Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

'Di Ujung Cula’ Kepunahan Badak Sumatra, Apa Ruginya Buat Kita?

Kota Medan
7 min read
'Di Ujung Cula’ Kepunahan Badak Sumatra, Apa Ruginya Buat Kita?
badak sumatra (commons.wikimedia.org/Willem v Strien)
  • Badak sumatra merupakan spesies purba, langka, dan sangat pemalu yang kini terisolasi di sejumlah kawasan hutan Indonesia.

  • Perburuan, jerat, habitat terfragmentasi, serta reproduksi yang lambat membuat peluang keberlangsungan populasinya semakin rapuh.

  • Kepunahannya dapat mengganggu regenerasi hutan dan ekosistem, sementara konservasi intensif serta teknologi reproduksi terus dijalankan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Coba pejamkan mata. Bayangkan hutan hujan Sumatra jutaan tahun lalu. Di bawah kanopi raksasa, ada satu makhluk purba berjalan santai. Bertubuh gempal. Berbulu lebat. Dua cula menghias bagian wajahnya.

Sekarang buka mata. Merujuk pangkalan data IUCN/SSC Asian Rhino Specialist Group serta publikasi ilmiah Journal of Mammalogy (Rookmaaker et al., 2018), mamalia purba itu ternyata masih hidup di hutan kita hari ini. Badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). Spesies badak terkecil di bumi. Paling purba. Paling langka. Fosil hidup yang berhasil bertahan melewati zaman es.

Tapi, waktu mereka hampir habis. Alarm kepunahan sudah berdering keras. Jika mereka benar-benar lenyap, efek dominonya akan menghantam hutan dan kehidupan kita sendiri. Mengapa spesies ini sangat kritis dan apa jadinya jika kita kehilangan mereka?

  1. 1. Fosil Hidup 'introvert' dari zaman es

    Badak Sumatra (dok. worldwildlife.org)
    Badak Sumatra (dok. worldwildlife.org)

    Mereka bukan badak biasa. Kerabat seumuran mereka sudah lama jadi fosil di museum purbakala. Studi taksonomi molekuler oleh Tougard et al. (2001) dalam jurnal Comptes Rendus de l'Académie des Sciences membuktikan badak sumatra adalah kerabat paling primitif dari seluruh spesies badak modern. Garis evolusinya telah terpisah sejak jutaan tahun lalu.

    Asesmen IUCN Red List (Amato et al., 2013) mencatat bobot dewasanya berkisar 600 hingga 800 kilogram dengan tinggi 1 hingga 1,3 meter. Cula depannya melengkung tajam, sedangkan cula belakangnya sangat pendek bak benjolan. Tubuhnya dipenuhi rambut kasar kecokelatan—satu-satunya badak berambut tebal bak warisan zaman es.

    Namun, bertubuh raksasa bukan berarti mereka buas. Literatur ekologi The Mammals of the Indomalayan Region karya Corbet & Hill (1992) mencatat satwa ini sangat pemalu dan soliter. Mereka menghabiskan hidup di kedalaman hutan hujan primer dataran rendah hingga pegunungan (0–2.500 mdpl), jauh dari bisingnya gergaji mesin dan peradaban manusia.

  2. 2. Miris, kondisinya saat ini terkepung di rimba terakhir

    potret badak Sumatra
    potret badak Sumatra (instagram.com/bocahsawah)

    Dulu, sebaran historis badak sumatra membentang luas dari kaki Himalaya di Assam, Myanmar, Thailand, hingga Semenanjung Malaysia. Hari ini? Mereka jadi tahanan di rumah sendiri. Populasinya hancur berkeping-keping.

    Data resmi Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian LHK (2020–2025) bersama Forum Konservasi Badak Indonesia (FKBI) menunjukkan sisa populasi liar di dunia kini hanya bertahan di tiga lokasi: Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), serta benteng pertahanan terakhir di ujung utara.

    Laporan pemantauan lapangan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan Rhino Protection Unit (RPU) memetakan benteng terakhir itu ada di Kawasan Ekosistem Leuser. Kondisi mereka sangat miris. Terisolasi menjadi populasi kantong (pocket population). Terkurung di antara jurang dan perkebunan monokultur tanpa koridor untuk berpindah.

