Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Sekadar Kain, Grand Mercure Medan Hidupkan Jejak Warisan Batik

Kota Medan
4 min read
Bukan Sekadar Kain, Grand Mercure Medan Hidupkan Jejak Warisan Batik
Grand Mercure Medan Angkasa menggelar perayaan Hari Batik Nasional bertajuk Jejak Warisan (Dok. Grand Mercure Medan Angkasa)
  • Grand Mercure Medan Angkasa menggelar Jejak Warisan pada 2 Oktober 2026 bersama Langgam Batik & Souvenir untuk melestarikan budaya dan mendukung UMKM lokal.

  • Acara menghadirkan peragaan busana, talk show, live painting, kuliner Nusantara, pameran, serta aktivitas membatik bagi tamu hotel hingga 4 Oktober 2026.

  • Langgam Batik menonjolkan ratusan motif etnik Sumatra Utara hasil penelitian ornamen daerah, sebagai upaya menyelamatkan budaya dan memperkenalkan wastra lokal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Grand Mercure Medan Angkasa menggelar perayaan Hari Batik Nasional bertajuk Jejak Warisan, pada Jumat (2/10/2026).

Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk pelestarian budaya dan dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Dalam penyelenggaraannya, Grand Mercure Medan Angkasa berkolaborasi dengan Langgam Batik & Souvenir, pelopor batik etnik khas Sumatra Utara.

  1. 1. Identitas budaya Indonesia yang lahir dari dedikasi perajin lokal

    IMG-20261002-WA0073.jpg
    Grand Mercure Medan Angkasa menggelar perayaan Hari Batik Nasional bertajuk Jejak Warisan (Dok. Grand Mercure Medan Angkasa)

    General Manager Grand Mercure Medan Angkasa, Rachmad Suwardi, mengatakan batik merupakan identitas budaya Indonesia yang lahir dari dedikasi perajin lokal.

    "Batik merupakan identitas budaya yang merepresentasikan kekayaan warisan Indonesia sekaligus hasil karya yang lahir dari dedikasi para perajin lokal. Melalui Jejak Warisan - Perayaan Hari Batik Nasional, kami bangga berkolaborasi dengan Langgam Batik sebagai bagian dari komitmen hotel dalam mendukung pelestarian budaya," ujar Rachmad di Medan, Kamis.

    Dia menambahkan, kegiatan ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang diterapkan perusahaan.

    "Inisiatif ini juga sejalan dengan prinsip sustainability yang kami terapkan, di mana keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga melalui pemberdayaan komunitas lokal dan penciptaan nilai bersama yang berkelanjutan," katanya.

  2. 2. Peragaan busana batik, talk show inspiratif hingga live painting

    IMG_8389.jpeg
    Grand Mercure Medan Angkasa menggelar perayaan Hari Batik Nasional bertajuk Jejak Warisan (Dok. Grand Mercure Medan Angkasa)

    Dalam acara tersebut, sejumlah kegiatan digelar, di antaranya peragaan busana batik, talk show inspiratif, live painting oleh Ricky Audi, serta penyajian hidangan dan minuman khas Nusantara.

    Selain itu juga, ada Teh Butong produksi PTPN IV untuk dinikmati tamu undangan selama acara berlangsung. Terdapat pameran produk batik dari Langgam Batik & Souvenir dan kegiatan membatik yang dapat diikuti tamu hotel pada 2 Oktober hingga 4 Oktober 2026.

    Melalui kegiatan tersebut, Grand Mercure Medan Angkasa berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap batik sebagai warisan budaya dunia serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui kolaborasi dengan pelaku UMKM dan kreatif lokal.

  3. 3. Keunggulan batik Sumatra Utara yang belum banyak dikenal masyarakat

    IMG_8385.jpeg
    Grand Mercure Medan Angkasa menggelar perayaan Hari Batik Nasional bertajuk Jejak Warisan (Dok. Grand Mercure Medan Angkasa)

    Sementara itu, pengrajin batik sekaligus pemilik butik Langgam, Evi Amroeni, menekankan keunggulan batik Sumatra Utara yang belum banyak dikenal masyarakat.

    "Keunggulan batik Sumatra Utara itu luar biasa. Saya sendiri mengumpulkan ornamen-ornamen melalui penelitian ke daerah-daerah, semua kabupaten di Sumatra Utara sudah saya kunjungi. Ornamen itu saya kumpulkan dari rumah adat dan benda pakai," kata Evi.

    Menurut Evi, ornamen Sumatera Utara memiliki kekhasan yang tidak dimiliki daerah lain. Ia menyebut ratusan motif dari berbagai etnis, seperti Melayu dengan motif pucuk rebung, lebah bergantung, semut beriring, itik pulang petang, dan awan larat, serta Batak Toba dengan gorga Dalihan Na Tolu dan Karo dengan motif Tapak Raja Sulaiman.

    "Ornamen kita itu tidak ada di Jawa. Tantangan melestarikan batik di Sumatera Utara memang berat untuk dianggap sebagai wastra Sumatra Utara. Padahal saya tidak hanya berbicara tentang wastra, tapi tentang penyelamatan budaya. Kalau bangunan roboh, ornamennya juga hilang. Kita rugi dua kali. Kalau ornamennya kita angkat dan pindahkan ke kain, selain ornamennya lestari, kita juga mudah memperkenalkan motif Sumatra Utara ke luar," ujarnya.

    Evi menjelaskan, setiap motif memiliki makna filosofis dan cerita tersendiri. Bahkan, teknik membatik tulis pun mengandung filosofi, seperti tarikan canting dari dalam ke luar yang dimaknai sebagai hubungan manusia dengan sesama, dan tarikan dari atas ke bawah sebagai hubungan manusia dengan Tuhan.

    Ia menyayangkan masih banyak masyarakat Sumatra Utara yang menggunakan batik printing bermotif luar daerah.

    "Kalau masih memakai batik printing dengan motif dari luar Sumatra Utara, sangat disayangkan. Tidak ada eksistensinya. Padahal ornamen kita sangat banyak yang perlu dilestarikan," katanya.

    Terkait pemasaran, Evi mengaku aktif mengikuti pameran binaan Bank Indonesia hingga ke Jakarta dan telah menjalin kerja sama internasional. Beberapa di antaranya dengan Kedutaan Singapura dan guru-guru dari Jepang yang rutin menggelar workshop di Langgam untuk mengenal batik.

    Evi juga mengapresiasi langkah Grand Mercure Medan Angkasa yang peduli terhadap kelestarian batik.

    "Saya sangat senang Grand Mercure Medan Angkasa menyelenggarakan acara seperti ini. Artinya mereka peduli dengan pelestarian budaya. Harapannya, pihak lain juga mengikuti," ucapnya.

    Ia berharap batik tidak lagi dipandang sebagai milik satu daerah saja.

    "Batik adalah Indonesia, bukan hanya Jawa. Warisan tak benda ini adalah milik Indonesia. Harapan saya, tiap daerah, tiap provinsi, khususnya di Sumatera Utara, tiap kabupaten muncul batiknya sendiri," tutup Evi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More