Design Talk MBDW: Melampaui Kesenjangan Kreatif dan Masa Depan Desain

Design Talk MBDW 26 di Medan menutup rangkaian pameran What If Kesawan yang melibatkan 15 studio lintas disiplin serta sejumlah diskusi dan tur desain.
Iki Sembiring menilai industri kreatif Medan perlu mengandalkan keberagaman budaya, karya daur ulang, dan kolaborasi lintas sosial-ekonomi sebagai kekuatan yang sulit diduplikasi AI.
Rio Purba menyebut AI menekan pasar desainer pemula, tetapi taste dan kemampuan lintas disiplin tetap penting; ruang kolaboratif dinilai mendukung perkembangan ekosistem kreatif Medan.
Medan, IDN Times - Masa depan desain dan kreatifitas di Kota Medan menjadi sorotan dalam Design Talk bertajuk Beyond the Creative Divide yang digelar di Post-Block Medan, Minggu (1/11/2026). Kegiatan tersebut menjadi agenda penutup dari rangkaian Medan Beyond Design Week (MBDW) 26 Daur Rupa dengan tema besar What If Kesawan.
Pameran utama berlangsung sejak 23 Oktober hingga 1 November 2026 dengan melibatkan 15 studio lintas disiplin. Kategori arsitektur diisi oleh A+A Studio, Atlas Design Lab, Calvin Harjono, Deli Design District, FE Associate, Hartono Design Syndicates, Kawan Kesawan, KERA Design Studio, NIL Studio, Saminlavi Studio, Kawan+Kolektif, dan Triadigraha Design. Sementara product design diwakili Recyclo dan Haris Munandar, serta graphic design oleh Alur Creative.
Sebelum sesi penutup, MBDW 26 juga menggelar Group Discussion Environmental Literacy Session bersama IDN Membaca pada 25 Oktober, Walking Tour Hidden in Plain Sight pada 28 Oktober, dan Design Talk What If Kesawan pada 31 Oktober.
1. Menghadapi masa depan, pelaku kreatif di Medan harus membuka sekat sosioekonomi

Medan Beyond Design Week atau MBDW 26 Daur Rupa di Pos Bloc Medan (IDN Times/Indah Permata Sari) Usai sesi diskusi Beyond the Creative Divide atau Melampaui Kesenjangan Kreatif, dua pembicara utama, konten kreator Iki Sembiring dan desainer grafis Rio Purba, membedah arah industri kreatif Medan di tengah gempuran kecerdasan artifisial (AI). Iki Sembiring, yang juga dikenal sebagai mantan musisi dan pegiat literasi kreatif, menilai masa depan desain di Medan tidak dapat bergantung pada AI. Sebab, menurutnya, kekuatan utama justru terletak pada modal kultural.
"Seharusnya industri kreatif Kota Medan itu memanfaatkan modal kultural yang ada di Medan. Keberagaman suku, budaya, itu seharusnya menjadi ciri yang tidak bisa diduplikasi oleh AI," ujar Iki.
Dia menegaskan, untuk menghadapi masa depan, pelaku kreatif di Medan harus membuka sekat-sekat sosioekonomi dan ras, serta meningkatkan kolaborasi lintas disiplin.
"Sudah saatnya kita membuka sekat-sekat sosioekonomi dan ras di Medan agar kita bisa saling tahu satu sama lain kekuatannya apa. Karena kita ini kan sudah di Medan, bukan di Jakarta. Kita harus punya kekuatan kita sendiri. Kalau bergerak sendiri-sendiri tidak akan tercapai keberhasilan itu," katanya.
Terkait tema Daur Rupa yang mengusung isu daur ulang dan handcraft, Iki menilai konsep tersebut justru menjadi pembeda di masa depan. Pasalnya, karya yang dihasilkan AI masih terasa hambar dan seragam.
"AI masih bisa dirasakan orang tasteless. Unpredictability dari kualitas desain itu yang sebenarnya dicari orang. Bukan keseragaman, tapi perbedaan-perbedaan itu tadi," ucapnya.
2. Masa depan desain ditentukan oleh selera atau taste yang tidak dimiliki AI

Medan Beyond Design Week atau MBDW 26 Daur Rupa di Pos Bloc Medan (IDN Times/Indah Permata Sari) Pandangan serupa disampaikan desainer grafis Rio Purba. Pemilik studio desain yang telah tujuh tahun berkecimpung di industri tersebut menilai AI untuk saat ini memang menjadi ancaman, terutama bagi desainer pemula.
"Untuk saat ini memang mengancam. Semua sudah melabeli dirinya bisa bikin desain sendiri. Dampak perang harganya tinggi sekali, pasar di level 200 sampai 500 ribu itu hampir tergusur," ujar Rio.
Namun, ia memprediksi fenomena desain instan tersebut hanya akan menjadi gelembung yang akan pecah dengan sendirinya. Masa depan desain, menurut dia, akan ditentukan oleh selera atau taste yang tidak dimiliki AI.
"AI hanya memanfaatkan templat-templat yang ada di basis datanya. Yang membedakan kita dengan AI adalah tastenya. Kalau teman-teman sudah punya taste tersendiri, itu yang akan memenangkan kita. AI itu hanya sebagai alat, sebagai perpanjangan tangan," kata Rio.
Dia juga mengingatkan bahwa strategi menjadi desainer di masa depan sudah berubah. Desainer tidak lagi cukup hanya membuat logo dan mengunggahnya sebagai portofolio di Instagram.
"Era sudah berubah. Jangan sekadar terlalu fokus di desain. Upgrade diri, belajar dari disiplin ataupun kategori keilmuan yang lain. Gabungkan, ada anak arsitek, fotografer, dan lain-lain. Karena di situlah nanti akan ada peluang-peluang baru," ujarnya.
3. Industri kreatif Medan sudah menunjukkan perkembangan positif dalam dua tahun terakhir

Medan Beyond Design Week atau MBDW 26 Daur Rupa di Pos Bloc Medan (IDN Times/Indah Permata Sari) Sementara itu, terkait ekosistem, Rio menilai industri kreatif Medan sudah menunjukkan perkembangan positif dalam dua tahun terakhir, meskipun masih memiliki banyak pekerjaan rumah dibandingkan kota lain. Kehadiran ruang kolaboratif seperti Post-Block dinilai krusial sebagai penghubung.
Senada, Iki berharap anak muda Medan berani bermimpi setinggi-tingginya dan tidak menjadikan keterbatasan di kota ini sebagai justifikasi kekalahan dalam menghadapi masa depan industri kreatif.
"Anak Medan harus bisa punya mimpi setinggi-tingginya. Jangan jadikan keterbatasan kita di kota ini sebagai justifikasi kekalahan kita," pungkasnya.






