  3. 3. Tragedi biologis: terlalu lama jomblo berujung kemandulan

    Badak sumatra (commons.wikimedia.org/26Isabella)
    Badak sumatra (commons.wikimedia.org/26Isabella)

    Ini adalah fakta biologis yang paling memilukan. Kajian demografi populasi oleh Zainuddin et al. (2018) dalam jurnal Global Ecology and Conservation mengungkap bahwa badak sumatra adalah mamalia darat dengan sistem reproduksi paling kompleks sekaligus rapuh. Masa kehamilannya memakan waktu 15 hingga 16 bulan, dan betina umumnya hanya melahirkan satu anak setiap 4 hingga 5 tahun.

    Kondisi ini diperparah oleh laporan International Rhino Foundation (IRF) Annual Report (2024). Sifat soliter dan hutan yang terbelah jalan raya membuat peluang pertemuan jantan dan betina di alam bebas nyaris nol. Dampaknya fatal. Badak betina yang terlalu lama menyendiri tanpa kawin akan mengalami kelainan patologis (pathological changes) berupa kista ovarium dan kerusakan dinding rahim. Ujungnya adalah kemandulan permanen. Satu badak mati tanpa berbiak, satu garis keturunan purba terputus selamanya.

  4. 4. Korban jerat senyap dan mitos 'kuku manusia'

    Press rilis Tim Gakkum KLHK terkait tangkapan Cula Badak dan Gading Gajah yang diperjualbelikan dari Favebook (IDN Times/Rangga Erfizal)
    Press rilis Tim Gakkum KLHK terkait tangkapan Cula Badak dan Gading Gajah yang diperjualbelikan dari Favebook (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Musuh terbesar satwa ini bukanlah harimau, melainkan perangkap buatan manusia. Publikasi pakar konservasi Brook et al. (2014) dalam jurnal Conservation Letters serta laporan organisasi pemantau perdagangan satwa TRAFFIC Southeast Asia (Foose & van Strien, 1997) mendokumentasikan bagaimana ribuan jerat kawat baja (wire snare) yang ditebar pemburu liar menjadi algojo senyap di pinggir hutan. Kaki badak terjerat, tulang hancur, dan infeksi parah membunuh mereka secara perlahan.

    Selain jerat, perburuan langsung dipicu oleh mitos pasar gelap. Cula badak sumatra dipercaya secara keliru oleh sindikat pengobatan tradisional di Asia Timur sebagai obat segala penyakit. Padahal, secara analisis kimia medis, cula badak murni tersusun dari serat keratin—zat yang sama persis dengan kuku jari dan rambut manusia.

    Mirisnya, harga cula di pasar gelap bisa mencapai miliaran rupiah per kilogram, yang mendanai sindikat kriminal transnasional demi mengonsumsi "kuku manusia".

  5. 5. Apa ruginya buat kita kalau mereka punah?

    badak sumatra, Delilah (instagram.com/badak.indonesia)
    badak sumatra, Delilah (instagram.com/badak.indonesia)

    Banyak anak muda di perkotaan bertanya: "Kalau badak punah, apa dampaknya buat kehidupan kita?" Berdasarkan studi ekologi kawasan tropis, kepunahan badak akan memicu bencana ekologis beruntun. Kita akan kehilangan arsitek rimba dan Mega-gardener. Lantaran badak sumatra memakan ratusan jenis pucuk tanaman hutan. Sambil menjelajah puluhan kilometer, kotoran mereka menjadi pupuk alami sekaligus penyebar biji-bijian berukuran besar. Tanpa badak, regenerasi alami pohon-pohon raksasa pembuat oksigen di hutan hujan akan terhenti.

    Kemudian, oase ekosistem akan musnah. Kebiasaan badak berendam menciptakan ratusan kubangan lumpur di pedalaman rimba. Kubangan ini berfungsi sebagai pemenuh nutrisi tanah dan sumber air vital bagi ratusan spesies lain saat musim kemarau—mulai dari katak, serangga, hingga mamalia kecil.

