Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Habitat Orangutan Tapanuli Terancam, Program Restorasi 159 Ha Digeber
Upaya pemulihan kawasan dengan restorasi dilakukan Kolaborasi Konservasi Indonesia dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) di kawasan penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, Kamis (19/6/2026). (Dok: KI)
  • Program restorasi berbasis masyarakat seluas 159 hektare di Desa Aek Haminjon digelar untuk memulihkan ekosistem Batang Toru dan melindungi habitat Orangutan Tapanuli yang berstatus kritis.
  • Deforestasi sekitar 11 hektare akibat aktivitas manusia menyebabkan erosi, penurunan kualitas lingkungan, serta penyusutan habitat satwa langka seperti harimau Sumatra dan trenggiling.
  • Kolaborasi Konservasi Indonesia, SRI, dan warga lokal dijadikan model percontohan pemulihan ekosistem dengan pendekatan ilmiah dan partisipatif guna menjaga keseimbangan ekologis serta ekonomi berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tapanuli Selatan, IDN Times - Upaya pemulihan ekosistem Batang Toru di Sumatera Utara memasuki tahap baru dengan dimulainya program restorasi berbasis masyarakat di Desa Aek Haminjon, Kabupaten Tapanuli Selatan. Sebanyak 159 hektare lahan terdampak banjir dan longsor pada akhir 2025 mulai dipulihkan untuk mengembalikan fungsi ekologis sekaligus melindungi habitat satwa langka.

Program ini dijalankan melalui kolaborasi Konservasi Indonesia dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) bersama masyarakat setempat, dengan fokus pada kawasan penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok yang merupakan bagian dari kawasan keanekaragaman hayati.

 1. Restorasi berbasis warga, target puluhan ribu tanaman

Upaya pemulihan kawasan dengan restorasi dilakukan Kolaborasi Konservasi Indonesia dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) di kawasan penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, Kamis (19/6/2026). (Dok: KI)

Sundaland Program Director Konservasi Indonesia, Jeri Imansyah, menjelaskan pendekatan yang digunakan mengintegrasikan perlindungan habitat satwa dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

“Mayoritas penduduk Desa Aek Haminjon menggantungkan hidup pada aktivitas pertanian, perkebunan, serta pemanfaatan hasil hutan. Wilayah ini memegang posisi yang sangat strategis dalam konservasi karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok di Blok Timur Ekosistem Batang Toru. Kawasan tersebut merupakan rumah bagi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), yang kini berstatus kritis (critically endangered) menurut IUCN dengan estimasi populasi global yang tersisa hanya sekitar 800 individu,” ujar Jeri dalam keterangan resmi, Jumat (19/6/2026).

Dalam program ini, restorasi ditargetkan mencakup penanaman 35 ribu hingga 49 ribu tanaman, terdiri dari komoditas utama seperti kopi, karet, kakao, dan durian yang juga mendukung penghidupan warga.

2. Deforestasi picu ancaman ekosistem dan satwa

Orangutan Tapanuli di Hutan Batangtoru, Tapanuli Selatan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Berdasarkan analisis citra satelit, ditemukan deforestasi sekitar 11 hektare di wilayah yang berbatasan langsung dengan desa. Aktivitas manusia dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan menjadi faktor utama penyebabnya.

“Pentingnya pemulihan bagi wilayah Desa Aek Haminjon didasari atas fungsinya yang vital sebagai habitat satwa liar di zona penyangga kawasan konservasi seperti orangutan Tapanuli, harimau Sumatra, tapir, trenggiling, serta berbagai jenis fauna yang memiliki nilai konservasi tinggi,” sambungnya.

Kehilangan tutupan vegetasi ini berdampak pada meningkatnya erosi, penurunan kualitas lingkungan, hingga menyusutnya habitat bagi satwa dilindungi.

3. Model kolaborasi jadi percontohan pemulihan ekosistem

Upaya pemulihan kawasan dengan restorasi dilakukan Kolaborasi Konservasi Indonesia dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) di kawasan penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, Kamis (19/6/2026). (Dok: KI)

Direktur SRI, Dony Saputra, menyebut restorasi dilakukan melalui tahapan ilmiah mulai dari pemetaan tutupan lahan hingga survei keanekaragaman hayati sebagai dasar evaluasi.

“Berdasarkan hasil survei yang terhimpun sejak tahun 2020, kehilangan tutupan hutan merupakan faktor utama penyebab longsor dan banjir serta penurunan populasi satwa selain fragmentasi dan perburuan. Oleh karena itu, intervensi pengayaan lahan perkebunan masyarakat ini menjadi strategi konservasi yang sangat aman, sebab memulihkan kualitas ekologi tanpa mengorbankan ketahanan pangan warga, sekaligus komitmen bersama masyarakat untuk menjaga batas cagar alam secara hukum adat,” kata Direktur SRI, Dony Saputra.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menilai program ini sebagai model pengelolaan kawasan penyangga yang aplikatif.

“Dengan pulihnya fungsi ekologis habitat  satwa di Desa Aek Haminjon, diharapkan keanekaragaman hayati endemik yang berstatus kritis dapat hidup berdampingan secara aman dengan manusia. Upaya restorasi di Desa Aek Haminjon ini menjadi model percontohan penting bagaimana pengelolaan kawasan penyangga cagar alam seharusnya dilakukan secara partisipatif. Pelibatan aktif kelompok masyarakat melalui skema kesepakatan konservasi masyarakat sejak tahap perencanaan, pembibitan, penanaman, hingga pengawasan ke depan diharapkan mampu menghasilkan ekonomi berkelanjutan bagi desa setempat,” papar Gus Irawan Pasaribu.

Topics

Editorial Team

Related Article