Sky Salim dan Thomas Iskandar Kupas Strategi Marketing di Medan

Clapham Conversation October di Medan menghadirkan Sky Salim dan Thomas Iskandar untuk membahas strategi marketing yang mendorong pertumbuhan bisnis melalui pengalaman serta kasus nyata.
Sky Salim menekankan TikTok sebagai top funnel dan Instagram sebagai etalase konversi, sambil mendorong pelaku usaha mengukur input-output marketing melalui forecasting.
Thomas Iskandar menyatakan strategi harus disesuaikan dengan lini bisnis dan target pasar; saat daya beli turun, Jestham Group menekan margin agar pelanggan tetap membeli.
Medan, IDN Times – Tren marketing bergerak cepat, tetapi tidak semua strategi mampu menggerakkan bisnis. Menjawab tantangan tersebut, Clapham & Co. kembali menggelar Clapham Conversation October dengan tema Marketing That Moves the Business, pada Sabtu, (31/10/2026) kemarin di Clapham Collective, Komp. Ruko Centre Point Medan, Jalan Timor Blok G No. III/IV, 2nd Floor.
Dua pembicara yang dihadirkan adalah Thomas Iskandar, CEO Jestham Group dan Sky Salim, CEO SkySea.id. Keduanya membagikan pengalaman nyata tentang bagaimana marketing berkontribusi langsung pada pertumbuhan bisnis, bukan sekadar viral.
Dalam sesi ini, peserta diajak memahami cara memilih channel yang relevan, mengevaluasi strategi marketing, hingga mengenali kapan persoalan marketing sebenarnya membutuhkan perbaikan dari sisi bisnis. Diskusi akan berbasis kasus nyata dan pengalaman praktis kedua CEO.
1. Sky Salim Sebut Jangan Samakan Fungsi TikTok dan Instagram

Clapham & Co. kembali menggelar Clapham Conversation October dengan tema Marketing That Moves the Busines (IDN Times/Indah Permata Sari) Menurut Sky Salim, kesalahan fatal pengusaha saat ini adalah menyamakan fungsi semua platform.
"Dulu itu Instagram, TikTok, Facebook semuanya tujuannya untuk bikin konten yang sama, itu kurang tepat. Instagram itu harus jadi bottom funnel atau sebagai etalase untuk mereka nge-chat," kata Sky.
Ia menilai, TikTok berfungsi sebagai top funnel untuk viralitas, sedangkan Instagram menjadi etalase dan tempat terjadinya konversi. Namun, untuk model bisnis seperti SkySea yang sudah terintegrasi dengan TikTok Shop, proses dari menonton hingga pembayaran bisa selesai dalam satu aplikasi.
Sky juga mengajak pelaku usaha untuk mengubah mindset "bakar uang" menjadi forecasting. "Marketing itu cuma dua, input dan output. Kita kerjain apa, bayarin apa, dapatnya apa. Jadi kita harus tahu mau dapetin apa, baru tahu mau bayar seperti apa," ujarnya.
Terkait tren, ia menegaskan pentingnya membedakan branding dan marketing. "Branding adalah branding, marketing adalah marketing. Kita nggak bisa suruh tukang listrik untuk ngerjain pipa air," katanya.
2. Thomas Iskandar Menilai Marketing Tidak Bisa Dipukul Rata

Clapham & Co. kembali menggelar Clapham Conversation October dengan tema Marketing That Moves the Busines (IDN Times/Indah Permata Sari) Sementara itu, Thomas Iskandar menegaskan strategi marketing di JÈSTHAM GROUP tidak bisa disamaratakan karena lini bisnisnya yang beragam, mulai dari manufaktur, MCN, ERP, IT development, hingga beauty and health.
"Pasti strategi marketingnya beda-beda dan berdasarkan target market yang berbeda-beda juga," ujarnya.
3. Strategi saat daya beli yang menurun

Clapham & Co. kembali menggelar Clapham Conversation October dengan tema Marketing That Moves the Busines (IDN Times/Indah Permata Sari) Thomas juga menyoroti banyaknya owner di Medan yang masih menganggap marketing sebagai cost. "Cara satu-satunya untuk meyakinkan adalah nunjukin hasilnya. Tunjukkan proof-nya atau best practice dari kompetitor yang sudah melakukan," katanya.
Di tengah ekonomi yang menantang dan daya beli yang menurun, strategi yang ia lakukan adalah cut margin (pemotongan/penurunan margin keuntungan) agar tetap berkelanjutan dan menjaga agar customer tetap bisa membeli.
Acara ini diharapkan menjadi ruang belajar bagi pemilik bisnis, marketer, dan anak muda di Medan untuk membangun strategi marketing yang lebih terukur dan berkelanjutan.




















