Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AESI Ajak Jurnalis Kawal dan Pahami Transisi Energi Surya

Kota Medan
6 min read
 AESI Ajak Jurnalis Kawal dan Pahami Transisi Energi Surya
Media trainng AESI 2026 terkait diskursus Energi Surya Nasional, Jumat (6/11/2026) (dok.AESI)
  • AESI mengajak jurnalis mengawal Program PLTS 100 GWp yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun, sementara kapasitas terpasang nasional pertengahan 2026 baru sekitar 1,5 GW.
  • Pelatihan hybrid membahas teknis instalasi, skema IPP, regulasi, industri, dan pembiayaan PLTS; keberhasilan program dinilai membutuhkan dukungan publik serta ekosistem industri yang sehat.
  • AESI membuka kompetisi artikel jurnalistik berhadiah total Rp17,75 juta untuk memperdalam liputan PLTS, dengan pengiriman karya berlangsung 6 November hingga 6 Desember 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times – Upaya pemerintah mempercepat transisi energi melalui Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) gencar dilakukan. Untuk itu, Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mengajak jurnalis nasional dan daerah turut mengawal pengembangan proyek PLTS di Indonesia melalui kegiatan Media Training bertajuk “Penguatan Kapasitas Media dalam Diskursus Energi Surya Nasional”.

Program PLTS 100 GWp diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Gilimanuk, Bali, pada 25 Agustus 2026, dengan target pembangunan dalam kurun waktu tiga tahun. Namun, kapasitas terpasang PLTS nasional hingga pertengahan 2026 baru mencapai sekitar 1,5 gigawatt (GW). Kondisi ini menunjukkan besarnya tantangan yang perlu diatasi untuk merealisasikan target tersebut.

Melalui pelatihan yang digelar secara hybrid ini, AESI mempertemukan jurnalis dengan narasumber dari PT PLN (Persero), pelaku industri energi surya, dan lembaga kajian kebijakan iklim. Pembahasan mencakup aspek teknis pembangunan PLTS, perkembangan industri, regulasi, hingga skema pembiayaan proyek.

Ajakan tersebut disampaikan melalui kegiatan Media Training bertajuk “Penguatan Kapasitas Media dalam Diskursus Energi Surya Nasional”, Jumat (6/11/2026) yang digelar hybrid.

Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari, menegaskan bahwa target 100 GWp harus diterjemahkan menjadi langkah konkret yang melibatkan berbagai pihak, termasuk media massa.

“Bagi AESI, 100 GWp adalah ambisi sekaligus mandat kerja. Agar ambisi ini menjadi aksi, pemerintah, pelaku industri, dan publik perlu bergerak bersama untuk memahami dan mengawal setiap prosesnya. Di sinilah rekan-rekan media memegang peran kunci. Kami ingin pemberitaan energi surya menghadirkan cerita yang lebih utuh dari angka target, yaitu manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, mulai dari listrik yang lebih andal, terbukanya lapangan kerja hijau, hingga tumbuhnya ekonomi lokal,” ujar Mada.

  1. 1. Jurnalis Diajak Memahami Proyek PLTS dari Sisi Teknis hingga Pendanaan

    Kegiatan media training AESI 2026 membahas diskursus Energi Surya Nasional pada Jumat, 6 November 2026.
    Media trainng AESI 2026 terkait diskursus Energi Surya Nasional, Jumat (6/11/2026) (dok.AESI)

    Dari sisi teknis, Manager Pengendalian Aneka Energi Baru dan Terbarukan PT PLN (Persero), Joko Purnomo, menjelaskan posisi PLTS sebagai salah satu sumber penambahan pembangkit energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

    Ia juga memaparkan sejumlah jenis instalasi PLTS, mulai dari PLTS atap, ground-mounted atau instalasi di atas permukaan tanah, hingga PLTS terapung. Pemanfaatannya mencakup berbagai sektor, seperti utilitas, komersial dan industri, serta rumah tangga.

    Selain itu, Joko menjelaskan skema Independent Power Producer (IPP), yang memungkinkan pengembang swasta membangun pembangkit listrik dan menjual energi yang dihasilkan kepada PLN.

    Menurutnya, pembangunan proyek PLTS membutuhkan tahapan perencanaan dan pelaksanaan yang melibatkan banyak pihak. Karena itu, pemahaman publik dan dukungan masyarakat diperlukan untuk menunjang keberlanjutan program tersebut.

    “Keberhasilan program kelistrikan sangat memerlukan dukungan publik. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap dapat membangun pemahaman dan sinergi bersama dalam rangka mendukung pengembangan PLTS di Indonesia agar dapat terus tumbuh guna meningkatkan ketahanan energi listrik bagi masyarakat,” ujar Joko.

  2. 2. Ekosistem Industri Surya yang Sehat Jadi Kunci Target 100 GWp

    Pln, plts, solar cell
    Ilustrasi personel PLN sedang melakukan inspeksi panel surya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Momentum 81 tahun PLN menerangi negeri, menjadi refleksi perjalanan kelistrikan sekaligus menegaskan komitmen dalam mewujudkan swasembada energi hijau untuk menggerakkan kehidupan dan kemandirian bangsa. (Dok. PLN)

    Dari perspektif industri, AVP of Public Policy & Government Relations Suryanesia sekaligus pengurus AESI, Zidny Ilman, mengulas perkembangan industri energi surya nasional beserta tantangan yang dihadapi para pengembang proyek.

