Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dua Anak Harimau Kembali Terpantau Kamera di Kerinci Seblat

Kota Medan
Dua Anak Harimau Kembali Terpantau Kamera di Kerinci Seblat
Dua anakan harimau sumatra terpantau dalam keadaan baik di Taman Nasional Kerinci Seblat. (Dok: Kementerian Kehutanan)
Share Article

Medan, IDN Times — Upaya konservasi Harimau Sumatra atau Panthera tigris sumatrae kembali mendapat kabar positif. Dua harimau anakan yang pertama kali terpantau melalui kamera jebak pada September 2025 kembali terekam di bentang alam Kerinci Seblat, Sumatra Barat, pada 2026 dalam kondisi sehat dan menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Temuan tersebut menjadi indikator bahwa proses reproduksi Harimau Sumatra masih berlangsung secara alami di habitatnya. Selain itu, keberhasilan dua anak harimau bertahan hidup hingga memasuki fase remaja menunjukkan habitat di kawasan tersebut masih mampu mendukung keberlangsungan hidup salah satu satwa paling terancam di Indonesia.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan hasil pemantauan itu menunjukkan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi dan hutan penyangga secara berkelanjutan.

“Perlindungan harimau sumatra membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, mitra konservasi, dan berbagai pihak terkait untuk menjaga ekosistem tempat satwa tersebut hidup,” ujar Satyawan dalam keterangan resmi, Minggu (26/7/2026).

1. Kamera jebak pastikan dua anak harimau masih bertahan hidup

potret Danau Kaco Lempur di Taman Nasional Kerinci Seblat (tnkerinciseblat.or.id)
potret Danau Kaco Lempur di Taman Nasional Kerinci Seblat (tnkerinciseblat.or.id)

Pemantauan dua anak harimau sumatra dilakukan menggunakan jaringan kamera jebak yang dipasang secara sistematis oleh tim lapangan Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, Taman Nasional Kerinci Seblat bersama Yayasan Konservasi Hutan Harimau.

Identifikasi individu dilakukan berdasarkan pola loreng pada tubuh harimau yang bersifat unik. Metode tersebut membuat tim dapat memastikan bahwa harimau yang terekam pada 2026 merupakan individu yang sama dengan dua anak harimau yang sebelumnya terlihat pada September 2025.

Kementerian Kehutanan menilai temuan ini menjadi bukti penting bahwa pemantauan jangka panjang terhadap satwa liar memiliki peran besar dalam memahami kondisi populasi di alam.

2. Monitoring jadi dasar evaluasi populasi harimau sumatra

Taman Nasional Kerinci Seblat (commons.wikimedia.org)
Taman Nasional Kerinci Seblat (commons.wikimedia.org)

Selain mengetahui keberadaan individu, data dari kamera jebak juga memberikan informasi mengenai keberhasilan reproduksi, tingkat kelangsungan hidup anak harimau, hingga dinamika populasi Harimau Sumatra di habitat alami.

Direktur Jenderal KSDAE Satyawan Pudyatmoko menyebut pengelolaan kawasan konservasi berbasis data ilmiah menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga keberlangsungan satwa liar.

Meski menunjukkan perkembangan positif, Harimau Sumatra masih menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perburuan liar, jerat satwa, kerusakan habitat, hingga konflik antara manusia dan satwa liar.

Karena itu, Kementerian Kehutanan terus memperkuat berbagai upaya konservasi, seperti peningkatan patroli kawasan, penegakan hukum terhadap kejahatan tumbuhan dan satwa liar, pemantauan populasi berbasis sains, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.

3. Harimau sumatra masih butuh perlindungan bersama

Ilustrasi harimau sumatra. (IDN Times/Prayugo Utomo)
Ilustrasi harimau sumatra. (IDN Times/Prayugo Utomo)

Keberhasilan dua anak Harimau Sumatra bertahan hidup tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam menjaga kawasan habitatnya. Kementerian Kehutanan menyebut keberadaan generasi baru harimau menjadi gambaran penting mengenai kondisi ekosistem hutan Indonesia.

Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian hutan sebagai rumah bagi Harimau Sumatra dan berbagai satwa endemik lainnya.

"Setiap anak harimau yang berhasil tumbuh dan bertahan hidup di alam liar adalah harapan bagi masa depan konservasi Indonesia. Kementerian Kehutanan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar Harimau Sumatra tetap menjadi bagian dari kekayaan alam Indonesia untuk generasi mendatang," ujar Satyawan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More