Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Co-Firing Pakai Limbah Sawit, PLTGU Belawan Kini Lebih Ramah Lingkungan

Kota Medan
6 min read
Co-Firing Pakai Limbah Sawit, PLTGU Belawan Kini Lebih Ramah Lingkungan
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menguji coba pemakaian pertama Compressed Biomethane Gas (CBG) atau bio-CNG pada PLTGU Belawan, Medan, 8 Oktober 2026 (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • PLTGU Belawan menguji coba bio-CNG dari limbah organik, termasuk limbah cair sawit, sejak 8 Oktober 2026 sebagai campuran gas untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil.
  • Porsi bio-CNG saat ini masih di bawah 2 persen, dengan kontribusi kurang dari 1–2 MW; PLN EPI menargetkan bauran 10 persen pada 2030.
  • PLN UP Belawan menjalankan proyek percontohan co-firing nasional, sembari melindungi keanekaragaman hayati melalui larangan perburuan dan penanaman 2.000 pohon setiap tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Sanggar Anak Genius Al-Ikhlas Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatra Utara tak pernah sepi. Setiap hari, sejak jam pulang sekolah, halaman sanggar dipenuhi anak-anak bermain.

Tak hanya bermain, dari halaman sanggar terlihat Pulau Burung yang menawan dengan latar cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Belawan. Ini menjadi daya tarik sendiri bagi anak-anak sekitar Belawan.

“Kami suka main di sini, bisa belajar soal burung-burung, gimana bentuk bangau, kokokan, elang. Banyak sekali burung di sini,” ujar Intan yang ditemuin IDN Times saat bermain di sanggar.

Semakin sore, halaman sanggar yang kebetulan berada di pinggir laut Belawan semakin ramai. Ada ayah yang membawa anaknya melihat pulau burung dan banyak juga remaja datang untuk sekadar berfoto-foto.

Keberadaan cerobong asap dan sutet yang menjulang ke langit di seberang darat tak membuat mereka khawatir. Malah membuat latar pemandangan Pulau Burung jadi lebih menarik.

ARFL4165.JPG
Penampakan Pulau Burung di dekat wilayah operasional PLN NP UP Belawan, Medan, Sumatra Utara (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Lagi pula, PLTGU Belawan sudah menggunakan bauran energi terbarukan dalam operasionalnya. Per 8 Oktober 2026, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) resmi menguji coba pemakaian pertama Compressed Biomethane Gas (CBG) atau bio-CNG pada PLTGU Belawan. Langkah ini menjadi milestone awal dari upaya diversifikasi energi primer melalui pemanfaatan gas terbarukan berbasis limbah organik. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mendukung transisi energi nasional.

Merupakan hasil kolaborasi antara PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), PT PLN Nusantara Power, dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS Group) untuk mendukung kesiapan pasokan, pelaksanaan pengujian, serta pemanfaatan CBG sebagai bahan bakar campuran di PLTGU Belawan.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir menjelaskan porsi bauran CBG yang digunakan saat ini masih tergolong skala kecil. Persentase bauran energi yang dicapai masih berada di bawah 2 persen dari total kebutuhan bahan bakar pembangkit dan akan terus ditingkatkan pada tahun-tahun selanjutnya.

“Dari persentase awal yang berada di bawah 2 persen tersebut, daya listrik yang dihasilkan secara proporsional masih sangat kecil. Estimasi kapasitas terpasang dari kontribusi CBG saat ini berada di bawah 1 hingga 2 megawatt. Pasokan CBG untuk proyek percontohan pertama di Sumatra Utara ini diperoleh dari kerja sama dengan mitra swasta,” katanya pada IDN Times, 8 Oktober 2026.

Guna memperbesar volume pasokan secara mandiri, PLN EPI juga tengah mempersiapkan rencana investasi fasilitas produksi CBG secara independen. Dalam mendukung rantai pasok bahan baku, PLN EPI terus melakukan penjajakan kerja sama dengan pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Langkah ini krusial untuk mengamankan pasokan limbah cair sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai bahan baku utama penghasil gas metan. Metan yang ditangkap dari pengolahan limbah cair POME maupun limbah organik lainnya akan dikompresi menjadi bio-CNG. Gas hasil pemrosesan inilah yang kemudian didistribusikan ke unit-unit PLTGU milik PLN.

IMG_20261103_090804.jpg
Anak-anak bermain di halaman Sanggar Genius Al-Ikhlas Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatra Utara di seberang PLN NP UP Belawan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Hokkop menegaskan program pemanfaatan CBG ini merupakan wujud nyata komitmen perseroan dalam mendukung ekonomi hijau. Pemanfaatan limbah POME secara langsung mengurangi emisi gas metan bebas yang berpotensi merusak lapisan ozon dan memicu efek rumah kaca puluhan kali lebih berbahaya dibanding polusi karbon biasa.

“Potensi pengembangan CBG di Indonesia dinilai sangat besar mengingat terdapat sekitar 3.000 unit PKS yang beroperasi di seluruh wilayah tanah air. Bayangkan kalau 300 PKS saja bisa kita ajak kerjasama, tentu banyak PLTGU yang bisa memanfaatkan CBG-nya,” jelasnya.

