Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Emas Tertekan, Potensi Koreksi Terbatas di 3.980 Dolar AS per Ons Troy

Kota Medan
Harga Emas Tertekan, Potensi Koreksi Terbatas di 3.980 Dolar AS per Ons Troy
Ilustrasi suku bunga (freepik.com)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Harga emas dunia tertekan setelah rekor 2026, namun diperdagangkan sekitar US$4.043 per ons troy dengan potensi koreksi terbatas hingga level support US$3.980.
  • Reli emas sejak 2024 dipicu penurunan suku bunga The Fed dari 5,50% menjadi 3,75% serta ketegangan geopolitik, meski kenaikan minyak memunculkan spekulasi pengetatan lagi.
  • Analis menilai emas tetap aset lindung nilai dan alternatif investasi jangka panjang di tengah perang, inflasi, serta ketidakpastian ekonomi, bahkan ketika kebijakan moneter AS cenderung hawkish.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN TimesHarga emas dunia saat ini berada dalam tekanan jual setelah menyentuh rekor tertinggi pada 2026. Namun analis menilai potensi koreksi lebih lanjut terbatas, seiring peran emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Dalam 10 tahun terakhir, harga emas dunia menguat signifikan. Dari kisaran 1.168 dolar AS per ons troy, harga sempat menyentuh level tertinggi 5.300 dolar AS per ons troy. Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran 4.043 dolar AS per ons troy.

1. Dipicu penurunan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik

ilustrasi suku bunga (pixabay.com/Henhen1)
ilustrasi suku bunga (pixabay.com/Henhen1)

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan reli harga emas terjadi sejak 2024 hingga saat ini. Salah satu pemicunya adalah kebijakan penurunan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Sejak Agustus 2024, suku bunga acuan turun dari 5,50% menjadi 3,75% saat ini.

Penurunan suku bunga membuat aliran dana investor bergeser dari dolar AS ke emas. Sentimen ini diperkuat oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk konflik antara Iran dengan AS dan Israel. Kondisi risk off tersebut mendorong harga emas ke level tertinggi pada 2026.

Namun, sentimen tersebut mulai memudar. Kenaikan harga minyak mentah dunia mendorong laju inflasi dan memicu spekulasi bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga dari level 3,75%.

2. Kebijakan moneter ketat belum tentu tekan harga emas

ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz)
ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz)

Belakangan harga emas mengalami tekanan dari posisi puncaknya. Meski demikian, tekanan tersebut diprediksi tidak akan berlangsung lama.

Dia mengatakan, pengamatan historis menunjukkan bahwa kebijakan moneter ketat tidak selalu diikuti tekanan pada harga emas. Pada 2022, saat perang Rusia-Ukraina pecah, The Fed menaikkan suku bunga dari 0,25% pada Februari 2022 menjadi 5,50% pada Juli 2023. Namun harga emas tetap bertahan di kisaran 1.960 dolar AS hingga 2.000 dolar AS per ons troy.

"Artinya, sekalipun emas mengalami tekanan belakangan ini, emas tetap akan mampu bertahan dari potensi sikap hawkish Bank Sentral AS, terutama saat harga minyak mentah mendorong kenaikan inflasi," ujar Gunawan Benjamin.

3. Emas tetap menjadi aset safe haven

ilustrasi suku bunga (freepik.com/Freepik)
ilustrasi suku bunga (freepik.com/Freepik)

Di tengah perang dan ketidakpastian ekonomi, emas tetap menjadi safe haven atau alat lindung nilai. Emas memiliki karakteristik sebagai pelindung kekayaan saat terjadi krisis ekonomi dan memburuknya tensi geopolitik.

Menurut Gunawan Benjamin, bagi investor di dalam negeri, emas tetap menjadi alternatif investasi jangka panjang. Meskipun penguatan dolar AS terhadap rupiah belakangan ini membuat dolar memiliki daya tarik, pembelian dolar secara berlebihan justru dapat memperburuk kinerja rupiah.

"Dan sekecil apa pun pembelian dolar AS tetap menjadikan kita berkontribusi terhadap tekanan ekonomi dalam negeri sebagai dampak multiplier dari pelemahan rupiah," jelasnya.

Di saat ketidakpastian ekonomi berlanjut dan eskalasi perang masih berlangsung, koreksi pada harga emas justru dinilai membuat emas semakin menarik untuk diakumulasi.

Kenaikan suku bunga acuan, menurut Gunawan Benjamin, bukan semata-mata menjadi sentimen negatif dalam jangka panjang. Tensi geopolitik yang memburuk membuat nilai uang semakin memudar, baik karena inflasi maupun degradasi kepercayaan terhadap uang kartal. Emas memiliki peran strategis dengan karakteristik universal dan lebih aman saat dihadapkan pada kondisi ekonomi terburuk.

Secara teknikal, Gunawan Benjamin menyebut harga emas memiliki titik support di level 3.980 dolar AS per ons troy. Level ini mengindikasikan bahwa potensi koreksi harga emas saat ini sangat terbatas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More