukan generasi yang sekadar kenyang. Tabik.”
Perdebatan ini menambah daftar evaluasi publik terhadap pelaksanaan MBG, yang diharapkan tidak hanya kenyang secara kuantitas, tetapi juga tepat secara nutrisi dan konteks lokal.



















