Berusia 111 Tahun, Stasiun Sei Bejangkar Jadi Urat Nadi Warga Batu Bara

- Stasiun Sei Bejangkar di Batu Bara beroperasi sejak 6 Agustus 1915, awalnya untuk angkutan komoditas perkebunan pada jalur Rantau Laban-Tanjungbalai.
- Kini stasiun melayani KA Putri Deli rute Medan-Tanjungbalai pulang-pergi, menghubungkan warga Sei Balai dan desa pertanian dengan pusat ekonomi regional.
- Jumlah pelanggan Januari-Agustus naik dari 35.466 pada 2024 menjadi 42.289 pada 2026; KAI menyatakan layanan terus dijaga agar tetap dimanfaatkan masyarakat.
Medan, IDN Times - Usianya sudah lebih dari satu abad. Namun, Stasiun Sei Bejangkar di Kabupaten Batubara tak pernah kehilangan denyutnya. Sejak 1915 hingga kini, stasiun peninggalan kolonial itu tetap menjadi andalan mobilitas warga pesisir timur Sumatra Utara.
Stasiun Sei Bejangkar pertama kali beroperasi pada 6 Agustus 1915. Saat itu, jalur Rantau Laban-Tanjungbalai yang dibangun perusahaan kereta api era kolonial, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), resmi dibuka. Peluit kereta api untuk pertama kalinya menggema di Desa Sei Bejangkar, Kecamatan Sei Balai
Lebih dari 111 tahun berselang, stasiun tersebut masih berdiri dan menjadi saksi dinamika kehidupan masyarakat.
1. Keberadaan stasiun ini memiliki arti penting dalam sejarah perkeretaapian

Stasiun Sei Bejangkar di Kabupaten Batu Bara (Dok. KAI Divre I Sumut) Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan keberadaan stasiun ini memiliki arti penting dalam sejarah perkeretaapian sekaligus penopang mobilitas warga.
"Stasiun Sei Bejangkar memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Lebih dari satu abad setelah mulai beroperasi, stasiun ini tetap dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan perjalanan dengan kereta api," ujar Anwar, Sabtu, 20 September 2026.
Dahulu, rel di wilayah ini dirancang untuk mengangkut komoditas perkebunan. Seiring perkembangan wilayah, fungsinya bergeser menjadi moda transportasi massal yang andal dan terjangkau bagi masyarakat umum. Di kawasan Sei Bejangkar, kehidupan warga masih sangat dipengaruhi sektor pertanian dan perkebunan. Kereta api menjadi penghubung desa-desa pertanian dengan pusat ekonomi regional.
2. Melayani perjalanan KA Medan-Tanjungbalai pulang-pergi

Stasiun Sei Bejangkar di Kabupaten Batu Bara (Dok. KAI Divre I Sumut) Saat ini, Stasiun Sei Bejangkar melayani perjalanan KA Putri Deli relasi Medan-Tanjungbalai pulang-pergi. Layanan ini menjadi pilihan utama warga Kecamatan Sei Balai dan sekitarnya yang hendak bepergian ke Medan, Tanjungbalai, maupun kota-kota lain di sepanjang perlintasan.
Peran vital stasiun tersebut tercermin dari tren penumpang yang terus tumbuh dalam tiga tahun terakhir. Pada periode Januari hingga Agustus 2024, stasiun ini melayani 35.466 pelanggan naik dan turun. Angka itu naik 8 persen pada periode yang sama tahun 2025 menjadi 38.284 pelanggan.
Tren positif berlanjut pada Januari hingga Agustus 2026. Volume pelanggan kembali tumbuh 10 persen menjadi 42.289 orang.
"Pertumbuhan secara beruntun ini membuktikan moda transportasi berbasis rel kian diminati dan menjadi andalan warga lokal," kata Anwar.
3. Bagian dari sejarah perkeretaapian Sumatra Utara

Stasiun Sei Bejangkar di Kabupaten Batu Bara (Dok. KAI Divre I Sumut) Menurut Anwar, keberadaan stasiun berusia lebih dari satu abad ini menjadi bukti nyata bahwa infrastruktur sejarah dapat tetap adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
"Perjalanan Stasiun Sei Bejangkar merupakan bagian dari sejarah perkeretaapian Sumatra Utara sekaligus perjalanan masyarakat di wilayah Batu Bara. KAI terus menjaga pelayanan agar stasiun ini dapat terus dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu pilihan transportasi," tuturnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