    Tidak kalah pentingnya, kepunahan badak akan menjadi bumerang krisis iklim ke perkotaan. Ketika regenerasi vegetasi hutan terganggu akibat hilangnya mega-herbivora, struktur hutan hujan akan rusak. Hutan yang sakit kehilangan kemampuannya menyerap emisi karbon dan menahan laju air hujan. Dampak langsungnya balik ke manusia. Bencana banjir bandang, tanah longsor, kekeringan berkepanjangan, hingga krisis iklim yang makin parah.

  6. 6. 'Bayi tabung' jadi jalan ninja terakhir

    potret badak sumatra Indra bersama induk Delilah (instagram.com/badak.indonesia)
    potret badak sumatra Indra bersama induk Delilah (instagram.com/badak.indonesia)

    Menghadapi situasi darurat ini, strategi perlindungan pasif tidak lagi cukup. Siaran pers resmi Kementerian LHK RI mengonfirmasi bahwa pemerintah bersama konsorsium global (YABI, IRF, WCS, WWF, dan Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research Berlin) telah mengambil langkah revolusioner melalui Emergency Sumatran Rhino Conservation.

    Sebagaimana dipublikasikan dalam Leibniz-IZW Research Reports (2021–2025), fokus utama saat ini digeser ke penyelamatan intensif berbasis teknologi reproduksi buatan (Assisted Reproductive Technology / ART). Melalui Suaka Rhino Sumatra (SRS) di Way Kambas dan TNBBS, para ilmuwan melakukan pengambilan sel telur (ovum pick-up), pematangan di laboratorium, hingga pembuahan buatan—sebuah program "bayi tabung" ekstrem untuk menyelamatkan materi genetik badak terakhir.

  7. 7. Upaya bersama: di mana saja benteng suaka badak sumatra?

    potret badak sumatra Indra bersama induk Delilah (instagram.com/badak.indonesia)
    potret badak sumatra Indra bersama induk Delilah (instagram.com/badak.indonesia)

    Penyelamatan badak sumatra tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ini adalah mega-proyek konservasi kolaboratif. Pemerintah Indonesia bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI), International Rhino Foundation (IRF), dan konsorsium ilmuwan telah membangun benteng perlindungan semi-alami bernama Sumatran Rhino Sanctuary (SRS). Di sinilah badak-badak yang terisolasi dirawat, dilindungi dari pemburu, dan dibantu untuk berbiak.

    SRS tersebar di beberapa titik di Indonesia. Ada SRS Way Kambas yang ada di Lampung. Berdiri di dalam Taman Nasional Way Kambas, SRS Way Kambas menjadi tempat lahirnya generasi baru badak sumatra hasil program pembiakan intensif, seperti Andatu, Delilah, Sedah Mirah, hingga anak-anak badak generasi berikutnya.

    Semudian ada SRS Kelian di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Tak banyak yang tahu, badak sumatra juga punya kantong populasi di pulau Kalimantan. SRS Kutai Barat didirikan khusus sebagai tempat perlindungan dan penyelamatan badak liar Kalimantan (seperti Badak Pahu) agar materi genetiknya tidak punah ditelan pembukaan lahan pertambangan dan perkebunan.

    Terakhir, ada SRS Aceh Timur yang dikelola oleh Forum Konservasi Leuser (FKL). Saat ini, SRS itu masih dalam tahap pembangunan. Sembari membangun sistem dan perencanaan evakuasi badak dari alam liar. Fasilitas ini disiapkan untuk menampung badak-badak dari populasi kantong terisolasi yang tidak lagi memiliki peluang kawin di alam bebas Leuser.

    Secara hukum, benteng legalitas satwa ini sangat kuat. Rujukan CITES Appendices I (UNEP-WCMC, 2024) menetapkan larangan mutlak atas seluruh perdagangan internasional spesimen badak. Di tingkat nasional, satwa ini dilindungi penuh berdasarkan Pasal 21 ayat (2) dan Pasal 40A ayat (1) UU RI Nomor 32 Tahun 2024 serta Permen LHK Nomor P.106/2018.

    Namun, payung hukum dan teknologi canggih tidak akan ada artinya jika rumah alami mereka—koridor hutan Sumatra—terus digerus perkebunan ilegal dan pembukaan jalan.

Related Articles

See More