Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

September Hitam di Medan, Tetap Bersuara untuk Ketidakadilan

Kota Medan
2 min read
September Hitam di Medan, Tetap Bersuara untuk Ketidakadilan
Seorang massa memegang poster protes dalam aksi September Hitam di Kota Medan, Rabu (30/9/2026). (Prayugo Utomo/IDN Times)
  • Aksi Kamisan Medan menggelar September Hitam di Titik Nol Kota Medan untuk mengenang pelanggaran HAM, termasuk kesaksian Lenny Damanik tentang kematian putranya, Michael Histon Sitanggang.

  • Massa mengheningkan cipta selama 10 menit dan mengingat sejumlah peristiwa, seperti pembunuhan Munir, Tragedi Tanjung Priok, Semanggi II, serta peristiwa politik 1965.

  • Aksi menyoroti konflik agraria, penyempitan ruang sipil, dugaan kekerasan aparat, data 23 kasus oleh TNI, serta kasus keracunan siswa dalam program Makan Bergizi Gratis di Karo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Suasana di Titik Nol Kota Medan berubah menjadi ruang perenungan pada Rabu (30/9/2026). Aksi Kamisan Medan, menginisiasi gerakan September Hitam. Menjadi wadah pengingat, begitu banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia yang masih terjadi.

Sejak petang, massa berkumpul. Membawa cerita tentang kekerasan, kehilangan, dan kasus-kasus hak asasi manusia (HAM) yang belum tuntas.

Lenny Damanik menjadi salah satu korban ketidakadilan itu. Dia tak kuasa menahan tangis saat kembali bercerita tentang Michael Histon Sitanggang, anaknya yang masih berusia 15 tahun ketika meninggal setelah diduga mengalami penganiayaan oleh prajurit TNI.

Kesaksian Lenny menjadi bagian dari rangkaian September Hitam yang digelar Aksi Kamisan Medan bersama sejumlah kelompok masyarakat sipil.

Massa kemudian berdiri dalam keheningan selama 10 menit. Hening menjadi cara untuk memberi tempat bagi nama-nama korban dan peristiwa kekerasan yang terus diingat.

September memiliki sejumlah tanggal yang lekat dengan sejarah pelanggaran HAM di Indonesia. Di antaranya pembunuhan Munir Said Thalib pada 7 September 2004, Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984, serta Tragedi Semanggi II pada 24 September 1999. Peristiwa politik 1965 juga menjadi bagian dari ingatan yang dibawa dalam refleksi.

Namun, perbincangan tidak berhenti pada sejarah. Di Sumatera Utara, massa mengaitkannya dengan persoalan yang mereka temui hari ini. Konflik agraria, ruang sipil yang menyempit, hingga dugaan kekerasan yang melibatkan aparat.

KontraS Sumut mencatat 23 kasus kekerasan dan penyiksaan oleh TNI selama Januari hingga September 2026. Sebanyak 27 orang disebut menjadi korban, dengan 25 orang mengalami luka-luka dan dua orang meninggal dunia.

Di penghujung kegiatan, suasana bergeser. Panggung rakyat menghadirkan para pekerja seni Sumatera Utara. Lagu dan pertunjukan menjadi medium lain untuk menyampaikan keresahan tentang persoalan kemanusiaan.

Kasus keracunan siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo turut disinggung dalam aksi. Bagi peserta aksi, persoalan tersebut menjadi bagian dari isu yang perlu mendapat perhatian dalam perbincangan tentang hak.

September Hitam di Medan menjadi ruang untuk menjaga ingatan tetap hidup tentang mereka yang kehilangan, tentang kasus yang belum selesai, dan hak asasi yang masih diabaikan.

Potret Aksi September Hitam di Kota Medan

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More