Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Produksi Aman, Sumut Berpotensi Penyangga Pangan Saat El Nino
Karyono telaten membajak sawah di tengah dampak El Nino. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
  • Sumatra Utara relatif aman dari dampak El Nino karena curah hujan masih tinggi, sehingga produksi pertanian berpotensi tetap terjaga.
  • Pasokan air pertanian dinilai mencukupi dan gangguan tanam belum signifikan, tetapi petani menghadapi kenaikan biaya pupuk, herbisida, mulsa plastik, serta insektisida.
  • Produksi aman membuka peluang Sumut memasok pangan ke daerah terdampak kekeringan, meski distribusi antardaerah berpotensi membentuk keseimbangan harga baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
4 Agustus 2026

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyatakan Sumatra Utara relatif aman dari dampak El Nino karena curah hujan masih mencukupi. Produksi pertanian dinilai tidak mengalami gangguan signifikan dan Sumut berpotensi memasok pangan ke daerah terdampak kekeringan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sumatra Utara berpotensi menjadi penyangga dan pengekspor pangan ke daerah lain yang terdampak kekeringan El Nino, karena produksi pertaniannya dinilai aman.
  • Who?
    Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai kondisi pertanian Sumatra Utara, sementara petani menghadapi kenaikan biaya pupuk, herbisida, plastik mulsa, dan insektisida.
  • Where?
    Sumatra Utara, dengan potensi distribusi komoditas pangan ke wilayah Indonesia lain yang mengalami dampak kekeringan akibat El Nino.
  • When?
    Penilaian disampaikan Gunawan Benjamin di Medan pada Selasa, 4 Agustus 2026, saat Sumatra Utara belakangan ini masih lebih banyak diguyur hujan.
  • Why?
    Curah hujan di Sumatra Utara dinilai mencukupi kebutuhan air pertanian dan hingga saat ini belum terlihat potensi gangguan tanam yang signifikan akibat musim kering.
  • How?
    Barang dari Sumatra Utara dapat didistribusikan ke daerah dengan harga lebih mahal melalui transaksi antardaerah, hingga pasar membentuk titik keseimbangan harga baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sumatra Utara masih banyak hujan saat El Nino datang. Sawah dan kebun punya air cukup, jadi tanaman belum banyak terganggu. Petani bisa punya makanan untuk dijual ke daerah lain yang kering. Tapi pupuk dan obat tanaman makin mahal. Harga makanan di Sumut mungkin lebih murah sebentar, lalu bisa berubah saat dikirim ke tempat lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Curah hujan yang tetap mencukupi memberi Sumatra Utara ruang untuk menjaga kegiatan tanam dan produksi pangan ketika sejumlah daerah lain menghadapi kekeringan. Kondisi ini membuka peluang bagi pasokan dari Sumut untuk menjangkau wilayah dengan harga lebih tinggi, sekaligus memperkuat peran perdagangan antardaerah dalam menyeimbangkan ketersediaan barang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Kondisi iklim yang basah membuat Sumatra Utara diuntungkan saat El Nino. Dengan produksi pertanian yang aman, Sumut berpotensi menjadi daerah pengekspor pangan ke wilayah lain yang terdampak kekeringan.

Hal ini dikarenakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memprediksi dampak El Nino di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, Sumatra Utara dinilai relatif aman dari ancaman musim kering tersebut.

1. Tidak sepenuhnya merasakan gelombang El Nino di Sumut

Kementerian Pertanian (Kementan) kini fokus meningkatkan produksi padi yang sempat tertunda akibat dampak El Nino. (dok. Kementan)

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, mengatakan Sumut justru belakangan ini lebih banyak diguyur hujan. Kondisi itu membuat masyarakat di daerah ini tidak sepenuhnya merasakan gelombang El Nino.

"Sumatra Utara relatif aman dari dampak musim kering atau El Nino yang melanda wilayah Indonesia. Alih-alih kekeringan, Sumut justru lebih banyak diguyur hujan belakangan ini. Sehingga pada dasarnya masyarakat Sumut tidak sepenuhnya merasakan adanya gelombang El Nino. Sumut relatif diuntungkan dengan kondisi iklim belakangan ini," ujar Gunawan kepada IDN Times, Selasa (4/8/2026).

2. Belum terlihat adanya potensi gangguan tanam yang signifikan

Kementerian Pertanian (Kementan) kini fokus meningkatkan produksi padi yang sempat tertunda akibat dampak El Nino. (dok. Kementan)

Dari pengamatannya, sektor pertanian di Sumut sejauh ini masih mendapatkan pasokan air yang mencukupi. Belum terlihat adanya potensi gangguan tanam yang signifikan.

Namun, Gunawan menyebut persoalan utama yang dihadapi petani saat ini justru berasal dari kenaikan harga biaya produksi. Komoditas seperti pupuk, herbisida, plastik mulsa, hingga insektisida mengalami lonjakan.

"Sejauh ini masalah utama sektor pertanian di Sumut adalah kenaikan harga biaya input setelah terjadi lonjakan pada produk pertanian seperti pupuk, herbisida, plastik mulsa hingga insektisida. Sehingga komponen biaya tersebut sebenarnya sudah cukup untuk memicu kenaikan harga jual produk pertanian," jelasnya.

Meski demikian, Sumut tidak sepenuhnya bebas dari dampak El Nino. Menurut Gunawan, wilayah lain di Indonesia yang terdampak kekeringan secara tidak langsung akan memengaruhi pembentukan harga komoditas pertanian di Sumut.

3. Lalu lintas transaksi barang dan jasa antardaerah akan membentuk harmonisasi keseimbangan harga baru

Berkat RJIT, Pertanian Serang Meningkat dan Tak Khawatir El Nino. (Dok. Kementan)

Dia menjelaskan, lalu lintas transaksi barang dan jasa antardaerah akan membentuk harmonisasi keseimbangan harga baru. Jika El Nino membuat harga di satu wilayah lebih mahal, maka daerah yang memiliki harga lebih murah berpeluang mendistribusikan barangnya ke sana.

"Setiap ada disparitas yang terlalu lebar, nantinya pasar akan menyeimbangkan dengan sendirinya dan bertemu pada titik harga keekonomian yang baru. Maka wilayah yang memiliki harga barang lebih murah berpeluang mendistribusikan barang tersebut ke wilayah yang harganya lebih mahal. Yang penting pedagang masih mendapatkan selisih atau margin," katanya.

Dengan curah hujan yang mencukupi dan tidak adanya gangguan produksi, Gunawan menilai harga kebutuhan pokok di Sumut berpeluang lebih rendah dibandingkan wilayah lain.

"Tapi besar kemungkinan hanya akan berlangsung sementara. Titik keseimbangan baru akan tercipta begitu pedagang menjual barang dari Sumut ke wilayah lainnya," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article