Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Banyak Anak Muda Alami Kesemutan Digital, Ini Cara Mencegahnya

Kota Medan
Banyak Anak Muda Alami Kesemutan Digital, Ini Cara Mencegahnya
Dokter Spesialis Saraf Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Indriazel Syaputri Hutasuhut (dok.Columbia Asia Aksara)
Intinya Sih
  • Penggunaan komputer dan ponsel berkepanjangan meningkatkan risiko “kesemutan digital” pada usia produktif, termasuk pekerja kantoran, kreator digital, dan anak muda.
  • Kesemutan, baal, nyeri tangan, atau leher dapat menandakan tekanan saraf; pemeriksaan dokter saraf disarankan bila keluhan berlangsung beberapa hari atau memburuk.
  • Pencegahan dilakukan dengan peregangan tiap sekitar 30 menit dan posisi kerja ergonomis, termasuk layar komputer sejajar mata untuk mengurangi tekanan leher serta tulang belakang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times- Penggunaan gawai dan perangkat digital yang semakin intens dalam kehidupan sehari-hari ternyata membawa konsekuensi bagi kesehatan. Salah satunya adalah meningkatnya risiko gangguan saraf yang kini mulai banyak dialami kalangan usia produktif.

Columbia Asia Hospital Aksara mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh keluhan kesemutan yang muncul akibat terlalu lama menggunakan komputer maupun telepon seluler. Fenomena yang disebut sebagai "kesemutan digital" kini tak lagi identik dengan lansia, melainkan juga banyak dialami pekerja kantoran, kreator digital, hingga generasi muda.

Mengacu pada laporan Digital 2025, jumlah pengguna internet di Indonesia telah melampaui 212 juta orang. Seiring meningkatnya durasi penggunaan perangkat digital, risiko gangguan saraf pun ikut bertambah.

1. Banyak orang mengabaikan tanda awal gangguan saraf

Tampak luar bangunan RS Columbia Asia Aksara dengan fasad modern, area depan, dan papan nama rumah sakit.
RS Columbia Asia Aksara (IDN Times/Doni Hermawan)

Di sisi lain, data medis menunjukkan prevalensi neuropati pada populasi umum berada di kisaran 1–7 persen. Angka tersebut cenderung lebih tinggi pada orang yang melakukan gerakan berulang atau bekerja dalam posisi yang sama dalam waktu lama, seperti pekerja kantoran dan pelaku industri kreatif.

Dokter Spesialis Saraf Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Indriazel Syaputri Hutasuhut, Sp.N, mengatakan banyak orang mengabaikan tanda awal gangguan saraf karena dianggap sebagai keluhan biasa.

"Kesemutan, baal atau mati rasa, hingga nyeri pada tangan maupun leher bisa menjadi tanda adanya tekanan pada saraf. Pemeriksaan sejak dini oleh dokter spesialis saraf sangat penting agar penyebabnya dapat diketahui secara akurat dan penanganan bisa dilakukan sebelum kondisinya memburuk," ujarnya.

2. Semakin banyak anak muda yang datang berobat akibat aktivitas bekerja

ilustrasi kerja di depan laptop (pixabay.com/hamonazaryan1)
ilustrasi kerja di depan laptop (pixabay.com/hamonazaryan1)

Ia mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri apabila kesemutan berlangsung selama beberapa hari dan tidak kunjung membaik.

"Jangan menunggu sampai muncul kelemahan pada anggota gerak atau gangguan yang lebih berat. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pemulihannya," katanya.

Menurut dr. Indriazel, Columbia Asia Hospital Aksara menyediakan layanan neurologi yang didukung fasilitas diagnostik modern untuk menangani berbagai gangguan saraf. Rumah sakit tersebut juga menawarkan berbagai metode terapi, termasuk dry needling, yang bertujuan membantu merangsang regenerasi jaringan sekaligus mendukung pemulihan fungsi otot dan saraf sesuai indikasi medis.

Ia menambahkan, pasien gangguan saraf saat ini tidak lagi didominasi kelompok lanjut usia. Semakin banyak anak muda yang datang berobat akibat aktivitas bekerja di depan komputer atau penggunaan ponsel dalam waktu lama.

Karena itu, ia menyarankan pekerja digital membiasakan melakukan peregangan secara berkala.

"Usahakan melakukan stretching setiap sekitar 30 menit, terutama bagi yang bekerja sambil duduk dalam waktu lama. Cara sederhana ini dapat membantu melancarkan aliran darah sekaligus mengurangi ketegangan pada saraf," jelasnya.

3. Perlu diimbangi dengan posisi kerja yang ergonomis

Dokter Spesialis Saraf Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Indriazel Syaputri Hutasuhut, dalam potret resmi.
Dokter Spesialis Saraf Columbia Asia Hospital Aksara, dr. Indriazel Syaputri Hutasuhut (dok.Columbia Asia Aksara)

Selain itu, penggunaan perangkat digital juga perlu diimbangi dengan posisi kerja yang ergonomis. Salah satunya dengan memastikan layar komputer berada sejajar dengan tinggi mata agar tekanan pada leher dan tulang belakang dapat diminimalkan.

Sementara itu, Hospital CEO Columbia Asia Hospital Aksara, dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H., FISQua, mengatakan edukasi mengenai kesehatan saraf menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital.

"Melalui edukasi kesehatan dan layanan neurologi yang komprehensif, kami ingin masyarakat lebih mengenali gejala gangguan saraf sejak dini, menerapkan pola kerja yang ergonomis, serta memperoleh penanganan yang tepat agar tetap sehat dan produktif," ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan bagi masyarakat, Columbia Asia Hospital Aksara menghadirkan layanan neurologi dengan dukungan teknologi diagnostik terkini untuk membantu mendeteksi sekaligus menangani berbagai gangguan saraf secara cepat dan tepat, khususnya bagi para pekerja digital yang memiliki aktivitas tinggi di depan layar.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More