Upaya pemulihan kawasan dengan restorasi dilakukan Kolaborasi Konservasi Indonesia dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) di kawasan penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, Kamis (19/6/2026). (Dok: KI)
Direktur SRI, Dony Saputra, menyebut restorasi dilakukan melalui tahapan ilmiah mulai dari pemetaan tutupan lahan hingga survei keanekaragaman hayati sebagai dasar evaluasi.
“Berdasarkan hasil survei yang terhimpun sejak tahun 2020, kehilangan tutupan hutan merupakan faktor utama penyebab longsor dan banjir serta penurunan populasi satwa selain fragmentasi dan perburuan. Oleh karena itu, intervensi pengayaan lahan perkebunan masyarakat ini menjadi strategi konservasi yang sangat aman, sebab memulihkan kualitas ekologi tanpa mengorbankan ketahanan pangan warga, sekaligus komitmen bersama masyarakat untuk menjaga batas cagar alam secara hukum adat,” kata Direktur SRI, Dony Saputra.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menilai program ini sebagai model pengelolaan kawasan penyangga yang aplikatif.
“Dengan pulihnya fungsi ekologis habitat satwa di Desa Aek Haminjon, diharapkan keanekaragaman hayati endemik yang berstatus kritis dapat hidup berdampingan secara aman dengan manusia. Upaya restorasi di Desa Aek Haminjon ini menjadi model percontohan penting bagaimana pengelolaan kawasan penyangga cagar alam seharusnya dilakukan secara partisipatif. Pelibatan aktif kelompok masyarakat melalui skema kesepakatan konservasi masyarakat sejak tahap perencanaan, pembibitan, penanaman, hingga pengawasan ke depan diharapkan mampu menghasilkan ekonomi berkelanjutan bagi desa setempat,” papar Gus Irawan Pasaribu.