Selain di Sumatra Utara, PLN EPI juga telah memetakan potensi pengembangan CBG di beberapa wilayah strategis lainnya. Di antaranya adalah Lampung yang memanfaatkan kotoran hewan, serta Riau dan Kalimantan yang kaya akan potensi limbah cair kelapa sawit.

PLN EPI telah menyusun peta jalan (roadmap) jangka panjang untuk meningkatkan porsi bauran energi terbarukan ini. Perseroan menargetkan porsi bauran bio-CNG dapat meningkat secara bertahap hingga mencapai 10 persen dalam waktu lima tahun ke depan atau pada tahun 2030.

Khusus di PLTGU Belawan yang memiliki kapasitas total sekitar 730 megawatt, target bauran 10 persen diharapkan mampu menyumbang sekitar 7,3 hingga 10 megawatt daya bersih dari CBG. Gas bio-CNG tersebut nantinya dicampur (blending) langsung ke dalam sistem pasokan gas utama pembangkit.

Konsep cofiring CBG ini rencananya akan direplikasi secara nasional pada fasilitas pembangkit gas milik PLN. Terdapat lebih dari 200 unit PLTG, PLTMG, dan PLTGU di seluruh Indonesia yang berpotensi diinjeksi dengan bio-CNG.

“Secara keseluruhan, jika seluruh potensi limbah organik dan POME di Indonesia diutilisasi secara optimal untuk CBG, potensinya mencapai sekitar 3 juta MMBtu per tahun. Hal ini mempertegas peran strategis biomassa dalam mendukung ketahanan energi nasional berbasis ramah lingkungan,” ungkapnya.

ARFL0532 - Copy.JPG
PLN EPI Kick Off Pemanfaatan CBG untuk Cofiring di PLTGU Belawan, Kamis (8/10/2026). (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Senior Manager PLN Nusantara Power UP Belawan, Ince Anjas menjelaskan Co-Firing Bio-CNG di PLN UP Belawan merupakan pilot project di seluruh PLN Indonesia. Hal ini menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap program-program EBT di PLN yang diinisiasi PLN EPI.

“Apa yang kita programkan ini menjadi salah satu inovasi dari UP Belawan yang sama-sama punya kepentingan untuk menyukseskan kegiatan Co-Firing biomassa ini. Mudah-mudahan bisa lebih baik ke depannya dan bisa mencoba lebih tinggi 2 persen,” katanya.

Selanjutnya pihaknya akan mempelajari dampak Co-Firing ini terhadap operasional dan membandingkannya dengan penggunaan batubara. Serta menghitung peluang penggunaan Co-Firing yang lebih besar untuk menyerap produksi Bio-CNG.

“Targetnya penggunaan bauran energi ini semakin tinggi di tahun-tahun berikutnya. Sehingga PLN UP Belawan menjadi perusahaan penghasil energi yang lebih ramah lingkungan dan berdampak baik terhadap lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Ia berharap kedepannya EPI bakal berinvestasi lebih besar lagi untuk energi bersih, baru dan terbarukan. Sehingga bisa menjadi produsen yang bisa melayani seluruh Indonesia.

Terkait keberadaan ribuan burung di pulau seberang lokasi operasional turut terdapat andil dari PLN UP Belawan. Sejak 2024 perusahaan menerbitkan kebijakan perlindungan keanekaragaman hayati.

Salah satu isinya melarang perburuan hewan liar dan perusakan tanaman penghijauan di area sekitar PT PLN Nusantara Power Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Belawan. Serta menanam 2000 pohon dengan varietas berbeda setiap tahunnya di sekitar perusahaan.

Anjas menjelaskan hal ini sebagai bagian dari program kerja yang berkontribusi dan mendukung tercapainya target Tujuan Pembangunanan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Sumatera Utara (USU) M Farhan Rizki, S.AP, M.AP menjelaskan di era digital dan tantangan climate change saat ini, bisnis perusahaan terkhusus BUMN seperti PLN tidak bisa lagi hanya bicara keuntungan semata. Perusahaan harus lebih peduli dengan komunitas sekitar dan punya program ramah lingkungan sebagai bagian mendukung target pemerintah untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

“Eranya sudah berbeda, BUMN wajib untuk peduli terhadap komunitas di sekitarnya dan lingkungan agar keberadaan mereka membawa manfaat. Selain demi keberlanjutan bisnis, ini juga demi keberlanjutan hidup masyarakat sekitar yang lebih baik dan keberlangsungan bumi yang kita tinggali bersama,” katanya, Selasa (3/11/2026).

Memang Negara, tambah Farhan, secara tegas sudah mengatur tentang kewajiban Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR setiap perusahaan. Namun tidak sedikit perusahaan hanya melaksanakannya secara seremoni dan tidak tepat sasaran. Seperti sekadar menanam pohon saja tapi tidak dirawat tumbuhnya.

Ia berharap praktik ramah lingkungan yang diterapkan PLN NP UP Belawan bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain, khususnya BUMN yang ada di Indonesia.

“Bayangkan jika ratusan BUMN dan anak perusahaannya di Indonesia bergerak ke arah yang sama, maka target penurunan emisi gas rumah kaca nasional yang dipatok hingga 42,2 persen dengan komitmen penurunan emisi sebesar 314 hingga 358 juta ton CO2 ekuivalen di tahun 2030 bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Harus juga disertai penetrasi pemerintah ke industri sektor swasta,” jelasnya.

    Related Articles

    See More