    Ia menekankan bahwa PLTS tidak bisa dipandang sebatas pembangunan pembangkit. Pengembangannya membutuhkan ekosistem yang saling mendukung, mulai dari regulasi, investasi, pembiayaan, kontraktor pelaksana, hingga manufaktur.

    Zidny menilai, keselarasan kebijakan dan kepastian regulasi menjadi fondasi penting agar seluruh pelaku industri dapat berpartisipasi dalam pengembangan energi surya.

    “Kami percaya kunci dari keberhasilan Program 100 GWp adalah memastikan terciptanya ekosistem industri surya yang sehat. Bagaimana memastikan kerangka regulasi yang dapat diterima dan dijalankan oleh seluruh ekosistem – baik PLN, investor, lender, developer, EPC, dan manufaktur – menjadi langkah pertama yang krusial bagi Program tersebut,” ujar Zidny.

    Dengan ekosistem industri yang kuat, pengembangan PLTS diharapkan tidak hanya mempercepat penambahan kapasitas energi terbarukan, tetapi juga membuka peluang investasi dan mendorong pertumbuhan industri pendukung di dalam negeri.

  3. 3. Pembiayaan Hijau dan Kepercayaan Investor Perlu Diperkuat

    IMG-20260924-WA0001(1).jpg
    PLN Indonesia Power menyiapkan investasi sekitar Rp3,3 triliun untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). (Dok/Istimewa).

    Aspek pendanaan menjadi pembahasan penting lainnya dalam Media Training AESI. Director Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, Tiza Mafira, memaparkan perkembangan pembiayaan proyek PLTS di Indonesia, termasuk peluang memanfaatkan sumber pendanaan hijau global.

    CPI Indonesia merupakan lembaga riset yang menginisiasi Power Sector Finance Dashboard. Dalam pemaparannya, Tiza menjelaskan sejumlah kriteria yang menjadi pertimbangan bank dan investor ketika menilai kelayakan pembiayaan atau bankability sebuah proyek PLTS.

    Menurutnya, kepastian regulasi saja belum cukup untuk mendorong investasi. Investor juga membutuhkan gambaran mengenai potensi pasar, peluang proyek, serta penerimaan masyarakat terhadap pemanfaatan energi surya.

    “Investor membutuhkan kepastian pasar, dan salah satu sumber kepastian itu adalah terlihatnya opsi proyek PLTS beragam serta antusiasme masyarakat yang mulai terlihat di berbagai media. Liputan tentang penghematan biaya listrik, mudahnya pemasangan PLTS, semua ikut mengurangi keraguan pasar. Ini semua menjadi jembatan agar investasi hijau tertarik masuk ke Indonesia,” ujar Tiza.

    Pemberitaan yang informatif dan berbasis data dinilai dapat membantu masyarakat memahami manfaat PLTS sekaligus memberikan gambaran mengenai peluang pengembangannya kepada calon investor. Dengan begitu, media turut berperan dalam membangun kepercayaan terhadap prospek energi surya di Indonesia.

  4. 4. AESI Gelar Kompetisi Menulis Jurnalistik Berhadiah Rp17,75 Juta

    Kegiatan media training AESI 2026 terkait diskursus Energi Surya Nasional pada Jumat, 6 November 2026.
    Media trainng AESI 2026 terkait diskursus Energi Surya Nasional, Jumat (6/11/2026) (dok.AESI)

    AESI juga berupaya memperkuat kolaborasi dengan jurnalis di berbagai wilayah. Melalui kehadirannya di Balikpapan, Bali, Medan, dan Surabaya, organisasi ini ingin menjadi mitra media dalam mengangkat praktik baik pemanfaatan PLTS di tingkat lokal.

    Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkaya pemberitaan energi surya dengan konteks yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Liputan tidak hanya berfokus pada target kapasitas nasional, tetapi juga membahas dampak proyek terhadap kebutuhan listrik, aktivitas ekonomi, serta peluang penciptaan lapangan kerja di daerah.

    Keterlibatan jurnalis daerah dinilai penting karena mereka memiliki kedekatan dengan masyarakat dan memahami dinamika di wilayah tempat proyek energi surya dikembangkan.

    Melalui pemberitaan yang mendalam, masyarakat diharapkan memperoleh informasi yang lebih utuh mengenai manfaat, tantangan, dan perkembangan proyek PLTS di lingkungan mereka.

    Untuk mendorong produksi karya jurnalistik yang mendalam mengenai energi surya, AESI turut membuka Journalist Writing Competition bagi peserta Media Training. Kompetisi ini menawarkan total hadiah sebesar Rp17.750.000.

    Peserta dapat memilih satu dari tiga fokus liputan yang disesuaikan dengan materi diskusi, yaitu eksekusi teknis dan integrasi Battery Energy Storage System (BESS), kebijakan dan regulasi, serta pembiayaan dan kelayakan proyek PLTS.

    Karya yang dilombakan berupa artikel mendalam yang diterbitkan di media cetak maupun daring. Periode pengiriman berlangsung pada 6 November hingga 6 Desember 2026. Peserta dapat mengirimkan karya melalui email comms@aesi.or.id dan energi.eits@gmail.com.

    Melalui program pelatihan dan kompetisi tersebut, AESI berharap semakin banyak jurnalis yang mampu menghasilkan pemberitaan energi surya secara akurat, kritis, dan komprehensif. Dengan dukungan media, pengembangan PLTS di Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi agenda pemerintah dan industri, tetapi juga menjadi isu publik yang dipahami serta diawasi bersama.

    AESI bertujuan mempercepat pemanfaatan energi surya di Indonesia dengan mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat dalam satu wadah kolaborasi.

Related Articles

See More