Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemulung Medan Minta Dilibatkan Jika PLTSa TPA Terjun Dibangun

Kota Medan
Pemulung Medan Minta Dilibatkan Jika PLTSa TPA Terjun Dibangun
Aktivitas pemulung di TPA Terjun. (Dok. JES)
Intinya Sih
  • Pemulung Medan mendukung PLTSa di TPA Terjun, tetapi khawatir kehilangan penghasilan jika sampah langsung diolah menjadi energi tanpa kesempatan memilah barang bernilai ekonomi.
  • IPI mencatat sekitar 1.200 pemulung bekerja di TPA Terjun; mereka meminta dilibatkan melalui koperasi, perekrutan PLTSa, atau skema pemilahan sampah organik dan non-organik.
  • PSEL hasil kerja sama Pemprov Sumut dan Pemkot Medan ditargetkan beroperasi pada 2028 untuk memperbaiki pengelolaan sampah Medan-Deli Serdang secara berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun, Kecamatan Medan Marelan, mulai menjadi perhatian para pemulung. Mereka mengaku mendukung upaya pemerintah mengatasi persoalan sampah, namun khawatir kehilangan mata pencaharian jika seluruh sampah langsung diolah menjadi energi listrik.

Program Pemanfaatan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) ini merupakan kerja sama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kota Medan yang ditargetkan beroperasi pada 2028.

1. Pemulung khawatir tak bisa lagi memilah sampah

Aktivitas pemulung di TPA Terjun. (Dok.JES)
Aktivitas pemulung di TPA Terjun. (Dok.JES)

Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Medan, Sugianta, mengatakan para pemulung sudah mengetahui rencana pembangunan PLTSa tersebut. Menurutnya, program itu baik bagi lingkungan dan dapat mengurangi penumpukan sampah di Kota Medan.

Namun, ia menilai ada dampak yang perlu dipikirkan pemerintah, terutama bagi ribuan pemulung yang menggantungkan hidup dari aktivitas memilah sampah.

“Programnya bagus untuk Kota Medan, sampah tidak menumpuk lagi. Tapi kami khawatir bagaimana nasib pemulung di sini,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan, jika sampah dari truk langsung masuk ke proses pengolahan atau pembakaran, pemulung tidak lagi memiliki kesempatan mengambil barang yang masih bernilai ekonomi.

2. Ada sekitar 1.200 pemulung di TPA Terjun

Aktivitas pemulung di TPA Terjun. (Dok.JES)
Aktivitas pemulung di TPA Terjun. (Dok.JES)

Berdasarkan data IPI, jumlah pemulung di Kota Medan diperkirakan lebih dari 16 ribu orang. Sekitar 4 ribu berada di kawasan Medan Utara dan sekitar 1.200 orang bekerja di TPA Terjun.

Karena itu, Sugianta berharap pemerintah menyiapkan skema perlindungan alternatif bagi mereka. Misalnya melalui koperasi atau perekrutan tenaga kerja di PLTSa.

“Kalau bisa kami dilibatkan. Atau sampah organik dan non-organik masih bisa kami pilah, sedangkan residunya silakan diolah pemerintah,” katanya.

Ia juga menyebut sebagian besar pemulung memiliki pendidikan rendah. Sehingga sulit jika harus beralih profesi menjadi pekerja pabrik, pengemudi ojek online, atau membuka usaha sendiri.

Hal senada diungkapkan oleh pemulung perempuan bernama Ika Lestari. Ia mengaku pendapatan dari memulung sangat bergantung pada barang yang ditemukan setiap hari. Mendapatkan Rp100 ribu sehari, kata dia, termasuk jarang.

“Cukup tidak cukup, ya dijalani bersama suami. Sebagian hasilnya disisihkan untuk sekolah anak,” ujarnya.

Perempuan paruhbaya itu mengatakan mencari pekerjaan lain bukan hal mudah karena faktor usia dan pendidikan yang hanya sampai SMP.

“Kalau panas ya kepanasan, kalau hujan ya basah-basahan. Kadang juga tidak dapat barang sama sekali,” tuturnya.

3. Pemerintah targetkan pengelolaan sampah lebih berkelanjutan

Seorang pemulung beraktivitas mengumpulkan barang di antara tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Terjun.
Aktivitas pemulung di TPA Terjun. (Dok.JES)

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dan Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan menandatangani kesepakatan bersama proyek PSEL pada November 2025.

Pemerintah menyebut proyek strategis nasional itu ditujukan untuk memperbaiki tata kelola sampah di Medan dan Deli Serdang secara berkelanjutan.

“Ini persoalan yang sudah lama dan merupakan salah satu concern Pak Presiden (Prabowo Subianto) terkait tata kota, termasuk masalah sampah. Kita harus benar-benar serius menanganinya,” ujar Bobby.

Bobby meminta seluruh pihak terkait menindaklanjuti proyek tersebut secara serius agar persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah utama perkotaan dapat segera teratasi.

"Medan salah satu dari 10 kota yang menerima program ini, jadi lakukan sebaik-baiknya. Kita tindaklanjuti tugas-tugas kita," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More