Medan, IDN Times - "Dapur kami sering sepi, karena yang dimasak bukan lauk, tapi sabar. Di kotaku, sungai Deli terus mengalir. Airnya membawa banyak cerita. Kisah anak-anak dari gang kecil dan lorong sempit yang memiliki mimpi besar".
Sekolah Rakyat dan Rajutan Mimpi Fizzi dari Rumah Sempit di Sudut Kota

- Fizzi Alfaridzi, anak dari keluarga miskin di Medan, menemukan harapan baru melalui Sekolah Rakyat yang membantunya keluar dari kerasnya kehidupan jalanan dan membuka akses pendidikan layak.
- Program Sekolah Rakyat telah berjalan 11 bulan sejak Juli 2025, menjadi wadah bagi ratusan anak kurang mampu untuk meraih mimpi dan mendukung visi Generasi Emas Indonesia 2045.
- Menteri Sosial Syaifullah Yusuf menyebut ada 166 titik Sekolah Rakyat aktif dengan 15 ribu siswa, menargetkan peningkatan hingga 32 ribu peserta demi pembangunan SDM unggul dan berkarakter.
Penggalan puisi yang dibacakan Fizzi Alfaridzi ini menjadi kisah pembuka dari setiap langkah ratusan anak-anak miskin Kota Medan, yang tengah menatap harapan baru dalam merajut mimpi lewat program Sekolah Rakyat.
Di acara Open House Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Senin (15/06/2026) lalu, Fizzi berkesempatan bertemu dan membagikan kisahnya langsung di depan Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf.
Saat itu, Fizzi ditemani sang bunda mengaku bersyukur terpilih sebagai satu di antara ratusan anak miskin yang bisa merasakan bangku sekolah.
Selama ini Fizzi mengaku lebih banyak hidup bebas di jalanan. Tanpa adanya perhatian lebih dari kedua orang tua, ia bersama tujuh saudara kandungnya berjuang melewati kerasnya dunia.
Tinggal di kawasan Medan Utara, tepatnya Belawan, Fizzi harus menikmati tinggal berhimpitan di rumah kontrakan kecil seharga Rp400 ribu per bulannya.
1. Penghasilan orang tua Fizzi Rp500 ribu per bulan dengan tanggungan 8 anak

Fizzi dan ketujuh saudaranya juga hanya mengandalkan hidup dari pekerjaan kasar sang ibu sebagai buruh cuci, dan ayah calo angkot di terminal dengan penghasilan Rp500 ribu setiap bulannya.
Tak pernah terbersit memiliki keinginan menikmati waktu bermain, dan mendapatkan kesempatan belajar di lembaga formal seperti anak seusianya.
Tapi itu cerita dulu. Sebab, cerita pahit ini harus ditanam dalam tanah lapisan ketujuh.
Kini, keinginan Fizzi terjawab. Lewat Sekolah Rakyat mimpinya mulai terajut dari sudut kota yang padat penduduk.
Keinginan memutus mata rantai kemiskinan di tengah keluarganya melalui pendidikan pun terbuka lebar.
Ambisinya, menjadi anak berguna bagi negeri dan mengangkat derajat orang tua, sejatinya bukan lagi sebuah cerita dalam dongeng.
Di Sekolah Rakyat, ia merupakan salah satu siswa yang akan membuka langkah baru, semangat dan juga harapan baru.
Di tengah himpitan ekonomi, di dalam rumah yang begitu sempit Fizzi juga membawa semangat dan doa sang bunda untuk menjadi anak yang berguna.
Di Medan, tanah yang ramai dan keras menjadi penambah semangat bagi Fizzi membawa janji menjadi sosok yang berguna bagi negeri dan keluarga tercinta.
Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tapi jalan baru bagi Fizzi dan ratusan anak lainnya di Medan yang tak memiliki kesempatan meraih ilmu.
2. Bagi Fizzi miskin bukan penghalang untuk menjadi anak yang berguna

Bagi bocah 14 tahun ini, miskin bukan lagi penghalang menjadi yang terbaik. Miskin juga bukan penghalang untuknya menjadi anak yang berguna.
Ada cita-cita mulia yang terpatri di hati, dan ada harapan besar melepas belenggu dan label miskin dari sendi kehidupannya.
Ini bukanlah menjadi bagian dari kisah sedih. Hari ini, sebuah harapan baru terukir menyambut cakrawala yang tak terbatas demi sebuah mimpi menjadi pengubah nasib kemiskinan yang dihadapi keluarga selama puluhan tahun lamanya.
Fizzi dan ratusan anak miskin lain di Medan memiliki harapan baru menyongsong masa depan yang lebih cerah.
Harapan terciptanya Generasi Emas 2045 sebagai visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan negara adidaya dimulai melalui Sekolah Rakyat yang telah berjalan selama 11 bulan atau tepatnya dimulai sejak 14 Juli 2025 lalu.
3. Menteri Sosial sebut Sekolah Rakyat memiliki visi pembangunan SDM yang unggul

Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf mengungkap, ada 166 titik Sekolah Rakyat yang telah beroperasi di Indonesia.
"Sebanyak 15 Ribu siswa jenjang SD, SMP, dan SMA yang telah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat selama 11 bulan. Tahun ini (2026-red) kita akan menampung 32 ribu siswa seluruh rakyat Indonesia," ungkapnya.
Dirinya juga menerangkan jika Sekolah Rakyat dikhususkan bagi keluarga paling tidak mampu, untuk mendapatkan kesempatan pendidikan dengan lingkungan berkualitas.
"Boleh orang tua belum berhasil, dan belum mendapatkan pekerjaan layak. Tapi, anak-anaknya harus diberikan pendidikan yang baik demi mewujudkan Generasi Emas 2045," terangnya.
"Siapa tau lulusan Sekolah Rakyat menjadi Presiden, Gubernur, Walikota, Kepala Dinas, Pengusaha dan lainnya . Apapun itu, dengan keterampilan cukup menjadi keluarga sejahtera di masa mendatang akan terwujud sesuai harapan presiden," sambungnya.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menjelaskan, jika tugasnya dan kepala daerah tak lain untuk mensukseskan program strategis Presiden Prabowo Subianto.
"Dulunya, anak-anak kita tidak seperti sekarang ini. Kini lebih disiplin, percaya diri, lebih pintar, dan optimis menghadapi masa depan. Saya kira mereka mulai tampak perubahan. Ini perlu kita syukuri bersama. Anak-anak yang ikut Sekolah Rakyat lebih percaya diri," katanya.
Dengan guru dan sistem yang baik para siswa di Sekolah Rakyat mendapatkan materi, untuk menjadi anak-anak hebat dan tumpuan keluarga di masa depan.
Untuk diketahui bahwa, Sekolah Rakyat yang menerapkan sekolah asrama atau boarding school tidak membuka pendaftaran, tapi penjangkauan.
Karena, dalam proses penjangkauan, masyarakat dengan Desil 1-2 atau ekonomi terbawah akan didatangi petugas Badan Pusat Statistik (BPS), Pemerintah Daerah (Pemda) dan petugas Program Keluarga Harapan (PKH).
Selanjutnya, dilakukan dialog dengan orang tua dan jika disetujui orang tua maka ditetapkan oleh kepala daerah sebagai calon siswa di Sekolah Rakyat.
"Sekolah Rakyat ini juga menggunakan fasilitas terbaik dengan pemanfaatan Smart Board dan laptop. Anak-anak dikenalkan dan akrab dengan teknologi. Mereka bisa memanfaatkan teknologi yang tidak dirasakan oleh orang tuanya dulu," ungkap Gus Ipul.
Untuk memuluskan rencana mulia ini, pemerintah menargetkan 100 Sekolah Rakyat setiap tahun.
"Biasanya di luar negeri sekolah asrama atau boarding school hanya untuk terpintar. Di sini (Indonesia) disediakan untuk keluarga paling tidak mampu dan anak-anaknya memiliki potensi dan keinginan belajar yang kuat," sebut Gus Ipul.
Visi ini berpusat pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, berkualitas, berkarakter kuat, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Karena pak presiden bertekad untuk memutuskan rantai kemiskinan. Kalau bapaknya pemulung anaknya jangan jadi pemulung. Bapaknya tukang becak anaknya jangan jadi tukang becak. Ini perjuangan bapak Presiden, di sisa hidupnya pak Presiden akan memperjuangkan ini," ujarnya.
Hanya dengan keberanian tekad dan keyakinan memimpin pemerintahan bersih anti korupsi, maka negara ini bisa terselamatkan.

![[BREAKING] Aksi Malam Hari, Mahasiswa Goyang Pagar DPRD Medan](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_4cbd0c12498576b08ca121c297091ce1_cd94f30a-0507-451c-ac44-baf717074fcb_watermarked_idntimes-2.jpg)



![[BREAKING] Jalan Raden Saleh Diblokir Mahasiswa di Medan, Pengendara Marah](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_192ef0865ec44d841cd9d3ae2dabb65e_1bd02f19-e626-466e-ae5b-fac343d474a9.jpeg)












